Di senja yang indah. Aku melangkahkan kaki perlahan melintasi garis pantai. Sejenak aku teringat akan memori beberapa tahun yang lalu. Bersama dengan burung – burung di udara yang hendak pulang, anganku pun melayang jauh menuju masa lalu. Kemudian aku tersadar dan berjalan kembali menuju sebuah batu yang tidak jauh dari garis pantai itu. Di atas batu itu aku duduk dan merenung. Setahun telah berlalu. Kemudian aku mengangkat muka dan memandang ke arah matahari yang hampir terbenam. Semilir angin menepuk pundakku. Aku berbalik. Sekilas kupikir aku melihat bayangnya. Kugelengkan kepalaku.

“Tidak mungkin dia… Lagipula dia sudah tidak di kota ini.”

Aku tersenyum untuk pertama kalinya setelah hari itu, dengan senyum yang benar-benar penuh dengan kelegaan.

“Aku bebas,” pikirku dalam hati.

Kutelusuri sepanjang garis pantai itu. Pasir yang berwarna keemasan akibat mentari senja mempesona di mataku. Pasir-pasir yang halus itu disapu arus lautan sehingga menyelinap masuk di antara sela-sela jari kakiku. Air pantai yang mulai mendingin di senja itu mulai terasa di kakiku. Sungguh, indahnya persahabatan yang tercipta di sini takkan pernah terlupakan selamanya.

Advertisement

Kemudian aku melangkah kembali ke arah batu yang tadi kududuki. Kuletakkan pantatku kembali dengan pelan di atasnya. Dari jauh aku melihat beberapa burung air sedang bercengkerama, begitu mesra dan begitu indah. Rasa-rasanya dulu aku pernah berbincang-bincang dengan dia tentang burung-burung itu, tapi saat ini aku sudah benar-benar lupa akan semuanya itu.

“Kenangan tentang sahabat lama telah habis diterjang arus laut sepanjang garis pantai,” kataku dalam hati.

Aku menarik napas dalam. Kutatap sekali lagi mentari senja yang hampir hilang di balik gunung. Aku merasakan wajahku seakan dibelai lembut sinar keemasan dari mentari senja yang hendak terbenam itu. Di dekat kakiku ada juga beberapa bintang laut dan kerang yang tergeletak. Aku mengambil beberapa bintang laut dan kerang.

“Semoga ini adalah pertanda bahwa aku akan menemukan kembali bintang kejoraku yang sesungguhnya,” ucapku dalam hati sambil memandang ke bintang laut yang ada di tanganku.

Sesaat kurasakan angin yang kuat dari sisi kananku. Refleks kututup mata sebelah kananku karena debu-debu yang terbang bersama angin itu. Sebelah tangan kuangkat untuk melindungi wajahku dari terpaan angin saat itu. Beberapa lembar daun yang terbawa dari kejauhan menari di atas udara bersama dengan angin nakal itu. Semilir angin menari di sekitarku, meliliti tubuhku dan terbang ke atas. Kuhirup udara waktu itu hingga relung hidungku terasa penuh. Kututup mataku dan kulihat dengan hatiku jauh ke atas, di antara awan-awan berwarna keemasan.

Ombak–ombak pantai terkadang datang dan menghantam diriku, angin mulai kencang, laut mulai pasang. Pakaianku basah, rambutku mulai terasa lengket karena air laut, tetapi semuanya itu tidak mengurangi kebahagiaan ku hari itu. Perasaan lega yang kuterima setelah sekian lama. Kulepaskan tawaku bersama burung-burung yang terbang bersama dengan indahnya ke arah matahari terbenam. Kupandangi burung -burung itu dengan tersenyum, bayangan kuning keemasan dari matahari terbenam tercermin di bola mataku.

“Kenangan darimu kulepaskan bersama burung -burung yang terbang menuju matahari terbenam…” bisikku sambil menatap burung-burung itu.

Matahari yang terbenam dan tetes–tetes air yang turun secara perlahan dan lembut, burung–burung di udara yang terbang beriringan menuju ke garis horizon, ikan–ikan yang melompat di kejauhan, suara alam yang merdu menerpa dari segala penjuru, angin yang terbang ke garis horizon teratas. Adakah keindahan yang melebihi semua ini? Bahkan hati yang hancur pun tetap dapat merasakan keindahan dari semua ini. Karya yang indah dari Sang Pelukis Agung.

Itulah memori biru persahabatan yang telah terhempas arus dan terbenan terkubur pasir.