Untukmu yang akan jauh Berlayar, Salam rindu bagimu, semoga kau mengerti

Jatuh hati, memang bukan hal yang begitu baru buatku, namun kali ini begitu berbeda. Mungkin karena kamu juga memberiku warna yang berbeda. Ingin ku ulang sekali lagi di bulan September. Untuk ku kisahkan tentang ‘delapanbelas’ yang kusebut Rindu.

Aku sudah dan selalu berusaha untuk merelakan. Sejak awal kusadari ada perasaan yang merona disudut hati. Berusaha merelakan perasaan itu terkulai, jauh sebelum ku tahu bahwa kau juga sama sepertiku. Aku hanya mampu membeku dalam diam diantara mereka yang juga jatuh hati padamu, rasanya tak mungkin kau akan mengenalku hanya dalam empat hari, saat kau dan aku ada bersama, di gedung itu, september lalu.

Aku bahkan tak patut untuk sekedar berharap begitu.

Aku selalu berusaha untuk memendam dan mengabaikan segala rasa yang nampaknya mulai tertanam dan mengakar. Namun, memendam perasaan sama halnya dengan menggali palung dihati, setiap kali semakin dalam. Seperti menguak luka yang kian menganga.

Advertisement

Inginku melangkah, melarikan hati, meski aku tahu itu tak berarti membebaskan hati. Berdalih untuk menemui setangkai rasa yang mulai mengakar di sudut hati memastikan bahwa ia betah bersembunyi dan cukup walau disudut hati. Namun, semakin kugali palung itu, semakin nyata rindu itu menggema. Dan entah bagaimana harus kusuarakan gema rindu itu. Rindu yang selalu berbisik, membuatku mulai berharap dan menanti. Gema rindu yang selalu ingin ku acuhkan, yang selalu ingin kubiarkan gaungnya tak terdengar.

Meski nyatanya ketidaksangkaanku tak beralasan, ketika sepucuk kertas putih datang padaku, menyuarakan suara hatimu yang membuatku semakin tak menyangka, benarkah semua ini? Benarkah yang kau nyatakan itu?

Aku tetap tak berani berharap, bahkan tuk sekedar mendapat salam rindu, aku masih tetap diam, menyelam dalam diam setiap kali aku bertemu, berada dihadapanmu.

Aku tak ingin berharap tuk sekedar melihatmu menyapaku lewat pandang itu. Cukup, itu cukup. Memandang langkah sayumu dari kejauhan tuk sekedar memastikan kau ada dan baik-baik saja.

Dan saat kau tiba membawa setangkai hati berkuncup rindu, bersama itu pula aku mulai ragu. Kau datang dan pergi, tiba dan menghilang kembali begitu saja. Aku berpikir mungkin kau ingin habiskan waktumu bersama keluargamu sebelum kau benar-benar terbang meninggalkan mereka ke utara Sumatera. Mungkin kau ingin habiskan waktumu tuk lakukan apapun yang kau suka, sebelum kau benar pergi untuk waktu yang lama. Mungkin kau hanya ingin menghabiskan waktumu tuk sekedar bercanda dengan keluargamu dan kau tak ingin diganggu,mungkin, mungkin dan mungkin

Sampai akhirnya, kau benar-benar menghilang lagi.

Mungkin aku salah mengartikan semua tentangmu, mungkin aku salah bersikap atau apa. Terkadang hal-hal bodoh yang pernah terjadi menjadi sebuah kenangan hambar, bukan lagi menjadi sesuatu yang dirindukan.

Entah bagaimana perasaan itu berubah, setelah melalui ratusan hari, entah di detik keberapa aku masih melihatmu kini menjadi sesuatu yang begitu bersinar. Menyadari bahwa aku akan menghadapi kenyataan bahwa kau akan berlayar lebih jauh, mengurai jarak yang begitu nyata, aku tahu mungkin jarak akan mampu menghapus rasa dihatimu. Namun bagiku jarak akan selalu mengundang rindu, rindu akan segalanya tentangmu.

Engkau tak pernah tahu dan takkan pernah tahu. Aku akan tetap berusaha tuk menenggelamkan segalanya, sedalam-dalamnya bahkan sampai aku tak lagi mampu melihatnya. Sepucuk rindu itu entah kan kubawa kemana, hanya kubiarkan ia layu karena tak sempat mekar. Ya, membiarkan pucuk rindu itu layu, rapuh dan lantas terkulai kumuh, biarlah ia jatuh tanpa pernah punya harapan untuk mekar.

Dan kini, biarlah semuanya seperti semula, seperti saat kita tak saling tahu bahwa kita sama-sama jatuh hati.

Biarlah semuanya hanya menjadi bahasa hati tanpa pernah saling tahu.

Biarlah semuanya mengalir dalam hening tanpa perlu merepotkan benak hanya karena kehadiran rasa.

Biar saja kita jalan masing-masing, kau dengan kesibukanmu dan aku dengan segala rutinitasku tanpa harus selalu berbagi. Biarlah rasa dan rindu itu tersimpan rapi, tak usah dibagi. Hanya perlu dijaga, tanpa banyak yang tahu. Cukup dihati semua itu tersimpan rapi.

Kau tak perlu tahu bahwa aku juga rindu. Dan kurasa semuanya tak perlu terungkap terlalu jelas, biar saja semuanya kembali seperti awal, awal yang apa adanya. Biar aku belajar merelakanmu setulus hati. Karena aku hanya tak ingin kehilangan seseorang yang memang seharusnya bukan untukku. Aku hanya tak ingin menggenggam apa yang memang seharusnya tak pernah ku sentuh.

Merelakanmu bukan berarti melupakan, hanya berhenti mengharapkan. Ya, berhenti mengharapkan apapun atasmu. Ku titipkan salam rindu dari senja di kota santri untukmu yang akan berlabuh di utara Sumatera. Biar waktu yang kembalikan kita bertemu.