Tik..tok..tik..tok..

Dentingan waktu seakan mengiringi debar jantungku, darahku selalu berdesir ketika tim wawancara memanggil satu persatu dari peserta pelamar kerja. Aku tak henti melirik arloji di tangan, seakan waktu sedang memburuku, sesekali aku membolak balik berkas yang sudah dari rumah ku susun rapi. Ada apa denganku? apa ini sindrom yang biasa menyerang mereka yang akan wawancara kerja?

Aku melirik kiri dan kanan, ckckck ramai juga sainganku. Ruang tunggu yang jauh lebih besar dari ruang tamu rumahku saja sesak dibuatnya. Macam-macam pula tingkahnya, ada sekelompok perempuan tepat di depanku, mereka sibuk bercengkrama, di arah kananku ada dua orang laki-laki yang asik bercerita dan sesekali tertawa renyah tanpa peduli dimana mereka berada, ada sebagian duduk sendiri, tapi lebih banyak yang sibuk dengan gatget nya masing-masing. Sedang aku, duduk sendiri di salah satu kursi yang disediakan diruang tunggu, sambil menata degub jantung yang terkadang menurutku nyaris terdengar keluar.

Waktu terus berjalan, satu persatu penunggu di ruang ini berkurang, hingga tak kusadari hanya tersisa 10 dari jumlah yang saat pagi melebihi seratus. aku kembali melihat kiri dan kanan, sekelompok perempuan di depanku tadi hanya tinggal sendiri, dia tampak asik menepuk-nepukkan spon bedak ke wajahnya. Sontak aku pun tersadar, delapan jam lebih sudah aku mengantri di sini, pasti penampilanku sudah tak seindah pagi. Pikiranku berputar, aku langsung berdiri dan memanfaatkan dinding kaca yang tepat di depanku, tak ada yang berubah, hanya posisi jilbabku yang sedikit miring.

“sudah cantik mbak”

Advertisement

Suara itu spontan membuatku menoleh, walaupun aku tidak cantik tapi aku begitu sombong bahwa kata-kata itu ditujukan untukku, aku mendapati lelaki yang duduk di samping kananku, ah bukannya itu laki-laki yang dari tadi asyik tertawa dengan temannya. Tanpa ragu dia melempar senyum untukku. Tampan memang, tapi apa iya dia seramah itu? Kalau dia bukan tipe yang ramah, untuk apa dia berkata seperti itu, atau dia terpesona denganku, mungkin saja. Tapi apa aku cukup cantik untuk menarik perhatiannya. Ah! aku bukan pemakan rayuan jalanan, Aku tersenyum kecut, melambangkan pertahanan diri.

"sudah cantik mbak" kata laki-laki itu lagi.

"terimakasih"

Bukan, itu bukan suaraku, tapi mbak itu.

ternyata tanpa ku sadari ada seorang perempuan cantik di sampingku, sangat cantik, yang sedari tadi juga sibuk merapikan dandanannya di depan kaca.

'Gubrak'