Seringkali jarak dijadikan alasan bagi mereka yang tidak tahan dan ingin meninggalkan. Padahal jarak adalah alasan lain dari menabung rindu, untuk bertemu di hari kemudian.

Dahulu, aku menganggapmu sebagai rumah. Tempat aku menghabiskan rindu saat kembali dari perantauan, yang sebelumnya kutabung dalam jarak.

Hari ini hujan turun deras sekali. Seperti mengerti keadaan hati saat aku teringat kau kembali. Aku bersembunyi dibalik airmata yang tiba-tiba turun sendiri. Tidak ingin lari, dan pura-pura tidak rindu lagi.

Bagaimana kabarmu? Apakah kau sudah bahagia terlepas dari jeratan rindu yang berbalut waktu? Atau, kau sudah menemukan pengganti baru; yang tidak perlu bertengkar dengan jarak apabila kembali rindu.

Dahulu, rindu hanya untukku, sebelum kau mulai mempermasalahkan tentang jarak dan waktu. Aku memutuskan pergi bukan tanpa alasan, aku sedang memantaskan diri, agar kelak dapat menjadi wanita idaman untukmu. Lalu, kau tanpa sepatah kata pergi meninggalkanku yang masih diam tergugu menatap punggungmu. Kau hilang meninggalkan setumpuk pilu.

Rumahku telah runtuh, bersamaku yang tetap diam membisu.

Ada satu hal yang ingin aku tanyakan; Pernahkah sekali saja kau memikirkanku? Atau kau telah menghapus semua tentangku dari ingatannmu?

Advertisement

Jujur saja, aku masih memikirkanmu. Membangkitkan memoar-memoar dalam ingatan membentuk sebuah rindu akan kenangan tentangmu. Salahkah aku?

Aku sering berharap, suatu saat diriku akan melintas lagi dalam benakmu. Memanggilmu untuk menggali cerita-cerita lama penuh romantisme kita berdua. Lalu setelah kau menemukan cinta untukku, kau akan kembali mengobati luka menganga dengan membawa seikat bunga, menawarkanku sebuah hubungan baru sebagai jawaban kesempatan kedua.

Tapi itu hanya harapan, kemungkinan-kemungkinan yang selalu memiliki jawaban tidak pasti. Seperti perpisahan, yang mungkin tidak akan bisa disatukan kembali menjadi semula yang rapi.

Pada waktu-waktu penuh pengharapan, aku membuat sebuah jeda untukmu. Supaya kau bisa mengingat kembali, bahwa aku masih disini, setia dengan hati. Aku tidak apa-apa dengan jeda yang lama, tapi aku menginginkan titik sebagai akhirnya. Seperti, kau akan menyadari suatu ruang yang kosong dan satu-satunya alasan logis adalah menginginkanku kembali lalu merajut asa berdua sampai akhir nanti.

Langit luas berbalut mendung akhirnya datang lagi. Bahwa harapan sejatinya adalah bayang ilusi.

Nostalgia pada buku lama; Membuka setiap lembar yang penuh cerita.

Aku mengawali buku itu dengan namaku dan namamu, kisah kita berdua yang tidak bosan untuk aku tuliskan. Dibeberapa lembar awal, ada begitu banyak cerita bahagia. Hanya ada kau dan aku yang tengah berputar pada roda kehidupan beralaskan cinta. Lalu dilembar-lembar berikutnya, ada rasa hambar yang mulai hadir tanpa kita berdua sadari; Kau yang sibuk mencari alasan jatuh cinta kembali, dan aku yang tetap sama, jatuh cinta denganmu berkali-kali. Kemudian di lembar akhir, yang aku tidak pernah sadari sama sekali, bahwa kau sudah akan pergi bahkan sebelum aku mencoba menahanmu untuk tetap disini, menemani sepi yang akhirnya kembali sepi.

Menutup buku lama, tidak semudah menutup hati yang masih berharap kau 'tuk kembali. Maka, cobalah untuk kau baca nostalgia-ku ini, agar kau tahu betapa sakit hati ini yang telah tertutup oleh butanya cinta yang kau beri.

Berbicara rindu memang tidak pernah ada habisnya. Mungkin karena rindu itu kekal? Sehingga berjibaku adalah jalan satu-satunya. Kemudian tidak bisa lepas adalah resiko yang harus diterima. Seperti candu, yang walau dicoba untuk henti berkali-kali, pasti akan tetap berada disana. Mengejekmu yang terus-menerus mengingat segala hal tentangnya.

Dari pena yang pernah menulis pada buku lama, dia masih cinta.