Yogyakarta, untuk kebanyakan orang di luar sana mendengar nama Yogyakarta identik dengan kota destinasi wisata dengan beragam hal yang ditawarkan di dalamnya, tetapi untukku Yogyakarta merupakan rumah kedua. Tempatku menimba ilmu, mengenal persahabatan, menjalani suka duka suatu kehidupan dan kota yang terkenal dengan nama kota istimewa itu pun merupakan tempatku mengenal cinta, dia dan dia.

Dia, sosok yang memiliki arti khusus untukku. Singkat cerita aku mengenalnya sekitar satu tahun lalu berawal dari obrolan santai dan tercetus pertanyaan “kenal dia gak?” lalu spontan aku menjawab “tidak, siapa dia?” kukira sudah selesai di situ saja tetapi nyatanya tidak. Semesta seakan menggiringku pada hal ajaib yang tidak terpikir olehku sebelumnya.
Beberapa bulan setelah pertanyaan temanku itu siapa sangka ternyata aku mulai mengenalnya dan yang lebih lucu lagi ternyata kami berada di lingkungan yang sama.

Benar benar Lucu, aneh, apa apaan ini?” pikirku kala itu. Aku masih tidak mengerti apa maksud semua ini, saat itu aku hanya menikmati rasa yang sudah lama tidak kurasakan. Gelisah, senang, rindu, jengkel semua bercampur menjadi satu. Aku jatuh cinta? Mungkin. Seakan semua berlalu begitu saja, cepat dan tidak bisa aku hindari, bagiku saat itu semua yang berkaitan tentangnya seolah memacu jantungku berdetak lebih cepat.

Hingga satu titik aku tersadar bahwa semua hanya tentang aku, aku dan aku. Aku yang merasakan dan aku yang menanggung akibatnya. Orang bilang jika kau berani jatuh cinta maka kau harus pula siap menanggung sakitnya. Aku jatuh cinta dalam diam dan seorang diri. Aku seolah selalu mencari celah d imana aku bisa masuk tetapi tetap saja tidak kutemukan.

Dalam diam aku jatuh cinta. Dalam diam aku melantukan doa untuknya. Dalam diam aku mengharapkan yang terbaik untuknya dan tetap dalam diam aku berkata pada diriku bahwa aku tidak pernah menyesal mengenal bahkan jatuh cinta dalam diam. Sudah cukup bagiku untuk melihat dari celah kecil yang tercipta bahwa tidak pernah ada aku disana dan sudah saatnya bagiku untuk pergi, untuk melangkah, untuk melanjutkan hidupku.

Advertisement

Dalam diamku saat ini kembali aku ucapkan terima kasih sudah pernah menjadi warna yang menghiasi halamanku dan akan kutinggalkan sepotong hatiku untukmu yg teristimewa di kota istimewa.