Pagi itu hujan turun dengan deras, aku melihat keluar jendela dengan malas. Kenapa harus hujan sih? Semua rencanaku untuk berakhir pekan jadi berantakkan. Apa yang harus kulakukan sekarang? Membaca buku? Sepertinya semua buku yang ada di rak sudah kubaca. Menonton anime favorite? Sepertinya belum ada episode baru. Bermain biola, kedengarannya menarik, tapi aku sedang malas melakukannya. Atau aku membaca artikel di Hipwee saja? Tapi apa kategori yang inginku baca? Atau aku tidur saja? Berbagai macam pertanyaan muncul di kepalaku dan kujawab sendiri.

Ku lirik ponselku yang sedang tidur tenang dimeja, hening, tak ada suara sama sekali. Tiba – tiba, ide cemerlang melintas di kepalaku. Bergegas kuambil tas kecil yang tergantung di belakang pintu, memasukkan ponsel dan dompet, mengambil payung dan tak lupa pamit pada mama dan papa.

"Jangan pulang terlalu malam, Naoru." pesan mama

"Hati – hati dijalan," sambung papa

"Terima kasih, ma, pa. Aku pergi dulu."

Advertisement

Sepuluh menit kemudian, aku menaiki tangga dan menuju kamar yang sudah ku hapal diluar kepala.

"Yuuhuu,Kusari. Aku datang. Kau sedang apa?" begitu aku masuk ke kamar itu, alunan River Flows in You dari Yiruma menyambutku.

Kusari tampak tidak terganggu sama sekali, dia hanya berbalik, mengacak rambut hitamnya, dan tatapan mata birunya seolah berkata,"Tidak bisakah kau mengetuk pintu dulu? Dan apa yang kau lakukan dikamarku?"

"Mamamu menyuruhku untuk langsung ke kamarmu," aku berbalik dan duduk di pinggir spring bed-nya, seperti biasa kamar Kusari rapi, sama sekali tidak kelihatan seperti kamar cowok.

Kusari kembali menghadap meja belajarnya, rangking 1 Se – SMA memang beda.

“Jangan bilang kau ke sini karena belum mengerjakan pe-er.”

“Bukan karena itu,” aku terdiam sejenak,” Baiklah, setengahnya karena itu.”

“Setengahnya lagi?”

“Aku bosan berada di rumah, padahal aku berencana berenang dengan Jenny dan yang lainnya.”

Terdengar suara Kusari tertawa, kelihatannya dia senang sekali karena rencanaku batal.

Kusari adalah sahabat baikku sejak kecil, kedua orangtua kami bersahabat. Rumah kami juga tidak jauh, rumahnya hanya berjarak lima rumah dari rumahku. Dan menjadi hal yang biasa jika aku langsung masuk ke kamarnya seperti kamarku sendiri. Ku lihat laptop – nya terbuka, banyak folder – folder musik instrumen di layar.

Aku memperhatikannya sejenak, apa yang sedang dia tulis? Sepertinya senang sekali, karena sesekali dia tersenyum. Perlahan aku mendekatinya dari belakang untuk melihat apa yang di tulisnya.

“Apa yang sedang kau lakukan, Naoru?” Kusari menoleh tepat saat aku sudah berada di belakangnya.

“Aku hanya penasaran, apa yang sedang kau tulis?”

Kusari kembali fokus pada kertas di depannya,” aku sedang menulis surat.”

“Oh, untuk sahabat penamu? Kusari, zaman sudah semakin canggih. Untuk apa kau menulis surat? Kau bisa langsung meneleponnya saja.”

“Aku menulis surat untuk diriku sendiri di masa depan.”

"Menulis surat untuk diri sendiri di masa depan? Hem, itu pemikiran yang aneh, Kusari." Aku menarik kursi lain yang ada di kamar itu dan duduk di sebelah kirinya.

Kusari menatapku,” Kau tahu, terkadang kita lupa ada berapa banyak kejadian yang terjadi di kehidupan kita, bisakah kau mengingat semuanya? Mungkin kau hanya akan ingat sebagian saja dan sebagiannya lagi hanya ingatan yang buram. Jika kau menulis kejadian itu, kau akan mengingatnya saat membacanya kembali.”

“ Itu pe-er kita yang mana?” tanyaku sambil merapikan rambut hitamku yang jatuh ke bahu, oke aku tahu dia memang pintar, tapi mendengar dia berkata seperti itu membuatku heran.

“Ini bukan pe-er, aku hanya ingin membuat sesuatu yang bisa ku ingat saja.” Dia melipat surat itu dan memasukkannya ke dalam amplop, di atasnya tertulis ‘Untuk Kusari di Masa Depan’

“Semacam diary?”

“Begitulah.”

“Tapi itu terdengar lucu untukku, Kusari.” Aku tertawa sejenak,” Membayangkan kau menulis seperti ini setiap hari.”

“Naoru,” kali ini Kusari merubah posisi duduknya, berhadapan denganku,” Lebih dari itu, kau harus menutup pintu kamarku dari luar.”

Terjemahan lain dari ucapannya, kenapa kau tidak pulang saja?

“Aku hanya bercanda, Kusari. Dan kau dingin sekali, masa ada tamu datang tidak di suguhi minuman?”

Kusari bangkit dari duduknya,” Kau tamu yang tidak diundang, tahu. mau minum apa?”

“Hem, es jeruk saja. Jangan lupa biskuit ya.”

Kusari tidak menjawab dan langsung keluar dari kamarnya, aku bangkit dari dudukku dan berjalan mendekati rak buku. Wah, asyik. Ada buku baru, aku mulai membuka buku itu, selembar kertas jatuh, aku segera memungutnya. Tulisan tangan yang rapi dan aku tidak mengenal tulisan itu.

Sebuah Surat

Untuk Kak Kusari,

Seperti yang kakak bilang, aku harus mulai menulis setiap hari dan aku melakukannya. Kakak sedang apa sekarang?

Aku sudah menulis surat untuk diriku di masa depan, sudah sampai seratus buah surat. Nanti kita baca bersama ya, kak.

Kak, seperti aku merasa kesadaranku semakin menipis, rasanya aku mulai melupakan banyak hal penting. Jika aku membaca surat – surat itu, aku akan ingat lagi kan, kak?

Aku ingat hari ini kakak bilang akan menjengukku, sementara menunggu aku akan tidur sebentar.

Jika nanti aku terbangun, kakak sudah harus ada di dekatku, ya. Aku sayang kakak.

Samarinda, 03 Maret 20xx

Lucia

Siapa Lucia?

Aku tersentak kaget saat Kusari menepuk bahu kananku dari belakang, refleks buku dan kertas itu terlepas dari peganganku dan berhamburan di lantai.

“Apa yang kau lakukan, Naoru?” Kusari segera memungut buku dan kertas itu.

“Siapa Lucia?” aku merasa penasaran, seingatku tidak ada teman sekelas atau teman seusia kami yang bernama Lucia.

“Oh, dia adik sepupuku. Kamu memang tidak pernah bertemu dengannya, dia sejak kecil tubuhnya lemah, jadi lebih sering berada di rumah sakit. Ini surat yang dia selipkan di buku yang ku pinjamkan padanya. Tulisan terakhir sebelum dia koma dua bulan yang lalu.” Kusari menjelaskan padaku.

Tiba – tiba hal itu membuatku berpikir. Mungkin Kusari benar, jika kau menulis apa yang terjadi, dan terjadi hal yang tidak kau inginkan, mungkin kau akan ingat jika kau membaca tulisanmu sendiri.

“Kusari, boleh aku pinjam kertas, amplop dan penamu?”

“Tentu, pakai saja.”

“Dan jangan coba – coba melihat apa yang ku tulis.”

“Ya, ya!” hanya itu jawaban Kusari.

Aku segera duduk di depan meja Kusari, dan mulai menulis.

Samarinda, 25 April 20xx

Untuk Diriku di Masa Depan

Hai, apa kabarmu hari ini?

Ku harap kau baik – baik saja. Mungkin kau merasa aneh membaca surat itu.

Jangan khawatir, aku juga merasakan hal yang sama saat menulis surat ini. Surat pertama yang ku tulis untuk diriku sendiri. Kau tahu, ini ide dari Kusari.

Saat ini, aku sedang berada di kamar Kusari. Seperti biasa, berbicara banyak, berdebat, mendengarkan musik dan makan. Kamarnya selalu jadi tempat favorite ku untuk menghilangkan kejenuhan setiap hari.

Kau pasti berpikir, aku suka pada Kusari. Saat ini, aku belum menyadarinya. Mungkin nanti kita akan tahu, biar waktu saja yang membuktikan.

Oh ya, mulai hari ini, aku akan menulis surat untukmu setiap hari, salam sayang, Naoru.

Dari Naoru di Masa Lalu

Aku melipat surat itu dan memasukkannya ke amplop, hujan di luar mulai berhenti.

“Apa yang akan kau tulis di amplopnya?” tanya Kusari yang entah sejak kapan sudah berdiri di belakangku.

“Kau melihat apa yang ku tulis?” aku segera berbalik

“Sedikit. Tapi aku tidak akan bilang siapa – siapa kok.” Kusari tersenyum,” Jadi apa yang akan kau tulis di amplopnya?”

Aku ikut tersenyum,”Untuk Diriku di Masa Depan.”

Di luar hujan sudah reda sepenuhnya, matahari dan langit biru mulai kelihatan. Yah, aku rasa akhir pekanku tidak sepenuhnya berantakkan.