Setahun yang lalu, dalam sebuah Kapela indah nan cantik yang dipenuhi hiasan khas Natal. Aku tak begitu tahu apa yang sebenarnya aku inginkan untuk Natal sekaligus tahun baru. Aku lalu teringat akan sosokmu yang beberapa bulan sempat menghiasi segala lamunanku. Setelah perayaan Natal selesai, aku berlutut di hadapan-Nya, aku berdoa. Kusebut namamu dalam doaku untuk pertama kalinya. Aku memohon, “Bila Tuhan berkenan, mohon agar diberi kesempatan untuk mengenalmu lebih dekat”.

Aku merasa iri pada mereka yang berada di sekitarmu, kau bukan siapa-siapa, tapi entah apa yang ada dalam dirimu yang membuatku tertarik untuk mengenalmu lebih dekat. Mungkin karena sifat dan sikapmu. Saat kita tak sengaja bertemu, aku masa bodoh seperti biasanya, tapi saat pertemuan itu terjadi berkali-kali, sifat masa bodoh itu lenyap entah ke mana dan untungnya kau pun demikian. Tapi itu tak mengubah apapun.

Setahun telah berlalu, entah berapa kali namamu muncul dalam doaku, sampai suatu hari aku berhenti. Kuhapus namamu dari dalam doaku, biarlah hanya keluargaku dan kenalanku saja. Aku tersadar, bahwa mungkin doaku sudah terjawab. Mungkin kamu bukan orang yang Tuhan rencanakan untuk mengisi hariku, tapi yang lain. Bisa jadi perkara waktu, aku mungkin kurang sabar menanti rencana Tuhan.

Setahun telah berlalu, aku masih terbayang kejadian dulu itu. Aku sangat yakin kita bisa bersama, aku bisa membayangkan bagaimana hidupku akan berubah bila kita bersama. Khayalan yang dulu itu kini menjadi bahan lelucon untuk diriku sendiri. Aku tertawa bila ingat hal bodoh itu, sekaligus miris dengan diriku sendiri. Karena itu semua aku belajar,

jangan terlalu berlebihan dalam berekspektasi, karena kenyataan punya skenario sendiri