Mungkin aku hanya seorang penulis liar yang kau anggap sebagai penulis yang senda sendu dan sedan

Jika aku memilih mungkin aku masih inginkan kamu

Jika tidak, aku hanya pergi dengan senyuman

Setidaknya pergi dengan tulisan-tulisanku tentangmu

Mencintai tulisanku sendiri adalah baik

Kau tak perlu melihatnya, membaca atau terpana karena aku tak butuh itu.

Lebih baik kau sibukkan saja tentang duniamu dan tak perlu lagi kau kicau dan marah akan tulisanku yang lusuh dan tak pernah berarti bagimu

Sungguh aku malu pada duniamu yang tak pernah ternilai baik untukmu

Kau dulu mempertahankan aku sedangkan aku melepasmu

Namun kini aku mempertahankanmu dan kau melepasku

Apa ini yang namanya karma

Seketika karma ini adalah keluhan hati yang menyakitkan

Dalam senja yang kau buat sendiri menerangkan dalam keluhan dan desah yang tersembunyi

Dengarlah sayang, jika kau ingin berkata katakanlah sesukamu padaku hingga kau bosan memakiku, agar bukan diam jawabmu, bukan cuek keluhanmu bahkan bukan marah yang mengegoiskanmu

Berkatalah sebaik-baiknya perkataan, karena dengan diam bukan berarti aku memiliki indera keenam untuk membaca semua fikirmu

Mewujudkan semua inginmu bahkan disaat aku egois kaupun egois hingga aku yang menjadi lunakpun kau malah menginjak-injak aku seketika dengan sikapmu itu

Sikapmu telah mengusirku dengan bijak

Selayaknya bijakan kaki yang kau daki diatas gunung itu dengan rapi, dengan santai, tawa dan candamu bersama mereka sahabat-sahabatmu

Lalu disinggasana kau mulai merasa kelelahan, kerikil-kerikil tajam menghampiri hingga kau sampai di puncak dengan indah

Ingatlah sayang, anggap saja puncak itu aku, apakah kau akan daki walau banyak rintangan menghadang hubungan kita?

Apakah engkau akan berjalan rapi setapak demi tapak lalu kau hembuskan nafas berawal kesesakan hingga menikmati hijaunya puncak dan bercanda tawa denganku atau sahabat-sahabatmu disana

Bergurau tentang wanita, pekerjaan, keluh kesah pribadi dan tangis yang tak bisa kau tutupi hanya dengan tawa saja

Ingatlah satu hal ketika kau berada di puncak sana, berdoalah sebaik-baiknya kau berdoa diatas awan

Agar kau memahami arti dakianmu, arti jejak langkahmu, bahkan arti libur panjangmu kali ini bersama sahabatmu

Berdoalah tentang hubungan kita, sayang

Berdoalah terus, namun jangan kau doakan aku agar aku menjauh darimu, karena itu bukan doa, namun kau mengusirku dengan bijak

Sebutlah namaku dalam doamu disana

Ingatlah aku terus sampai kau memahami apa arti hubungan kita saat ini

Apa arti perpisahan kita sejak dini

Hingga hari esok kau mungkin bersamaku lagi atau dengan kekasih barumu yang lebih baik dari hubungan kita yang begitu rumit

Karena serumit-rumitnya hubungan kita adalah pelajaran menuju baik

Namun tak semua hubungan cinta itu berawal dengan jalan mulus

Namun banyak yang berawal penuh rintangan namun happy endinglah yang tercapai

Biarlah aku menjadi wanita yang selalu memperbaiki dan memperbaiki sikapku

Bukan selalu menyerah dan menyerah hingga kamu merasa bersalah dan menyalahkan

Karena aku wanita keras kepala yang tak bisa dengan mudah kau usir aku dari ingatan hubungan kita

Apalagi cinta yang kita ciptakan dengan tidak mudah

Kau usir aku dari hatimu, karena sampai sekarang aku masih belum bisa untuk melupakan perjuangan kita

Marahnya emosi kita sampai kita berpisah dengan bijak dan emosi belaka

Ataupun perpisahan dalam bentuk kediaman saja

Seanak kecilkah sikap kita saat itu?

Saling menyalahkan tanpa bertemu

Saling berpapasan tanpa bertegur sapa

Saling cuek tanpa memahami

Saling perhatian tanpa mengetahui

Bahkan saling rindu tanpa ada waktu menemui dengan kesibukan masing-masing

Adakah kesibukan yang lebih penting dari hubungan kita? jawablah sayang

Biar semua berlalu dengan bijaksana sikap kita

Teruslah kita saling memperbaiki entah bersama kembali

Atau menerima perpisahan ini selamanya

Walau aku tak rela namun aku berusaha menyanggupinya karena inginmu adalah bahagiaku