Sudah sarjana, sudah kerja, terus kapan nikahnya?

Turunin sedikit dong standarnya, dia yang nggak ganteng juga bisa dipermak nantinya.

Temennya udah punya anak dua, masa kamu pacar aja nggak ada?

Jangan takut nikah karena belum mapan, nanti ada sendiri rejekinya!

Dan…saya mual-mual mendengarnya!

Oh…demi Tuhan, apa kalian tahu bagaimana rasanya saya setiap mendengar pertanyaan-pertanyaan macam itu?

Saya tidak tahu apa maksud pasti kalian setiap bertanya. Bentuk perhatian, mengingatkan, atau sekedar bercanda yang mungkin terdengar lucu. Tapi saya ingin bilang kalau pertanyaan seperti itu terkadang sedikit mengganggu.

Sekarang bolehkah saya yang bertanya, sebenarnya kesendirian saya ini merepotkan siapa? Atau siapa yang menganggung rugi besar karena saya? Rasanya saya baik-baik saja, tapi pertanyaan kalian lah yang membuat seolah ada yang salah dengannya.

Advertisement

Saya mengerti, di negri kita ini pertanyaan semacam itu terdengar lumrah sekali. Tapi saya pikir setiap orang berhak memutuskan jalannya sendiri, mau menikah sekarang atau nanti. Sebagai perempuan, saya juga ingin mempunyai pasangan di sisi, sama seperti kalian, dan saya ingin Tuhan yang merestui. Iya, Tuhan, hanya pada Dia perkara ini sering saya perbincangkan. Ini bukan pembelaan diri atau sekedar mencari dukungan, tapi saya percaya bahwa memang Dia lah yang memiliki semua rancangan.

Saya bukan tidak mau berusaha, tapi saya sudah lelah dengan mereka yang hanya sekedar bercanda. Saya lelah pada mereka yang datang menawarkan cinta lalu tiba-tiba pergi dengan seenaknya. Daripada terjebak dengan ikatan semacam itu, bukankah lebih baik jika saat ini saya memutuskan untuk sendiri saja dulu?

Tidak jarang juga dari kalian yang dengan baik hati memberi nasehat pada saya, dari mulai masalah standar, bujukan untuk membuka hati, hingga sampai ke masalah rejeki. Saya berterimakasih untuk perhatiannya, tapi apakah kalian pernah mengerti pergumulan apa yang sebenarnya saya alami?

Saya hanya ingin menikah tepat pada saatnya nanti, setelah bertemu dia yang benar-benar ikhlas mendampingi, yang pada dia saya mantap untuk menitipkan hati, dan pada saya pula dia sepakat untuk berhenti mencari. Saya ingin bersama dia yang sederhana, namun kehadirannya selalu menentramkan, dan cintanya pada saya juga tidak akan pernah surut oleh hebatnya pertengkaran. Saya selalu percaya ada manusia semacam itu yang untuk saya Tuhan ciptakan, yang saya lakukan sekarang adalah memantaskan diri sebisanya hingga saatnya nanti kami berdua dipertemukan.

Untuk mereka yang kadang menghakimi, saya ingin sekali mengatakan bahwa menikah bukanlah lomba lari, siapa yang sampai lebih dulu, dialah juaranya. Sekarang apa ada jaminan, bahwa mereka yang lebih dulu duduk di pelaminan hidupnya selalu lebih bahagia dari saya? Jika ada yang mengatakan saya terlambat, sebenarnya tanggal berapa batas waktunya? Atau jika saya kalah cepat, memangnya saya sedang lomba dengan siapa? Saat orang tua saya sendiri dengan santai mengatakan pada saya untuk meninggalkan paradigma lama, menikah tidak pernah ada deadline-nya, yang penting saat ini saya bisa terus berkarya, karena dengan jalan ini mereka tahu saya tetap bisa berbahagia, kenapa sebagian dari kalian malah memojokkan mereka dengan pernyataan bahwa bisa saja anaknya akan menjadi perawan tua?

Tidak, kalian tidak mengerti, ucapan yang kalian anggap bercanda juga ada kalanya bisa menyakiti. Kriteria saya tentang dia yang akan mendampingi tidaklah seremeh temeh masalah penampilan yang nanti juga bisa diperbaiki. Atau perkara standar lain yang saya patok terlalu tinggi. Lebih dari segalanya, yang saya cari hanyalah dia yang pas di hati, seperti gembok dengan kuncinya, pas, klik, tidak ada paksaan di sana-sini.

Ada sebagian dari kalian yang tahu bahwa saya pernah gagal sebelum ini, pada dia yang belum apa-apa sudah menyakiti, dan ada rencana yang sudah disusun rapi tapi gagal dieksekusi. Jangan salah sangka, kegagalan itu tidak pernah membuat saya jera, saya hanya menarik pelajaran banyak-banyak darinya. Pintu hati saya masih terbuka, tapi saya memilah-memilah, saya mencari dia yang berniat tinggal, bukan yang hanya ingin menjajal.

Lebih dari semuanya, saya percaya Tuhanlah yang punya rencana, entah kapan, semua pasti sampai pada waktunya. Saya sering bertanya setelah ini enaknya bagaimana? Kemudian Tuhan memberi jalan lain yang juga membuat saya bahagia. Entah itu dengan kesempatan berkarya, melanjutkan pendidikan, atau menjajal hal baru yang membuat hidup saya lebih kaya. Lalu apa saya harus diam saja dan tidak mengambilnya? Sementara mungkin saja Tuhan menyiapkan jodoh saya lewat sana. Sekali lagi, hanya Tuhan yang tahu apa jalan yang terbaik untuk saya, bukankah Dia tidak pernah main-main dengan janjiNya? Saya hanya sedang berusaha menjadi sebaik-baiknya diri saya, karena bukankah jodoh saya nantinya juga hanya sebaik saya? Lalu apakah saya benar-benar terlihat tidak bahagia? Padahal saya hanya sedang menikmatinya dengan cara berbeda.

Pada kalian yang gemar sekali memberondong saya dengan kata "kapan?" kenapa tidak menggantinya saja dengan doa? Bukankah mendoakan adalah ungkapan tertulus dari rasa cinta? Selain itu, kata "semoga disegerakan" rasanya juga terdengar lebih ramah di telinga. Tidak perlu lagi penasaran, karena pada saatnya nanti saya tidak akan merayakan kebahagiaan saya tanpa kalian. Tunggu saja, dan terus bantu saya dalam doa, saya akan jauh lebih berterimakasih karenanya.