Sebenarnya aku rindu petualangan, dimana kutemukan semua yang belum pernah kulihat dan belum pernah kurasakan sebelumnya. Kutemukan semua pembelajaran berharga dalam setiap langkah petualanganku. Namun, sekarang entah mengapa aku sudah tidak terlalu berselera. Sekarang mengapa aku merasa egois jika masih memaksakan untuk berpetualang. Seakan semua niatan baik untuk menikmati indahnya alam ini agar selalu mengingatkanku untuk selalu bersyukur berubah menjadi malapetaka bagi alam yang kupijak. Kukira semakin banyak yang menikmati alam ini semakin banyak pula orang yang akan selalu bersyukur atas diciptakannya alam bumi peserta isinya yang indah ini. Kukira semakin banyak orang yang bersyukur semakin banyak pula yang akan menjaganya sehingga cucu cicit, cicitnya dari cicitku cicitnya lagi lagi dan lagi bisa menikmatinya juga. Ternyata anak saja aku belum punya, semua yang dulu indah kupijak sekarang menjadi tempat rekreasi yang ramai dan kumuh seperti pasar.

Malu ya mungkin rasa malu yang kian membesar jika ada yang memanggilku dengan sebutan anak gunung. Ya memang sebagian besar kegiatan ku kuhabiskan untuk keluar masuk hutan, mencari tebing, pantai, naik turun gunung, semenjak 3 tahunan ini. Tetapi semua kulakukan untuk menambah ilmu, untuk belajar bukan hanya untuk kesenangan semata untuk diriku sendiri. Begitu besar tanggung jawab ini, tanggung jawab sebagai salah satu anggota pecinta alam. Susah payah ku belajar selama 3 tahun ini menjadi seorang pendaki gunung, pemanjat tebing, pecinta dan pengagum alam yang diciptakan oleh sang Maha Pencinta. Tetapi apa sekarang? Pecinta alam hanya dianggap sebagai pendaki gunung yang tak tahu malu! sudah mengeksplore semua keindahan alam yang tadinya indah tersembunyi menjadi tempat rekreasi yang kumuh! Masih mengaku mencintai alam?

Hello?? Sekarang siapa yang harus disalahkan? Tak adaaaa.. jika semua saling menyalahkan tanpa ada tindakan nyata memangnya semua bisa kembali?

Karena oknum oknum yang tidak bertanggung jawab, kamilah para pecinta dan pengagum keindahan alam yang harus bertanggung jawab. Untuk kalian oknum oknum yang tidak bertanggung jawab semoga kalian diberikan hidayah untuk dapat lebih bersyukur atas segala keindahan bumi beserta isinya yang telah diciptakan untuk kita.

Kalian boleh jadi lebih hebat dari kita para pecinta alam, boleh jadi lebih tangguh dari kita untuk mendaki. Tapi, aku yakin cinta para pecinta alam kepada alam beserta isinya masih lebih besar dibanding cinta kalian oknum oknum menyebalkan. Aku juga yakin kalian tidak tahu bagaimana cara mendaki yang baik. Kalau kalian tahu, mana mugkin kalian hanya kuat membawa semua sampah itu naik dan tidak kuat untuk membawanya turun kembali??? Yang sudah pasti aku yakin kalian pasti mencintai diri kalian sendiri. Mencintai diri kalian yang haus akan pujian di media social dengan foto-foto keren kalian berdampingan dengan secuil keindahan alam.

Advertisement

Aku tak marah kalian mau berpose gagah dengan tulisan Mahameru ditangan, aku tak marah kalian berselfie ria dengan backround pemandangan si kembar Sindoro Sumbing, aku pun suka melihat foto-foto romantis kalian saat bergandengan tangan di tanjakan cinta yang terkenal, apalagi saat kalian berpose cantik di istana dewi anjani.. tapi tidak sedikit kulihat foto-foto sampah yang kalian tinggalkan. Membuat ku gerah dan marah, rasanya ingin berteriak “berani-beraninya kalian menyakiti kesayanganku yang kucintai!!!!!

Fenomena pendaki dadakan yang saat ini terjadi, meningkatkan jumlah pendaki setiap harinya yang artinya meningkatkan jumlah tumpukan sampah yang di bawa naik. Tak ada yang salah, setiap orang memang memiliki hak untuk bahagia. Namun alam tempat kita berpijak juga memiliki hak untuk tidak disakiti. Jadi , STOP MENDAKI! jika kalian tidak kuat membawa turun sampah kembali! Daripada akhirnya kalian menyakiti alam yang cantik nan jelita ini ! sebarkan gerakan “STOP MENDAKI!” ini kepada teman teman mu yang tak bisa menjadi pendaki MTS (Membawa Turun Sampah).