Ayah, sejak kecil engkau selalu mengajariku arti kuat dan tak mudah puas. Ya ku ingat saat aku meraih keberhasilan, engkau selalu berkata

Itu hanya kebetulan! Coba ayah ingin lihat kamu lebih hebat lagi.

Dulu, aku merasa engkau selalu tak mempercayaiku, apalagi dengan sifat seorang ayah yang tak seperti ibu memperlihatkan langsung rasa sayangnya. Ntah, setiap di rumah kita tak banyak berbincang, tapi enkau suka memanggilku untuk sekedar mempertanyakan hal yang tak ku duga

Coba ayah tes kamu, siapa nama Presiden Irak sekarang?

Aku menggelengkan pala saat itu dan engkau menasehatiku untuk lebih belajar. Tak jarang saat aku melakukan salah, engkau begitu marah bahkan mendiamkanku. Ya, aku memang banyak salah padamu. Hingga aku berjanji dalam hatiku untuk menjadi yang terbaik untukmu kelak.

Advertisement

Saat aku beranjak dewasa, aku tinggal di perantauan. Ini demi masa depan putrimu. Engkau mempercayaiku untuk gapai bintang di angkasa itu. Tak jarang engkau menelponku, bahkan saat pertama kali aku sakit, engkau langsung memutuskan terbang untuk menengokku sambil membawa masakan kesukaan ku, yaitu masakahan khas ibu.

Ketika aku menjadi aktif di kampus dengan segudang kesibukan, engkau mencemaskan aku. Bahwa di matamu aku tetap putri kecilmu, yang engkau rasa baru kemarin engkau gendong, engkau ajak bermain dan tertawa bersama dengan segala kehangatanmu, ayah.

Sesekali saat liburan aku pun pulang, ku lihat kantong matamu semakin lebar, garis-garis di wajahmu semakin terlihat, ya usiamu semakin senja. Tapi kau tetap memproitaskan anakmu dibandingkan dirimu. Aku sedih saat ku sadari engkau tak sekuat dahulu, sesekali ku dengar batuk dari bibirmu yang hobi menyeruput kopi itu. Sesekali pun aku memasak untukmu dan ibu, engkau pun tersenyum manis dan berkata

Anak ayah udah bisa masak sekarang, buat suaminya nanti.

Semua terdiam, karena pada saatnya nanti kusadari, aku akan jauh dari kalian. Saat ada tangan pria lain membawaku membuat hidup yang baru. Aku pun pernah tak sengaja mendengar doamu di sepertiga malam. Ada namaku tak lupa engkau selipkan, doa itu bahkan sangat merdu dan indah saat aku dengar dari balik dinding itu, membuat airmataku menetes ke bumi. Bahwa dibalik tegasmu, ada cinta yang tak bisa digantikan oleh siapapun. Bahkan aku juga kadang mendengarmu yang lelah, tapi semua itu hanya engkau keluhkan di belakang kami, anakmu.

Sungguh, kau penguatku, kau semangatku. Saat aku terpuruk, saat aku ditimbun oleh berbagai masalah, nasihatmu, semangatmu bahkan ketegasanmu yang mengkokohkan aku. Walau terkadang aku sibuk, aku digulung oleh waktu, tekadku tetap aku yakinkan, ku ingin jadi terbaik untukmu, ayah.

Ayah maafkan aku putri kecilmu, yang kadang lupa, yang kadang bodoh, yang kadang lemah, bahkan jatuh tersungkur dalam keheningan. Taukah engkau ayah, aku terkadang menangis sendiri di perantauan, tapi lagi-lagi suaramu bagai berbisik dalam hati untuk bangkit dari keadaan. Terimakasih ayah karena banyak mengajariku arti hidup. Layaknya kasih ibu, dirimu pun takkkan lenyap oleh masa di dalam hatiku. Doakan putri kecilmu ini ayah, semoga jalan menuju tekadku semakin dekat, yaitu menjadi terbaik untukmu dan ketahuilah ayah, aku menyanyangimu. Walau kelu rasanya lidah ini langsung mengungkapkannya kepadamu. Jaga dirimu baik-baik, ayah dan ibu, karena aku ingin kalian menjadi saksi kesuksesanku.

Salam hangat dari Putri kecilmu, di perantauan 🙂