Mungkin kamu tak akan pernah tahu bahwa aku telah lama memiliki rasa denganmu. Hanya saja pada saat itu terlalu berat rasanya kalau perasaan ini disebut – sebut sebagai cinta. Karena pada saat itu pemikiranku terlalu lugu untuk memahami hal sesakral itu.Hingga aku hanya bisa memandangimu dari kejauhan. Ingatkah kamu, saat kita masih kecil telah banyak waktu yang telah kita habiskan bersama? Tertawa bersama,bermain – main hingga lupa waktu dan terkadang kita juga suka bertengkar kalau merasa tak sependapat dalam memainkan sebuah permainan.

Yang aku ingat , di antara teman – teman yang lain nada bicaramu itu paling ketus kalau sudah marah . Tapi hal itu tidak merubah perasaanku padamu saat itu. Walau sebenarnya aku sangat kesal kalau kamu sudah mulai menunjukkan watak aslimu. Hal yang paling sedih saat aku mengetahui bahwa kamu harus pindah tempat tinggal.

Keterbatasan alat komunikasi pada saat itu membuatku seakan kehilangan jejak untuk mengetahui bagaimana kabarmu. Pada saat itu yang ada di dalam benakku adalah bisa bertemu denganmu itu hal yang mustahil. Waktu demi waktu aku jalani tanpa ada kamu dihidupku, kisah demi kisah aku rasakan ketika menjalani hubungan dengan berbagai macam karakter laki – laki di sekitarku tapi tak ada yang sepertimu.

Namun ketika aku sudah mulai lupa denganmu, tuhan mempertemukan kita kembali di suatu momen. Setelah bertahun – tahun lamanya tidak bertemu, membuat kita seakan tidak pernah kehabisan bahan obrolan. Aku sangat terkejut melihat perubahanmu yang sangat drastis,kamu yang dikenal bandel,ketus dan cuek. Kini telah berubah menjadi sosok yang santun, ramah dan juga hangat.

Tapi dari sekian banyak perubahanmu, sifatmu yang humoris dan jahil tidak terlepas dari pribadimu. Maka tak jarang, aku sering dibuat tertawa karena sikapmu yang lucu. Hal itu membuatku jadi kembali ke perasaan yang dulu aku simpan sendiri. Sifatmu yang saat ini membuatku semakin terkagum – kagum olehmu. Tapi sayangnya sampai sekarang aku tidak tahu bagaimana perasaanmu padaku. Sikapmu membuatku penasaran, kadang cuek kadang juga perhatian .

Advertisement

Dan itu yang membuatku takut kalau ini hanya perasaanku sendiri. Karena sejujurnya aku telah lelah patah hati. Namun aku hanya bisa berusaha menjadi sosok yang memahamimu di saat lelah dan menjadi pendengar setiamu disaat gundah seperti yang dilakukan seseorang pada sahabat dengan semestinya. Aku akan membiarkan keadaan ini terus berjalan, sampai kita bisa menjadi semakin dekat secara natural dan tanpa dibuat – buat.

Hingga kamu pun menyadari bahwa, aku telah lama mengagumimu sejak dulu. Aku berharap semoga tuhan mengizinkanku untuk memilikimu, menjadi kekasih halalmu. Namun jika tuhan berkehendak lain, aku tetap bersyukur karena setidaknya aku bisa menjadi sahabatmu sampai saat ini.