Hai, kamu! Apa kabar? Rasanya terlalu kaku menanyakan kabarmu walau hanya dalam ketikan huruf. Apa kamu masih jadi seorang pejuang hati yang sangat kuat tetapi pada akhirnya bosan? Apa kamu masih jadi orang yang akan melakukan hal tergila sekalipun demi permintaan maafmu diterima untuk kesalahan yang berulang? Apa kamu masih saja jadi orang yang akan melakukan hal apapun demi membuat orang lain di sampingmu merasa diperjuangkan?

Apa kamu masih saja seperti semua itu, terlalu mudah mengucap sesuatu tetapi pada akhirnya ingkar? Terlampau pandai kamu permainkan sebuah komitmen. Tapi kamu lupa, di sini kita berdua pemainnya. Kamu ciptakan episode kehidupan yang akhirnya kita berdua jadi pesakitan.

Begitu refleks otakku menggali ingatan tentangmu jauh ke belakang. Bukan. Aku bukan mau mencari-cari kesalahanmu. Sebagai manusia, aku menyadari ada tingkah yang juga menyakiti. Jika kita sama-sama menghitung sebanyak apa kita saling menyakiti, mungkin tidak akan cukup aku tuliskan di sini. Kita selalu mencari pembenaran atas diri kita masing-masing, merasa sama benar. Tak sedikit pun aku mengalah pada situasi seperti ini.

Kita menjadi orang yang saling membahagiakan, tapi dengan sekejap jadi orang yang saling menyakiti sesakit-sakitnya. Kita berada pada hubungan yang ajaib kala itu, merasakan bahagia dan sakit dalam hari yang sama. Aku kira, kita selalu baik-baik saja dengan hubungan yang semakin lama. Tapi aku sadar, waktu tidak bisa menjadi ukuran bahagia saat itu.

"Harusnya, akan selalu ada hati yang tanpa paksaan melakukan hal apapun. Hati yang akan bertahan dengan satu orang di keadaan sulit sekalipun. Hati yang sudah seperti bunyi klik ketika bertemu dengan hati lainnya. Bukankah itu saling membahagiakan?"

Advertisement

Kita sama-sama seperti punya kewajiban. Bahagia yang sama sekali bukan paksaan. Benar-benar bahagia dari dua hati yang saling menggenapkan. Ah, tidak-tidak! Ternyata itu hanya keinginan dari seorang manusia sangat biasa. Aku lupa, bahwa ada takdir Tuhan yang luar biasa. Semesta menggariskan sudah sampai sini saja kalian menyakiti, bahagialah dengan jalan yang berbeda. Lalu aku bisa apa? Melepaskan! Ya melepaskan.

Tidak usah ditanya lagi, seberapa sakit melepas orang yang sudah kita titipi kebahagiaan. Memang bukan lagi pilihan agar salah satu dari kita berani mengambil keputusan. Kita hanya butuh keberanian keluar dari pesakitan perasaan. Dan aku memilih jadi pemberani di saat keadaan itu. Sulit dan sakit. Semua sudah selesai dan aku keluar dari masa itu. Aku berjalan di masaku sekarang. Masa yang selalu aku doakan lebih baik dan membahagiakan.