Selama ini aku menganggap diriku tak lebih dari seorang pemancing. Bermodalkan perahu, aku mengarungi lautan sejauh mata memandang, sejauh dayung mengayuh. Seolah melarikan diri, aku terus menenggelamkan diriku dengan terus memancing dan menjaring. Jangan kau tanyakan kemana tujuanku saat itu. Itu adalah pertanyaan besar yang terus bersarang dalam pengembaraan. Hingga akhirnya, sahabat kita menjadi perpanjangan tangan Tuhan. Kamu dan aku melintas di satu masa tertentu. Kita bertemu.

"Dek, Minggu depan Mas ke Jakarta. Mas ingin menemuimu"

Ingatkah kalimat yang kamu lontarkan saat itu? Keberanianmu menarik hatiku.

"Dua orang asing akan bertemu", anganku melayang jauh tentang apa yang akan terjadi. Tak pernah aku bertemu dengan sosok sepertimu. Masa perkenalan yang belum terhitung bulan jelas tidak menyurutkan langkahmu. Buru buru. Orang pasti beranggapan begitu.

Seminggu kemudian mataku dan matamu beradu. Duduk berhadapan, kita saling bertukar cerita tentang pengembaraan masing masing, tentang pencarian yang sia sia, tentang masa lalu yang sarat akan pelajaran hidup. Bersamamu kala itu, waktu bergulir dalam hitungan kejab. Pertemuan pertama kita ibarat pangkal dari segala harapan yang bersama kita bumbungkan. Pertemuan pertama kita adalah hal paling ajaib yang pernah terjadi dalam hidupku. Hari hari setelahnya, sosokmu mulai sibuk di pikiranku. Dan mulai saat itu aku sibuk mengucap namamu dalam simpuh panjangku.

Advertisement

Tak ada yang terburu-buru, Kamu adalah buah doa yang disegerakan Tuhan untukku.

"Hai, kamu lagi apa?"

"Kok belum bobok lagi ngapain?"

Bukan kalimat semacam ini yang kamu tawarkan padaku seperti kalimat para laki laki paling mainstream se-Galaksi Bima Sakti kala itu.

"Dek, aku ingin melamarmu."

Lagi, keberanianmu menarik hatiku. Dua orang asing bertemu, lalu sepakat untuk bersatu. Berbekal banyak rakaat, aku membangun keyakinan untuk bisa mengarungi ribuan hari berikutnya bersamamu. Bukankah Tuhan benar-benar pengatur skenario paling indah sepanjang segala yang fana ini tercipta?

Di akhir tahun, kamu mengarungi perjalanan pulang bersamaku, untuk melamarku. Kereta mulai melaju dan cerita cerita kita mulai menemukan titik temu. Kita mulai menerawang masa depan, membayangkan masa depan macam apa yang akan kita jalani selagi bergenggaman tangan dengan hati yang saling bertautan. Sepanjang malam kita menuturkan ide dan gagasan.

Gelap melingkupi jendela kereta. Namun bersamamu, masa depan terlihat benderang. Walau kopi di depan kita sudah mendingin sejak lama saat itu, walau hatiku sebelumnya cenderung jauh lebih hambar dari sekedar sup minggu lalu , malam itu hatiku mendadak suam-suam kuku.

Selama ini aku selalu bersandar pada bahuku sendiri. Aku selalu berlari dan cenderung melarikan diri. Kegundahan yang menggumpal, Kegelisahan bak bola es yang terus membesar dan segala mimpi buruk yang membuatku enggan terlelap terus merongrong tanpa ampun. Tiap tiap pagi aku membuka mata dan memasang topeng. Tiap tiap malam aku melepasnya dan meringkuk di sudut kamar. Namun bersamamu, aku membuang topengku dan menjemput tangan hangatmu. Kegundahan, kegelisahan dan mimpi buruk memilih untuk menguap bak buih buih kepulan kopi panas.

Bukankah Tuhan selalu mempunyai jutaan cara ajaib untuk mempertemukan umatnya dalam misi menggenapkan separuh Dien?

Mas, melangkahlah bersamaku dan jelajahi dunia.

Sedikit lagi kamu akan menyambut uluran tangan penghulu dan mengumandangkan nama lengkapku di situ, lalu disusul dengan kata sah yang berdengung bertalu talu. Aku halal bagimu. Detik berikutnya, kamu adalah sosok yang akan menemani siang dan malamku, berjuang bersama dalam gelap terangku.

Detik berikutnya, kamu adalah suamiku, yang akan menanggung hidupku dan juga dosa dosaku. Mungkin untaian kata kata ini serupa untaian kata gombal dari orang yang sedang dilingkupi bunga berikut kupu-kupu di dalam perutnya, yaitu aku. Seperti yang sering kamu ketik untuk membalas pesanku.

"Aku akan terus mendukungmu Mas, sepenuh hatiku. Cemunguth!"

"Gombal adek e…" balasmu.

Terdengar terbalik memang, tapi ingatkah kamu Mas? Aku adalah penulis. Aku masih mempunyai stok gombalan segudang untukmu. Tapi yang harus kamu tahu, kata kataku bukan gombalan semata. Bagiku, kamu adalah sebuah pulau di pelupuk mata yang tak sabar untuk aku kunjungi. Aku akan menancapkan jangkarnya dan tinggal di situ selama sisa hidupku. Bagiku, kamu adalah nahkoda baru. Bersamamu, kita akan mengarungi lautan lalu menyiapkan umpan untuk menjaring ikan bersama. Kita akan saling berbagi peran demi kapal yang terus melaju mencapai tujuan.

"Tujuan kita hidup di dunia ini apa toh, Dek?" Suatu saat kamu melempar tanya serupa itu.

"Apa? cari uang yang banyak? Punya rumah? Piknik ke Maldives selama sebulan?" Maafkan adek yang punya banyak kekurangan ini, Mas.

"Tujuan kita hidup ini ya sebenarnya untuk beribadah. Dan alasan Mas untuk menikah denganmu adalah untuk menggenapkan setengah Dien. Untuk mendapat Ridho Alloh. Untuk beribadah"

Aku ingin melakukan banyak hal berbalas pahala bersamamu. Aku akan membuatkanmu teh di pagi hari berikut roti berselai coklat atau pun oatmeal. Aku akan membuka sesi curhat setiap malam karena aku ingin menceritakan tiap tiap hal tanpa terlewat padamu. Aku akan menyusun perjalanan bersamamu dan menderapkan kaki ke tempat-tempat baru, lalu bertemu dengan orang orang baru sembari menabung pelajaran dari tiap-tiap perjalanan. Aku akan mengurai canda dengan tawa yang tergelak gelak karena katamu bercanda dengan pasangan akan mendatangkan pahala.

Aku akan berdiskusi sambil mengesap secangkir kopi hitam untukmu dan kopi susu untukku tentang keputusan keputusan yang akan kita buat bersama. Musyawarah untuk mufakat, sejenis itu. Aku akan menjadi penawar kalau kalau kopi yang kamu minum terlalu pahit, kalau kalau hidup yang kamu jalani terlampau getir.

Aku akan menjadi supporter setia saat kamu butuh dukungan. Aku akan menganyam banyak jejak hidup, membekukannya dalam lensa lalu mengungkitnya di ujung senja. Aku akan melakukan semua itu bersamamu. Tak hanya tumbuh bersama, Kita juga mampu menua dalam balutan cinta dan derap langkah seirama. Cita citaku sejak dulu.

Lalu kita akan melahirkan generasi penerus bangsa Indonesia yang soleh solehah, cerdas dan lucu-lucu.

Aku terbangkan tinggi-tinggi rasa syukut karena akhirnya Tuhan menitipkanmu padaku.

Mas, terimakasih telah menanamkan keyakinan bahwa kita bisa bersatu, walau kita berbeda suku. Kamu datang dari wilayah Indonesia paling timur sedangkan aku cenderung di bagian pertengahan. Namun, bukankah Bhineka Tunggal Ika itu nyata? Walau berbeda, toh kita berdua bisa bersatu jua.

Terimakasih telah memulai cerita ini bersama, menyeberang pulau sejauh 950 km dan menyelusuri rel demi seorang aku, demi manik matamu yang mampu menembus relung hatiku. Malam itu, aku menengadahkan tangan dan bertanya pada Tuhan tentangmu. Kini, keyakinan menjalar di tiap tiap sudut hatiku. Aku yakin Tuhanlah yang menggiring langkahmu untuk menemui, bukan, untuk menemukanku.

Terimakasih telah mempercayakan masa depanmmu untuk melangkah berdampingan denganku. Bersamamu, aku tak ingin jatuh cinta. Kau tahu sendiri bukan? Jatuh cinta hanya menciptakan nelangsa, menerbangkan asa dan cita lalu menggantikannya dengan duka lara. Masa lalu kita menyodorkan semuanya.

Bersamamu, aku ingin membangun cinta. Cinta dibangun atas pondasi komitmen serta kepercayaan. Jendela-jendelanya adalah komunikasi yang baik, saling memahami. Pintunya adalah memaafkan. Dan atapnya adalah mau menerima kekurangan dan kelebihan. Itulah yang disebut bangunan cinta. Kokoh dan tahan lama. Di luar itu, maka yang sedang kita buat hanya tenda, atau malah rumah-rumah an seperti anak kecil bermain rumah-rumah an.

Begitu kata Tere Liye, Mas.

Mari kita tulis kisah kita selanjutnya, Mas.

Mas, aku tahu kisah kita kelak tak akan serupa kisah Drama Korea yang dibaluri romance di tiap tiap waktu. Kisah kita tak akan selalu seindah dongeng dongeng bertema cinta yang didengung dengungkan penghuni dunia. Pun aku bukan bidadari dari Syurga yang terus menghiasi bibirku dengan lengkungan manis dan terus mengumandangkan kata kata romantis. Terkadang emosi menyelinap dan kata kata yang keluar tak sengaja melukai. Maka, aku berharap Mas bisa menabahkan hati barang sebentar.

Dan bila ada kalanya hatiku dikepung amarah, lalu tak sengaja menghujanimu dengan kata kata tajam,

"Harap bersabar, Ini ujian."

Toh rumah kita nanti adalah saksi penyatuan dua kepala dengan dua latar belakang dan cara pengasuhan yang berbeda. Rumah kita nanti adalah saksi pendewasaan diri, toleransi dan tenggang rasa. Rumah kita nanti adalah rumah yang dibangun oleh dua orang yang mencita citakan sakinah, mawaddah dan warrahmah.

Dan pada akhirnya, aku adalah rumahmu.

Mas, aku tak bisa mernjamin apapun padamu, selain…

Aku tak bisa menjamin bahwa aku akan menjadi pemasak yang handal lalu mengunggah fotonya semacam "Bandeng Presto Lombok Ijo untuk bekal suami", "Cakalang Bakar", "Tuna Asam Manis" , "Papeda Mak Nyus" dan lainnya. Kamu tahu, aku payah soal itu. Aku tak bisa menjamin akan menjadi pembersih rumah yang gesit, pengelola keuangan yang cermat, atau pun pemijat yang ampuh.

Tapi aku menjamin aku akan berusaha untuk menjadi pendengar yang baik, teman yang selalu ada di hari-hari cerahmu dan penghibur di hari kelam penuh awan pekat dan guntur. Aku akan berusaha menjadi kepunyaanmu yang siap menjulurkan tangan, menyodorkan bahu dan merentangkan lengan. Aku tidak akan keluar dari orbitmu walau hanya satu jengkal. Aku akan terus melangkah di sampingmu.

Kita akan mengarungi semua perjalanan di depan bersama. Sejauh apapun itu, selama apapun itu, sekeras apapun itu, akan aku dekap hatimu lekat lekat.

Pada akhirnya aku bisa mempraktekkan rumus matematika ajaib itu, Mas. Rumus ajaib bahwa aku dan kamu akan menghasilkan satu. Dan rasa syukur terus mengangkasa memenuhi tiap-tiap relung dadaku. Doaku, Semoga kita berbahagia selalu.

"Mas, Aku (akan) mencintaimu. "