Saat bulan purnama mulai memancarkan sinarnya dari ufuk barat, adzan maghrib mulai berkumandang dari menara-menara tinggi masjid, dan saat itulah aku hanya mulai duduk terdiam di sofa panjang tempat tinggalku. Penglihatanku terasa buyar, dan hembusan nafaskupun terasa berat dan kasar. Sesak di dada benar-benar terasa, hingga suplai darahkupun mulai terasa terhambat untuk bisa mengalir ke seluruh tubuhku. Aku terdiam dan hanya ditemani beberapa botol bekas air minum yang telah aku habiskan beberapa hari yang lalu. Kertas putih yang seharusnya kugunakan untuk menyelesaikan tugas kuliahku, masih terlihat kosong dan menghiasi sisi kanan tempat dudukku. Semuanya terlihat berantakan dihadapanku, tak ada sedikitpun nafsuku untuk merapikan semuanya.

Yah, mungkin beginilah rasa yang harus aku alami di saat aku benar-benar tak tau jalan untuk melangkah lebih jauh lagi. Semua yang telah aku angan-angankan dahulu, kini terasa hanya sebatas ingatan panjang yang tak bermakna. Hingga tak terasa sisa sedikitpun semangatku untuk mulai melangkah kembali. Dan hingga kini, aku hanya masih bisa terdiam keheranan, tak menduga semuanya akan terjadi seperti ini. Semua persiapan yang telah kulakukan dahulu terasa tidak berarti, bahkan justru membuatku merasa semakin frustasi.

"Keberhasilan seseorang akan mampu menjadi penggerak utama semangat dalam diri sendiri dan orang lain”

Dalam diamku, aku mulai termenung, memikirkan tentang apa yang telah aku lalui. Dahulu, aku selalu melihat bagaimana seseorang bisa berjalan tegak dengan hidupnya, dan menanyakan bagaimana seseorang bisa bangga dengan hidup nya. Hari demi hari telah kulewati hanya dengan melakukan hal-hal konyol seperti itu. Itu semua aku lakukan hanya agar aku bisa melewati masa-masa sulit yang akan aku hadapi. Namun hingga kini, aku hanya masih bisa menyadari satu hal bahwa apa yang telah aku perhatikan dahulu ternyata tak semudah perkiraanku.

“Pengalaman harus dilalui dan tidak dapat dipelajari”

Advertisement

Sembari menghabiskan waktu malam yang menyapa, kutenggak salah satu botol minuman yang berada di depanku. Mencoba untuk memalingkan diri dari ingatan panjangku. Ditengah susasana malam yang panjang, tubuhku mulai menjerit merasakan dinginnya hembusan angin dari balik pintu depan rumahku. Tak banyak yang bisa aku lakukan, hanya bisa memeluk erat tubuh kurusku dan sesekali harus menarik nafas panjang. Sesak di dada mulai terasa berkurang, dan aku mulai mencoba untuk menata diri kembali. Mengumpulkan sisa-sisa semangatku yang telah berserakan, hingga mencoba menghibur diri dengan nyanyian hembusan angin malam. Semuanya memang telah terjadi, dan waktu akan terus berganti. Perjalanan panjang hidupku belum akan berakhir saat ini, aku hanya bisa untuk mulai mencoba menerima kembali diri sendiri dan mengukir kembali nama indahku di angkasa.