Aku masih mengingat jelas dirimu. Semua tentangmu. Kau adalah yang tersulit untukku. Tersulit untuk dicintai. Tersulit untuk dipahami. Tersulit untuk dinanti. Dan yang paling tersulit untuk direstui. Meskipun begitu kau mengajariku banyak hal yang ku yakini takkan pernah kudapatkan jika aku tak dipertemukan denganmu. Mungkin memang benar, aku yang terbodoh karena terlalu mencintaimu dengan segenap jiwa ragaku. Mungkin memang benar, aku yang terbodoh karena selalu merelakan diri untuk terus disakiti olehmu. Mungkin memang benar, aku yang terbodoh karena selalu mampu memaafkanmu yang senantiasa menyakitiku. Mungkin memang benar, aku yang terbodoh karena tetap mempercayai segala tipu muslihatmu. Mungkin memang benar, aku yang terbodoh karena masih tetap mencintaimu meski kau telah dengan tega mencampakkanku karena dia.

Aku menemanimu. Bersamamu. Mendukungmu. Percaya padamu. Dan tetap mencintaimu tanpa peduli apapun yang dikatakan orang-orang tentangmu. Bahkan ketika dirimu gagal dan mengadu padaku, bahkan ketika semangatmu mulai memudar, aku tetap menyemangatimu dan percaya bahwa kelak dirimu akan menjadi hebat seperti dirimu sekarang..

Kau tahu, sayangku?

Hal terbodoh yang pernah kau lakukan adalah tidak pernah mencoba percaya pada perasaanku yang tulus padamu. Selama bertahun-tahun bersama pun kau tak percaya bahwa aku sungguh mencintaimu. Bukankah kau yang paling tahu betapa setianya aku? Ataukah kebosananmu yang membuat pikiranmu menjadi buram dan mengkhianatiku? Sekarang, lihat aku! Apa yang sudah kau lakukan padaku?! Akibat pengkhianatanmu. Akibat keegoisanmu, aku sudah tak lagi sama seperti diriku yang dulu. Aku tak tahu lagi bagaimana caranya harus mencintai dari awal lagi. Aku lupa bagaimana cara membuka hati untuk pribadi lain yang menawarkan kesempurnaan cintanya padaku. Aku lupa seperti apa rasanya mencintai dan dicintai. Merindukan dan dirindukan.

Tapi bukankah jika aku tulus mencintaimu, aku harus merelakanmu berbahagia dengan pilihanmu saat ini? Aku harus ikhlas melihat kau berbahagia bersamanya walau hatiku hancur luluh berantakan, kan? Aku harus bisa menerima kekalahanku karena tak mampu mempertahankanmu dalam permainan cinta ini, kan? Mau tak mau, aku harus menerima semua cemoohan dan juga rasa iba akibat perpisahan ini dari mereka yang mengenal kita, kan? Dan aku pun harus tegar ketika nanti Tuhan mengijinkanku bertemu denganmu dan dirinya kelak, kan?

Advertisement

Meski berat dan hampir tak sanggup mengatakannya namun aku harap, kau takkan pernah menyakitinya seperti yang pernah kau lakukan padaku dulu. Aku harap, ia takkan pernah meneteskan airmata sepertiku hanya karena keegoisan dan kekasaranmu. Aku harap, kau takkan mengulang lagi kesalahan yang sama seperti waktu kau bersamaku dulu. Biar saja aku yang merasakan sakit dan perihnya. Biar saja hatiku yang hancur berkeping-keping. Asalkan kau takkan pernah menyakitinya.

Senja ini. Seiring terbenamnya Sang Surya, kuputuskan untuk turut membenamkan semua cinta juga rindu yang takkan pernah tergantikan dan yang akan selalu menyisakan langkah kaki yang tertatih juga memori tentang betapa nyatanya rasa ini dulu. Hidup harus tetap berjalan, kan? Betapa pun kuatnya atau ke mana pun arus kehidupan ini membawaku, aku harus tetap bersyukur, kan? Mungkin untuk kali ini, aku harus lebih mempererat persahabatan dengan waktu, juga takdir, agar mereka tak lagi memisahkanku dengan orang yang kucinta.