Matahari sudah bergerak ke tepian. Menuju wajah lautan yang membiaskan pesonanya. Kita masih duduk di sini. Menanti arus gelombang dari penguasa laut berhenti membasahi kaki.

Semua orang memandang kita berdua. Semburat jingga dan biru yang memudar di langit menjadi layar bagi pertunjukan bertajuk 'perjalanan mengitari semesta berdua', dengan Tuhan sebagai sutradaranya. Toples kaca berisi memori atas perjalanan kita sudah kuhanyutkan ke laut. Kau yang tak menerima perlakuan menyebalkan itu, lantas berlari. Membagi arus laut menjadi dua. Seolah ada jalan setapak bagi kakimu yang buta arah.

Katamu, toples kaca itu adalah bukti perjalanan kita. Sebab tak ada dokumentasi selain kenang dan kesan atas kisah cinta kita yang terlarang. Kau tahu, aku bukan pecinta fotografi dan segala jenis citra yang ditangkap olehnya. Kau pun mengerti, bahwa wajahmu memang selalu terekam oleh memori dan aku tak butuh alat bantu untuk merekam segala perjalanan kita. Selain toples kaca itu, yang katamu — sekali lagi — menyimpan jejak kita yang berwarna jingga dan hijau muda.

Kita menepi sesaat matahari berganti rupa jadi rembulan. Tapi, tak banyak jejak yang kita ukir di pasir pantai yang berwarna putih ini. Tangan kita bergandengan, melewati jembatan kayu yang renta digerogoti air laut. Bagai sepasang kekasih, kita banyak membumbungkan cerita. Cerita yang tak mengenal akhir, sebab selalu diulang-ulang tanpa menimbulkan rasa bosan.

Sayangnya, kita bukan sepasang kekasih. Hanya dua sahabat yang saling mencintai, dan berusaha menjadi kawan perjalanan yang menyenangkan.

Advertisement

Perjalanan kita sudah sampai di ujung malam. Hari ini kita datang terlambat ke pelabuhan yang terbuat dari akar-akar pohon bakau. Tempat kesukaanmu. Karena di sana, kulitmu tak akan bisa dijamah sinar mentari yang menyengat. Berbanding terbalik denganku, yang selalu ingin bertemu mentari dan pasir putih serta ombak yang bertandang di telapak kaki.

Sudahlah, bagiku semuanya sama saja. Sebab menikmati perjalanan berdua denganmu adalah kenikmatan yang tak pernah buta. Ia selalu menuntun kita ke destinasi harapan. Sudah siap berjalan lagi?

Atau kamu masih ingin menikmati ombak dan debar jantungku?

Bisikanlah jawabannya sekarang. Karena ku tak mungkin menunggu hingga sang surya pulang ke pangkuan (lagi). Bukankah persahabatan kita tak pernah buta akan asmara yang datang mengetuk pintu? Atau memang, kamu pura-pura buta, agar jemari kita tiada saling melepaskan.

Idemu terlalu bagus. Bahkan, mampu mengalahkan pesona rembulan di ujung jembatan tempat kita duduk berdua.

Bagaimana? Bukankah kita sangat serasi?

Ya, sangat serasi. Sayangnya, toples memori sudah terlalu penuh untuk menampung kata cinta yang kita larung ke angkasa. Jadi sahabatmu mungkin lebih baik, daripada berjalan sendiri dan jadi hantu dermaga yang duduk terdiam setiap senja.

Toples kacanya sudah di pelukanku. Berniat membuka tutupnya kah untuk melihat seberapa jauh kita melangkah? Bisikkan lagi. Sebelum aku tuli dan menjadi tua tanpa kamu di sisi.

Mari berjalan lagi. Kumohon jangan lepaskan genggaman ini. Aku terlalu takut pergi sendiri.