Jika merunut ke belakang, pertemuan kita amatlah sederhana; berawal dari rekan kerjaku yang merupakan sahabatmu. Aku masih ingat saat itu kau mencuri-curi pandang padaku.

Tapi saat itu terlalu banyak konklusi yang dihasilkan pikiranku dan berujung pada aku tidak mau pusing-pusing memikirkan kenapa kau terus mencuri pandang ke arahku.

Berikutnya, aku bertanya-tanya kenapa kau mencariku. Memangnya aku siapa? Lalu saat kau memberiku hadiah kecil lewat rekan kerjaku yang juga sahabatmu itu patutlah aku bertanya kenapa. Maksudku, pertemuan kita bisa dihitung jari dan kita juga tidak sedekat itu.

Berikutnya lagi, kau kembali mencariku di lain kesempatan. Kau menanyakan keberadaanku. Kau mulai menunjukkan perhatian yang berbeda padaku. Bohong jika aku tidak meleleh dengan perhatian-perhatian kecil darimu. Aku sudah terbiasa sendiri hingga mungkin hatiku sudah membeku. Tapi kemudian kau datang memberi atensi-atensi kecil yang mampu melelehkan es yang membungkus hatiku.

Rasanya menyenangkan, kau tahu, ketika ada orang yang memperhatikanmu.

Advertisement

Tapi aku tidak mau terburu-buru. Tidak mau terburu-buru menyimpulkan, tidak mau terburu-buru melangkah, aku bahkan terlalu takut untuk mengambil konklusi atas makna perhatianmu pun atas kebimbangan hatiku dalam menentukan perasaan aneh ini. Aku membiarkan semua mengalir begitu saja.

Karena aku masih merasakan ada tembok tebal di antara kita. Bahkan tembok itu masih ada setelah kita berkali-kali bertemu, menghabiskan waktu berdua.

Kau tahu? Awalnya aku berpikir kau adalah orangnya, orang yang akan mengisi hatiku setelah luka yang pernah kudapatkan. Segala tingkah lakumu, perhatianmu padaku membuatku berpikir seperti itu. Tapi perlahan, hatiku ragu.

Kau ingat tembok tebal di antara kita? Entah kenapa setelah waktu berjalan, aku merasa tidak ada yang berubah dari tembok itu. Masih tebal, belum goyah sedikitpun. Entah kenapa aku merasa kurang nyaman denganmu. Seringkali kudapati diriku tenggelam dalam sepi ketika bersamamu. Aku selalu menyediakan telingaku untukmu tapi kau bahkan tidak mau repot-repot mendengarkanku. Selalu aku yang jadi yang pertama untuk memulai konversasi.

Kemudian aku mengetahui jika perhatian ‘spesial’mu itu tidak kau tujukan padaku seorang.

Oke, mantap sudah hatiku untuk berhenti belajar menyukaimu. Kukatakan itu dengan sunggingan senyum miris di bibir. Betapa bodohnya aku.

Jika kau ingin menyebutku terbawa perasaan, silahkan. Karena memang begitu kenyataannya. Salahkan hatiku yang terlampau dingin dan perhatian-perhatian darimu yang terlampau hangat.

Tapi tidak apa. Bukankah aku sudah terbiasa patah hati? Kali ini pasti juga akan sama, kan?

Hei, aku tidak membencimu. Kita masih berteman. Dan perhatian-perhatianmu padaku juga tidak berubah. Tapi perasaanku padamu sudah berubah. Mungkin kau memang bukan orangnya.