Hujan. Seharusnya tidak ada yang luar biasa darinya, memang sudah musimnya jika sekarang ini air akan lebih sering turun membasahi pelataran. Tidak ada yang kusuka dari hujan. Lembab, basah, dingin, suram. Apa istimewanya? Membuatku harus lebih sering menghabiskan waktu di balik jendela, memegang secangkir teh hangat, memandang ke luar sana. Ah…lagi-lagi hujan yang membawa pikiranku kemana-mana, membuatku mengingat apa yang seharusnya kulupa.

Entah sudah berapa kali musim hujan aku lewati dengan seperti ini, seperti tidak ada yang menemani, di tengah kerumunan pun terkadang aku masih merasa sepi, merasa sendiri. Kamu lagi, lagi-lagi kamu yang muncul di kepala ini. Jujur sebenarnya aku sudah bosan, bukankah merindukan orang yang nyata-nyata sudah pergi hanyalah akan membuatku payah sendiri? Ah siapa yang peduli, toh sejak kamu pergi aku sudah sangat terbiasa menyimpan rapat-rapat setiap kesedihan dalam hati.

Seperti biasa, hujan kali ini memaksaku mengingat kembali apa yang sudah kulalui, tentang kamu, tentang sakit yang dulu kau beri, tentang rindu yang hanya bisa kupendam sendiri. Tentang bagaimana aku pernah bermutasi seperti zombie, yang hidup tapi sebagian diri tidak lagi berfungsi. Tentang mimpi yang rasanya bisa digapai sedikit lagi, tentang harapan yang berkembang biak dalam angan namun harus diakhiri, tepat setelah kamu pergi.

Sejujurnya aku pun bingung harus menyebutmu sebagai apa. Kamu bukan yang pertama, tapi aku merasa denganmu lah semua bermula. Pastinya kamu bukan yang terbaik, karena yang terbaik tidak akan datang dan pergi seenaknya. Kamu juga bukan yang tanpa cacat cela, aku sudah melihat kekuranganmu dimana-mana. Ah apa pentingnya, toh nyatanya aku cinta! Ya sudah, dipersingkat saja, mungkin kamu lah yang terdalam dari semua cerita.

Aku mengingat bagaimana dulu saat aku dan kamu masih menjadi kita, aku bahagia, tapi juga penuh dengan air mata. Kamu mampu memberi rasa paling hangat di dada, tapi juga ahli membuatku menangis sejadi-jadinya. Kamu selalu pergi seenaknya, tapi saat datang lagi aku pasti menerima. Menutupi salahmu, memaafkan tanpa kamu minta, bahkan kamu mendua pun aku tutup mata. Aku pernah sekuat itu memperjuangkanmu, melawan rasa sakit hanya dengan kata "bersabarlah sedikit saja", aku tidak akan menyerah agar kita bisa terus bersama.

Advertisement

Tapi lihatlah, bagimu perjuanganku ternyata tidak berarti apa-apa. Kamu pergi lagi dengan seenaknya, kali ini tanpa ada kemungkinan untuk kembali menyapa. Namun jika rindu masih muncul di dada, aku harus menyalahkan siapa? Aku sudah berusaha menjauh darimu semampunya. Saat ini aku tidak lagi tahu dimana kamu berada, sedang melakoni hidup macam apa, mengejar mimpi seperti apa, atau apakah kamu benar-benar bahagia dengan dia yang kamu punya.

Dulu aku berjanji padamu untuk tetap hidup dengan baik selepas kamu pergi, setelah semua usaha yang kulakukan tidak lagi mampu menahanmu untuk tetap di sini. Aku memenuhi janjiku. Aku menuntaskan studi tepat waktu, menggeluti pekerjaan impianku, mendatangi semua tempat yang ingin kujelajahi dulu. Tapi tahukah kamu, aku menyibukkan diri, mengalihkan semua tenaga dan pikiranku mengejar semua itu sebenarnya agar aku tidak lagi memikirkanmu. Karena setiap kali berhenti aku akan kembali pada kebiasaan lamaku, mengingatmu!

Setelah kamu memutuskan untuk berlalu dan memilih dia yang memelukmu erat di sana, aku sudah membuang segala sesuatu tentangmu sebisanya. Menyingkirkan semua parfum di meja yang wanginya dulu begitu kamu suka, menghapus nomormu, menjauh dari sosial media, membuang fotomu sampai tidak ada lagi yang tersisa. Bahkan aku tidak pernah lagi mengunjungi kotamu, aku tidak sanggup melewati setiap sudut-sudut tempat kita dulu menghabiskan waktu bersama. Aku mencoba membuka hati pada mereka yang menawarkan cinta, namun lagi-lagi kamu selalu menjadi baku pembanding yang sempurna. Ah… tidak seperti dia, selalu saja kalimat itu yang muncul di kepala. Mungkin benar kata orang di luar sana, bahwa cinta pertama bukanlah dia yang pertama kali hadir dalam hidup kita, melainkan dia yang akan selalu menjadi pembanding untuk siapa pun yang datang selanjutnya.

Semestinya aku tidak lagi menyimpanmu dalam dada, luka yang kamu beri seharusnya membuatku mati rasa. Kamu sendiri mungkin sudah melupakanku sepenuhnya, tapi kamu masih saja memenangkan semua rindu yang kupunya. Aku tahu alasanmu pergi dulu karena memang sudah tidak lagi cinta, karenanya aku tidak lagi berharap kita bisa bersama. Berjuang sendiri terlalu menyakitkan rasanya. Yang kubutuhkan saat ini mungkin hanyalah waktu, berjuang menghadapi semua rindu sampai tidak lagi sesak di dada. Hidup dengan sebaik-baiknya, sampai tidak lagi meratap hanya karena hujan saja. Mencoba mengenali dia yang benar-benar baik hatinya, sampai kamu tidak lagi menjadi pembandingnya. Terus percaya bahwa semua ada waktunya.