Saya pernah sekali mencoba untuk berlari padamu, hati yang memaksa dan kemudian dengan terpaksa otak ikut tertuntun olehnya. Terkadang memang ada satu waktu dimana otak terkalahkan oleh hati. Ketika otak sudah tidak mampu lagi berpikir sesuai dengan keinginannya dikarenakan hati yang terlalu tamak ingin menguasai diri. Ketika hati sudah menguasai, apa yang masih bisa dipikirkan oleh logika yang terhenti sejenak tersebut?

Saya tahu, kamu hanya berpura-pura memberikan hati. Dan saya? masih tetap bertahan oleh harapan itu.
Harapan yang kamu berikan ke saya. Saya yang terlalu berharap hingga lupa bahwa harapan kini sudah tumbuh begitu tinggi. Lupa bahwa hati bisa saja terpatahkan oleh harapan meninggi itu.

Saya salah ketika memberikan kesempatan kedua untuk kamu?
Kesempatan kedua, dan kemudian kini kesempatan ketiga?

Ketika hati saya sudah terlalu lelah untuk berjalan di tempat, menunggu sesuatu yang tidak pasti, yang bahkan kamu sia-siakan lagi. Maka tidak ada salahnya untuk berhenti, bukan?
Bukan salah siapa ketika seseorang harus terpaksa meninggalkan, atau ditinggalkan, bukan?
Bolehkah saya mundur atas semua hal yang sia-sia ini?
Karena harus mempertahankan suatu hal yang sudah tidak pantas untuk dipertahankan lagi adalah hal bodoh. Menahan raga yang jiwanya sudah pergi adalah hal bodoh. Berjuang sendirian adalah hal bodoh, disini.

Dan, terima kasih untuk hati yang lelah, yang memberikan logika dan otak bekerjasama kembali untuk menguasai diri.
Saya melepas sesuatu yang hampir tergenggam.
Saya yang memperjuangkanmu, kini berhenti oleh rasa lelah atas perjuangan sendirian.

Advertisement

Terima kasih, sendu malam ini.