Kau datang dalam hidupku dengan cara yang terlalu biasa. Atas jasa seorang teman kita bisa saling berkenalan. Aku menganggap kehadiranmu biasa saja, tak ada yang istimewa saat itu. Tak ada desir di jantung yang membuat darahku tersirap atau sensasi ribuan kupu-kupu yang beterbangan di seisi perut. Aku tak jatuh cinta padamu pada pandangan pertama.

Setelah pertemuan itu ku kira semuanya akan berlalu begitu saja seiring berjalannya waktu. Ternyata aku salah. Semenjak hari itu kau semakin intens menghubungiku. Ada sesuatu yang sepertinya tengah kau perjuangkan. Aku menanggapimu dingin. Ada luka di dalam hatiku yang masih mengangah. Luka itu belum siap bila harus ditimpa dengan goresan tajam yang mungkin suatu hari kau ciptakan untukku. Aku bergeming dengan semua perhatianmu. Berharap lambat laun kau akan menjauh, begitu pikirku saat itu.

Kau masih tetap dengan pendirianmu. Menghujaniku dengan perhatian yang terkadang membuatku tertawa geli. Sungguh pada saat itu aku berpikir kau kadang mirip dengan seorang anak kecil yang takut kehilangan benda kesayangannya. Padahal ada atau pun tanpa aku, hidupmu masih tetap akan berjalan normal. Ada limpahan kasih sayang keluarga yang tak akan membuatmu kekurangan satu apa pun.

Pagiku menjadi lebih sering diributkan oleh omelan dan protes darimu karena aku tak sempat mengangkat telepon pagi buta tadi. Tak ada gunanya membantah saat itu, bagimu segala hal harus dilaksanakan tepat waktu. Sebuah kalimat manis yang memberitahuku bahwa kau akan bersiap-siap untuk berangkat kerja menjadi penutup pembicaraan singkat kita.

Ku sadari atau tidak, saat itu aku mulai bisa menerima kehadiranmu. Hatiku berlahan menyediakan sebuah ruang kecil untukmu. Perhatianmu membuatku merasa nyaman. Bukankah cinta bisa saja hadir karena telah terbiasa?

Advertisement

Berlahan kau mulai mendapatkan hatiku. Kesabaranmu menghadapi egoku lambat laun membuatku percaya bahwa ketulusan itu memang ada. Aku mulai membuka hati untukmu seiring luka yang mulai samar.

Sekarang bisakah kita berdua melalui hari–hari yang akan datang dengan lebih indah?