“ Aku sedang menikmati hujan yang turun dihatiku, menunggu hingga hujan reda agar aku bisa keluar dan menikmati dunia “

Sungguh skenario Tuhan itu memang tidak terduga, dari sekian lama waktu berlalu kenapa kau datang disaat sekarang? Dari sekian banyak orang kenapa aku bertemu denganmu? Dari sekian banyak tempat kenapa kau datang ke tempatku?

Berawal dari sebatas hubungan dalam satu tempat berubah menjadi hubungan yang dekat yang entah apa baikknya kusebut, setiap hari saat terbangun sampai saat terlelap kita berkomunikasi. Seakan sudah menjadi kewajiban untuk kita mengetahui kabar masing-masing, kita sudah saling memahami sifat satu sama lain, saling memberi perhatian bahkan sampai bertengkar dan akhirnya kembali bersama. Jelas ada rasa dalam hubungan kita, tapi sangat tak mungkin menamainya.

Aku hanya manusia biasa yang tentu saja punya harapan, berharap bahwa memang kita akan bersama. Kadang logikaku kalah dengan perasaan irasional yang setiap hari semakin jadi rasanya, aku harusnya sadar bahwa ini adalah suatu harapan yang salah. Atas nama cinta pun ini tetap saja sebuah kesalahan, hanya ego yang bisa membenarkannya. Bagaimana aku bisa terus ingat untuk berpikir rasional kalu kau selalu disampingku, selalu memberi perhatian yang tentu saja membuatku terlena dengan rasa irasional ini.

Tapi sering aku berfikir saat kau menghubungiku mungkin itu hanya disaat kau sedang bosan, sedang tidak ada pekerjaan, atau mungkin sedang tidak ada dia disisimu. Ya, aku hanya menjadi cadangan untukmu saat kau butuh kau akan datang tapi saat kau tidak butuh kau tidak akan ingat aku sedetikpun. Aku memang menjalani nya dengan sukarela, ya akupun tak menuntut apa-apa darimu. Kapan kau membutuhkanku aku pasti ada untukmu, selalu begitu.

Mungkin aku yang terlalu banyak berharap, sedangkan kamu hanya sebatas menjalaninya..kalaupun tak bisa bersama itu bukan masalah besar bagimu karena kau sudah memiliki apa yang tidak aku miliki. Jadi akan lebih mudah bagimu melupakanku.

Advertisement

Karena menurutku aku mencintaimu dan menyayangimu dengan tulus, dengan apa adanya dirimu sehingga apapun balasanmu aku terima. Sungguh aku tidak menyalahkanmu, aku sendiri yang salah kenapa memulai sesuatu yang salah. Tapi sialnya bagiku, kenapa disaat aku sudah berusaha sekuat mungkin untuk menjauh darimu, ada saja jalan untuk kita bertemu. Aku harus selalu berkomunikasi denganmu, padahal sungguh aku sudah lelah dan ingin menyudahinya. Karena sakitnya harus menikam hatiku sendiri di setiap detik yang kulalui.

Aku hanya ingin Tuhan memberikan ku rejeki agar bisa mendapatkan pekerjaan diluar kota atau bahkan diluar negeri, tentu itu akan membuat kita tidak bisa bertemu dan membuatku sedikit lebih mudah, mudah untuk melupakanmu.

Terima kasih sudah memberiku ku pelajaran sehingga aku tau rasanya sakit, agar aku bisa lebih menghargai perasaan orang lain. Terima kasih sudah memberiku pelajaran sehingga aku tau bagaimana harus bersikap ikhlas karena tidak semua yang kita inginkan harus kita dapatkan.

Semoga aku bisa berdamai dengan hatiku sendiri, menyembuhkan lukaku sendiri dan dengan caraku sendiri.