Aku pernah mengalami patah hati yang sangat dalam, hancur berkeping-keping ketika aku mengetahui lelaki yang aku cintai diam-diam selama dua puluh tujuh bulan ternyata akan menikah dengan pujaan hatinya. Sedih? Iya. Rasanya saat mendengar pernikahan yang secara tiba-tiba dan kedekatan kalian yang sebelumnya tidak pernah terekspos membuat hatiku hancur.

Segala macam penyesalan di dalam diriku yang akhirnya membuatku sadar pernikahan itu akan terus berjalan, sekalipun aku harus merengek kepadamu untuk sekali saja mengetahui keberadaanku dan perasaanku selama dua puluh tujuh bulan ini. Aku memang harus menghapus semua khayalan-khayalan indah yang pernah aku impikan denganmu, menyusuri jalanan yang penuh dengan bunga sakura di bulan April, menikmati Golden Week bersama denganmu, bertamasya ke Tokyo Disneyland, berlibur ke Okinawa bersama anak-anak kita kelak.

Ah, impian itu harus kuhapus semuanya secara tiba-tiba karena kau akan menikah dengannya…

Tak mudah melupakanmu secara tiba-tiba, menghilangkan semua memori impianku bersamamu kelak. Walau aku tahu, semua yang kulakukan selama ini tampak seperti manusia bodoh yang putus asa, karena hanya mengagumimu dari kejauhan dan tidak pernah melakukan sedikit upaya agar kau mengetahui keberadaanku, agar kau mengetahui bahwa ada perempuan yang menunggumu bertahun-tahun dan siap menjadi pendamping hidupmu kelak. Aku pun harus menjalani hidupku dengan kesedihan, sebulan, dua bulan, tiga bulan kulewati dengan penuh air mata dan penyesalan.

Bodohnya aku masih melihat Facebookmu setiap hari. Saat kau mengucapkan ijab qabul, menggandeng tangan istrimu, mengecup kening istrimu, memegang buku nikah tanda SAH-nya kalian berdua. Dan hal yang lebih bodoh aku lakukan adalah aku mengunduh video saat engkau mengucapkan ijab qabul, dan masih saja berharap wanita yang ada di depanmu itu adalah aku.

Advertisement

Hari-hari yang berat pun aku lalui, meskipun sulit dan masih terasa sesak di dada saat melihat foto-foto terbarumu dengan istrimu di negeri yang aku impikan tersebut. Hingga Tuhan memberikan aku kesempatan untuk menuntut ilmu yang lebih tinggi dan keluar dari zona nyamanku untuk merasakan merantau. Aku tidak mengerti maksud dari ini semua, aku patah hati, aku tidak mendapatkannya, tetapi Tuhan memberikan aku kesempatan untuk kembali belajar. Mungkin dengan kesibukanku yang baru, aku akan mulai melupakan kejadian itu dan dia.

Ternyata tidak, perasaan itu semakin sakit sekali ketika aku mengalami stres akan tugas-tugas dan presentasi yang hampir tiap minggu harus aku lakukan. Di saat istrinya sedang memasak di dapur dan menunggu kehadirannya setelah pulang bekerja seharian, aku di sini harus begadang karena mengerjakan tugas. Di saat mereka akan berlibur ke taman setiap weekend, maka aku akan sibuk di depan layar komputer untuk mempersiapkan presentasiku di hari Senin. Sungguh hidup terasa tidak adil.

Perbedaan yang sangat kontras yang istrinya lakukan dengan yang aku lakukan, dia tidak lagi berhadapan dengan profesor-profesor, sedangkan aku masih harus bertahan untuk menghadapi profesor-profesor. Jujur, aku merasa aku menjadi manusia paling tidak berguna karena aku sudah berada di umur-umur yang seharusnya sudah menikah dan menggendong anak, memberikan cucu untuk kedua orang tuaku, menyiapkan sarapan untuk suamiku, dan menunggunya pulang kerja sambil mendengarkan keluh kesahnya saat di kantor.

Hingga pada suatu hari, aku menerima pesan masuk dari seseorang yang namanya tidak aku kenal dan berkata ingin berkenalan denganku. Aku tidak menanggapinya karena aku menyangka bahwa ini adalah orang iseng yang seharusnya tidak aku tanggapi, tetapi dia tetap mencoba menghubungiku, hingga akhirnya dia berkata bahwa dia berada di depan parkiran kampusku. Aku pun mengintip dari lantai tiga untuk berjaga-jaga, apakah ini hanya sebuah prank dari teman-teman sekelasku karena mereka mengetahui aku sedang patah hati.

Aku tidak melihat siapa-siapa di depan parkiran dan aku kembali mengabaikan pesan tersebut. Aku pun keluar kelas dan berjalan keluar gedung kampusku. Tiba-tiba ada yang menghampiriku dan berkata bahwa dia sudah menungguku selama tiga jam karena aku tidak membalas pesan yang ia kirim. Aku terkejut karena aku mengira pesan itu adalah kejahilan dari teman-temanku dan ternyata sama sekali bukan. Aku melihat seorang lelaki tinggi di depanku dan dia sedang menjelaskan identitasnya.

Ternyata dia adalah teman dari saudara sepupuku yang sedang bekerja di luar negeri dan sedang berlibur di Indonesia. Dia melihat fotoku di Instagram sepupuku dan langsung meminta nomor teleponku ke sepupuku. Dia langsung mengajakku pergi dan aku menolaknya. Toh, aku juga belum tahu dia ini orang baik atau bukan, kok bisa-bisanya langsung mengajakku pergi.

Dia kembali meyakinkanku bahwa dia adalah orang baik-baik dan tidak ada sama sekali niat untuk berbuat jahat kepadaku. Akhirnya akupun setuju untuk ikut pergi dengannya, ternyata dia adalah pribadi yang sangat mengagumkan, dia sangat paham sekali tentang agama dan aku melihatnya sebagai pria yang sangat santun. Dan lagi, aku kembali mengingat sosok di masa laluku, yang saat ini sedang aku coba untuk lupakan, sepertinya kepribadian mereka hampir sama.

Walaupun aku belum pernah bertemu dengan masa laluku itu, tetapi aku sering mendengar dari keluargaku bahwa dia adalah anak yang sangat baik dan sangat mengerti agama. Hampir seminggu ini dia selalu menungguku selesai kelas dan bertemu denganku hanya untuk sekadar makan siang atau makan malam. Aku mulai merasa nyaman dengannya.

Pada suatu malam, ketika dia akan kembali lagi ke negara tempat ia bekerja. Ya, dia juga bekerja di Jepang, dan satu perusahaan dengan masa laluku, tetapi aku tidak berani bertanya apakah dia mengenal sosok masa laluku itu, karena itu akan kembali membuka luka di hatiku. Dia mengatakan kepadaku bahwa ia serius denganku dan ia akan kembali datang untuk bertemu dengan kedua orang tuaku saat Golden Week, karena pada saat itu Jepang memiliki tradisi yaitu libur selama seminggu penuh.

Aku pun tidak langsung mengiyakan karena semua ini terkesan sangat singkat dan aku juga belum mengetahui latar belakang keluarganya. Aku pun mengatakan apa yang terjadi selama seminggu ke belakang dengan orang tuaku, dan orangtuaku mengatakan bahwa mereka menunggu kedatangan lelaki ini saat bulan Mei. Aku pun terkejut dengan keputusan orang tuaku yang juga mendadak.

Golden Week pun datang, dan dia menepati janjinya untuk bertemu dengan orang tuaku. Meminta restu kepada orang tuaku dan meminta izin untuk membawaku ke negeri sakura setelah kami menikah nanti. Orang tuaku pun menyetujuinya dan merestui hubungan kami. Seketika, aku mengingat kejadian tahun lalu, tepat saat Golden Week. Masa laluku juga melamar kekasihnya dan aku sangat terpukul akan kejadian itu, tetapi tahun ini… Ada seseorang yang melamarku tepat di saat Golden Week.

Terima kasih Tuhan, akhirnya aku bertemu dengan orang yang tepat dan selama ini aku tunggu. Persiapan pernikahan kami hanyalah 4 bulan dan aku harus mempersiapkannya sendiri karena dia sudah kembali ke negeri sakura. Semua dia serahkan kepadaku dan aku terus berdiskusi dengannya meski jarak yang memisahkan kita, karena aku tidak mau ada perselisihan adat saat sudah hari H.

Aku juga harus mengurus visa kepindahanku ke negeri sakura sendirian, tanpa ditemani olehnya. Sekali lagi, aku bahagia. Akhirnya, aku bisa tinggal di negeri sakura walaupun kenyataannya aku tidak tinggal di sana dengan lelaki yang pernah kucintai selama dua puluh tujuh bulan secara diam-diam. Tetapi aku bersyukur karena aku bisa bertemu dengan dia yang sekarang mencintaiku.

Hari yang ditunggu pun tiba, kau mengucapkan ijab qabul dengan sekali nafas dan aku melihat wajah sedih di raut ayahku. Akhirnya aku menikah dan ayahku melepaskan tanggung jawabnya secara penuh kepada lelaki yang baru saja tangannya digenggam oleh ayahku. Ayah… Izinkan aku membangun rumah tangga bersama lelaki pilihanku. Doakan aku agar lelaki ini bisa menjagaku, layaknya engkau menjaga aku dari kecil. Semoga lelaki ini memanglah orang yang paling tepat untukku menghabiskan waktuku bersama dengannya.

Semoga ayah dan ibu sehat-sehat saja saat aku berada di negeri orang. Aku menepati janjiku kepada ayah bukan? Karena aku pernah berjanji, suatu saat aku akan pergi ke negeri sakura dan melihat bagaimana negara ini sangat maju dalam hal apapun. Aku tidak hanya berkunjung ayah, tetapi aku akan menetap di sini untuk waktu yang tidak bisa ku tentukan…

Hari ini, aku resmi menjadi seorang istri…

Istri dari lelaki yang akan kucintai selama hidup dan matiku…

Seminggu setelah menikah, kami langsung berangkat ke negeri sakura dan berencana menghabiskan jatah cuti suamiku di Jepang. Kami akan berlibur di Jepang. Kami pun mengadakan acara kecil-kecilan dan mengundang teman-teman suamiku yang juga bekerja di Jepang. Aku khusus membawa bumbu-bumbu masakan Padang, yang rasanya sudah tidak diragukan lagi untuk menjamu tamu-tamu suamiku. Dan yang pasti, mereka yang sudah lama tidak pulang ke Indonesia pasti akan rindu dengan masakan Padang, maka dari itu aku mencoba memasaknya di sini.

Persiapan memasak sudah kumulai dari dua hari sebelumnya, karena waktu yang dibutuhkan untuk memasak rendang cukup lama. Aku juga memasak dendeng balado dan ayam goreng, tidak lupa aku juga menggoreng kerupuk udang sebagai pelengkap masakanku. Aku cukup berterima kasih kepada suamiku karena ia banyak membantuku di dapur. Aku sangat lelah karena aku memasak dalam porsi yang cukup besar.

Hari yang ditunggu pun tiba. Teman-teman suamiku mulai datang satu persatu dan aku dikenalkan kepada mereka, hingga aku melihat sosok yang tidak asing selama ini dipikiranku. Aku melihat masa laluku bersama istrinya. Ya. Dia nyata. Dia kini ada di hadapanku.

Kalian tahu bagaimana perasaanku saat itu? Aku sangat kaget, aku tidak menyangka pertemuan ini akan terjadi, dan aku juga tidak menyangka bahwa mereka adalah sahabat dekat karena mereka berasal dari universitas dan jurusan yang sama saat di Indonesia. Aku terpaku menatapnya. Aku tidak mimpi. Aku melihatnya. Ya, aku melihatnya. Aku bersalaman dengannya dan tersenyum, tanganku terasa berkeringat dan aku mulai pucat. Kenapa semua harus terjadi? Mengapa aku harus bertemu dengannya di saat aku sudah melupakannya dan memulai kehidupan baruku?

Tuhan, terima kasih sudah mempertemukan aku secara tiba-tiba dengannya di saat aku sudah melupakannya. Aku memang sangat ingin bertemu dengannya, tetapi itu tahun lalu, bukan saat ini. Di saat aku sudah menggantungkan harapanku sepenuhnya kepada suamiku saat ini. Apakah maksud dari semua ini Tuhan?