Semesta kali ini mempertemukan kita kembali, oleh kesepakatan waktu yang telah direncanakan. Purnama menjadi saksi pertemuan kembali dua anak manusia yang pernah berada dalam batas kebekuan. Pun detik juga mulai menceritakan kembali perjalanan panjang yang pernah terhenti itu. Duka nestapa yang pernah hadir beberapa waktu lalu telah terganti oleh nyala yang lebih terang.

Tahukah kamu, sesungguhnya aku tidak benar pergi, tak mudah bagiku untuk meninggalkan tempat yang sebelum aku sampai disana hatiku sudah terlebih dulu tinggal. Kau menggetarkan kembali rasa itu. Sesungguhnya kau adalah tempat yang membuatku takut untuk pergi. Untuk sekarang aku minta temanilah aku dan tertawalah bersamaku sampai batas akhir tempat ini.

Perjalanan yang kita lalui memang tidak mudah, terkadang hembusan angin yang kuat di atas melepaskan genggaman ini. Tapi kembali kau meraih dan menahannya untuk jatuh.

Terimakasih untuk penerimaan tulus tanpa paksaan yang telah kau berikan padaku ini. Terimakasih untuk keyakinan bahwa aku akan baik-baik saja selama ada kau disampingku. Terimakasih telah Berkata maaf mengesampingkan ego dan gengsi. Terimakasih untuk kebahagian yang kau hadirkan dalam setiap detik waktuku.

Sekarang kau sudah berada di dalam ruang kosong yang pernah terabaikan, jagalah dia karna hanya kau yang aku izinkan untuk tinggal di dalamnya. Perihal kebahagiaan yang selalu menjadi pertanyaan biarlah aku yang agendakan. Karena semua sudah tertata rapi dalam rangkaian kalimat indah yang kuhanturkan setiap berbincang dengan Tuhan Pemilik Semesta.