Hai. Apa kabar?"

Ingin sekali aku menyapamu seperti itu. Bukankah dulu kita pernah dekat bahkan sangat dekat. Meskipun tanpa saling bertatap muka setiap hari kita dulu tak pernah absen melewatkan obrolan kita via chating. Setiap hari, every day. Tapi sekarang kita begitu jauh bahkan untuk menyapa duluan aku pun harus berpikir berulang kali seandainya kamu tak membalas dan mengabaikanku aku pasti sangat malu. Ya gengsi di diri ini begitu besar tapi aku merindukan masa itu. Dan beberapa hari ini aku melihat postingan pada akunmu. Kamu terlihat begitu amat sangat galau. Aku rasa ini bukan kamu yang pernah aku kenal dulu. Dulu? Begitu sudah lama kah? Iya, memang sudah cukup lama kita tak saling sapa. Sampai akhirnya kini aku melihat beritamu dipostingan akunmu yang mana aku bisa membaca dengan jelas bahwa keadaamu sedang tidak baik-baik saja.

"Kamu ada apa? Cerita saja."

Andai aku bisa dengan mudah memulai percakapan itu denganmu. Mungkinkah dulu kamu yang pernah memberi perhatian lebih kepadaku menjauh karena ada sosok yang lain. Yang saat ini tengah membuat perasaanmu galau. Sampai-sampai akunmu yang anti galau kini berubah menjadi curahan hatimu? Begitu hebat sosok itu. Aku dulu sempat merasa mungkinkah aku satu-satunya perempuan yang saat itu sedang dekat dengamu. Karena dari caramu memberikan perhatian yang lebih dari seorang teman lawan jenis begitu berbeda menurutku. Tapi ntah dimulai darimana keadaan merubah hubungan kita. Kita tak sedekat dulu lagi dan ada satu hal yang membuatku ntah harus seperti apa aku menanggapi bahwa kamu tengah galau oleh orang lain. Mungkin dengan seseorang yang begitu sepesial dimatamu. Yah, aku begitu yakin dengan pendapatku ini dan ini memberi jawaban atas pertanyaanku selama ini. Mungkinkah karena seseorang itu kamu menjauh bahkan mungkin sekarang telah melupakan sosokku? Ahh, sekarang aku tahu. Haruskah aku bilang kamu sama saja seperti kebanyakan para laki- laki diluar sana. Tapi aku tak bisa marah, mungkin karena dulu kita hanya punya hubungan teman dan gak lebih dari itu. Iya hanya teman.

Seharusnya dulu kamu menyadari aku pernah berharap hubungan kita lebih dari teman. Tak bisa aku pungkiri, bahwa keakrabanku denganmu begitu merubah hidupku. Hidupku yang pernah kacau balau oleh seorang laki-laki yang begitu aku cintai. Kamu hadir tepat sekali saat aku benar-benar putus asa. Kedekatan kita berdua bagiku begitu cukup lama dengan caramu memperlakukanku seperti itu. Dan wajarkan jika aku pernah berharap lebih.

Advertisement

Ahh untunglah kesibukanku dengan pekerjaanku sedikit menyita waktuku untuk berhenti dengan pertanyaan kenapa kamu menjauhiku. Dan aku baru sadar dan mulai teringat kembali ketika melihat status di media sosialmu. Hey kamu yang bisa begitu membuatku nyaman sepertinya kamu sedang patah hati dan galau. Apakah itu hukuman buatmu?

Aku tidak pernah bermaksud ingin mendoakan keburukan datang padamu. Tapi harusnya kamu tak perlu melakukan pendekatan dengan perempuan yang sedang rentan hatinya ketika baru saja disakiti oleh seseorang lantas kamu alih-alih menjadi obat kesembuhan untuk hatinya lalu kamu membuatnya merasa nyaman dan tidak punya niat untuk melakukan hubungan yang serius dan pergi begitu saja ketika kamu sudah mendapatkan separoh hatinya yang baru saja tertata rapi.

Tapi lihatlah sekarang aku bisa belajar dari semuanya, aku pernah belajar dari hubungan serius tapi dikhianati dan sekarang dari kamu si pemberi harapan yang juga pergi meninggalkanku.

Aku bersyukur sampai saat ini aku masih baik-baik saja. Dan ketika kamu menemuiku setelah sekian lama kamu menghilang aku masih tetap aku yang masih bisa tersenyum tanpa ada rasa kecewa. Aku ikhlaskan semuanya yang pernah terjadi diantara kita. Karena aku yakin inilah salah satu perjalanan cintaku yang harus aku lewati.