Aku sebenarnya wanita baik-baik meski banyak yang menganggapku tidak baik. Mungkin karena malamku bertarif. Jika ada yang mau, aku bisa menjual siangku. Atau ada yang mau membayar pagiku? Aku tak keberatan. Aku ‘menjualnya’ kapan saja. Aku tak merugikan siapapun, karena satu-satunya yang rugi disini adalah aku. Aku tidak mencuri, menjambret apalagi merusak rumah tangga orang. Itulah mengapa aku menyebutku sebagai wanita baik-baik.

Jangan tanya alasan, karena lebih dari 90% makhluk sepertiku akan melandaskan ekonomi. Aku mengiyakan bertahan hidup di ibu kota seorang diri memang tidak mudah. Tapi itu hanya alasan. Orang-orang sepertiku hanya terlalu gengsi kerja kantoran dengan gaji yang pas-pasan. Benar. Kami ingin yang instan dan bayaran yang lumayan meski mengancam kesehatan.

Seperti malam-malam sebelumnya. Malam itu aku punya janji dengan orang asing. Longtime. Artinya dia bersedia membayar malamku hingga pagi datang. Aku memasuki ruangan yang sudah ia pesan. Disinilah aku menjual semua yang aku punya. Waktu dan harga diri.

Klien ku malam ini agak aneh. Ia membayarku dimuka sambil berkata,

“Malam ini, tidak apa-apa kan aku menganggapmu sebagai kekasihku?” Aku hampir tertawa mendengarnya. Tanpa ia tanyapun, aku sama sekali tidak keberatan karena ini memang bagian dari ‘jobdesk’ku.

“Untuk malam ini juga, anggap aku kekasihmu.” Kata dia lagi. Aku tersenyum dan memeluknya di tepi ranjang.

Ia menatapku dalam-dalam sambil tersenyum. Mengusap rambutku. Dan perlahan mencium bibirku. Entah aku yang tidak sadar atau dia yang terlalu lembut, tiba-tiba aku sudah berada di bawahnya. Kami memulainya. Aku bisa melihat cermin di ujung ranjang, kami saling bergumul. Mengejar puncaknya masing-masing. Jarum jam terus berdenting menembus ruang yang tak lagi hening. Dalam ruangan dengan cahaya yang temaram, aku bisa mendengar lenguhan nafasnya juga nafasku. Barangkali ia kepayahan mengendalikan nafsunya sedangkan aku melakukannya dibawah kendaliku agar ia menikmati apa yang telah ia beli. Benar, ia baru saja membeli kepalsuan. Aku melakukan semuanya dengan akal yang tak lagi sehat. Bukan dengan hati, karena bagiku hati terlalu suci untuk dicampur adukan dengan pekerjaanku yang jelas haram ini.

Tiba-tiba ia berhenti. Menatapku lembut sambil mengusap keringat di dahiku.

“Kenapa diam saja kalau kamu capek?” lalu ia mendekapku.

“Aku tidak keberatan jika kau ingin melanjutkan.” Sahutku.

Ia menggeleng sambil terus mendekapku. Tubuhku seolah tenggelam dalam pelukannya.

“Aku tidak ingin melihat kekasihku kelelahan. Bagaimanapun, aku ingin kamu menikmati ini. Bukan sekedar memberi apa yang sudah aku beli.” Katanya sambil tersenyum lagi. Aku masih dalam pelukannya. Merasakan detak jantungnya dan jantungku yang berdetak saling berdekekatan. Merasakan kehangatannya. Aku tenggelam bukan hanya pada pelukannya juga pada tatapannya yang begitu dalam.

Kami memulainya sekali lagi. Ia melakukannya dengan lembut. Aku juga. Sesekali matanya terpejam. Aku juga. Ia melenguh karena kenikmatan, aku pun demikian. Kami saling berdekapan seolah saling takut kehilangan. Ah sial! Kenapa aku melakukannya dengan perasaan?

Aku terbangun saat matahari mulai bersinar. Aku melihatnya baru saja membuka jendela. Membiarkan sinar matahari menembus kaca.

“Selamat pagi, cantik.” Katanya sambil menoleh padaku. Hatiku berdegup sedikit. Ups! Apa ini? Aku bahkan lupa kapan terakhir kali merasakan perasaan yang aneh seperti ini. Aku hanya tersenyum tanpa membalas sepatah kata pun. Sepertinya ia tak hanya berhasil membeli malamku, tapi ia juga berhasil membeli seluruh hidupku.

Setelah hari itu, kami sering menghabiskan waktu setiap akhir pekan. Sebenarnya kami hanya menonton film dan makan. Tapi aku merasa berkesan. Apa ini yang disebut kencan? Entahlah! lagi pula kami tak lebih dari teman. Lalu aku mulai mengharapkan kabar darinya setiap hari. Aku selalu ingin tahu kemana ia pergi. Aku kira aku hanya akan mengenalnya sampai merasa nyaman, tapi ternyata sampai aku takut kehilangan.

Tuhan, ini apa? Aku mulai merasa bersalah telah jatuh cinta pada saat yang tidak seharusnya. Bagaimana mungkin cinta itu lahir dari dosa yang sudah kuukir. Apakah perasaan ini yang akan mencambukku setiap hari atas apa yang telah aku lakukan selama ini? aku menyadari satu hal. Aku sama seperti wanita pada umumnya. Aku jatuh hati. Aku mulai membutuhkan dirinya. Dan hal pertama yang kusebut dalam doa bukan lagi harta, ia bernama cinta.

Suatu malam di akhir pekan, kami duduk berhadapan. Ia menggenggam kedua tanganku. Lagi-lagi menatap mataku dalam-dalam. Di atas meja kami ada sebuah cincin. Benar. Ia menawarkan sebuah pernikahan.

“Kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dariku.” Sahutku. Bukan aku tak mau, Tapi aku malu karena belum cukup baik.

“Kamu juga bisa mendapatkan laki-laki yang lebih baik dariku. Ini bukan tentang seberapa baik yang kita dapatkan, tapi tentang yang bersedia saling memperbaiki satu sama lain.” Kata dia yang menurutku cukup bijak. Lagi-lagi aku hanya bisa terdiam.

“Dengan ini aku ingin jadi satu-satunya pemilik malammu. Juga pagi dan siangmu. Aku ingin memilikimu dan seluruh hidupmu lewat pernikahan ini.”

Saat itu juga aku tak bisa menahan tangisku. Aku tersenyum sambil menahan air mata agar tak jatuh lebih banyak. Ia mendekapku. Memelukku dengan hangat. Pelukan yang akan aku miliki sepanjang hidupku.

Tuhan, Aku ingin bersamanya menghabiskan waktu hingga hari tua. Restui kami, Tuhan. Sembari perlahan keluar dari lubang kemaksiatan, biarkan hati kami saling berdekapan dalam ikatan yang Engkau perkenankan.