Hamparan senja membawaku pada kenangan bersamamu. Awal berkenalan denganmu, aku tak pernah berpikiran sejauh mana hubungan kita. Aku hanya perempuan yang akan selalu menikmati proses. Proses yang pada akhirnya membuahkan hasil yang entah itu menggembirakan atau bahkan menyedihkan.

Lambat laun kau memberikan sebuah kenyamanan yang tidak aku dapatkan dari orang lain.

Dari awal aku sudah menasihatimu bahwa jangan terlalu baik jika kau hanya menganggapku sebatas teman, namun nyatanya kau tak pernah menghiraukan kata-kataku. Bahkan, kau seolah-olah ingin menegaskan bahwa kau tidak menganggapku teman. Lambat laun kau memberikkan sebuah kenyamanan yang tidak aku dapatkan dari lelaki manampun yang pernah kukenal. Terus-menerus kau membuatku nyaman dan pada akhirnya membawaku terperosok pada perasaan yang manusia menyebutnya 'cinta'.

Perhatianmu padaku membuatku semakin bimbang, benarkah kau menaruh rasa padaku?

Kubawa rasa bimbang dan penasaran pada setiap malam. Jujur, rasa penasaranku padamu membuatku semakin tersiksa dan susah memejamkan mata. Berhari-hari kukumpulkan tekadku untuk menanyakannya padamu. Hingga pada akhirnya, kuluapkan semuanya padamu. Saat itu, aku hanya mendapati sebuah senyum manis dari wajahmu sebagai jawaban atas segala pertanyaanku. Tapi sikapmu tetap saja tak pernah berubah padaku. baiklah, aku ikuti permainanmu

Advertisement

Kesaahanku, karena aku telah jatuh hati terlalu dalam padamu.

Layaknya pasangan muda-mudi, kau sering mengunjungiku, mengajakku pergi keluar hanya untuk menikmati indahnya malam bersamaku. Saat kita lama tak bertemu, kau sempatkan mengirim pesan singkat sekedar untuk melepas rasa rindumu padaku, itu katamu. Saat itu pula, aku sadar bahwa aku telah jatuh hati padamu meskipun aku tak pernah tahu bagaimana sebenarnya perasaanmu padaku. Intinya aku begitu bahagia bersamamu.

Seiring berjalannya waktu, akupun mendapati kecewa besar pada hatiku. Aku mengetahui bahwa sejatinya itulah sikapmu, selalu baik pada setiap teman wanitamu. Kudapati kenyataan bahwa sebenarnya kau sayang padaku layaknya seorang kakak yang menyayangi adiknya. Ternyata aku yang terlalu dalam memaknai perasaanku hingga akhirnya lukalah yang kudapat.

Semenjak saat itu, kuputuskan untuk menghentikan perasaanku. meskipun berat menerima kenyataan, tapi aku harus rela melepaskanmu yang sejatinya tak pernah mencintaiku