Kembali aku terluka untuk kesekian kalinya, tak apa itu sudah rutin kulakukan.Aku terus menangis untuk alasan yang sama dan kau pasti mengenal baik alasanya. Minggu lalu kau buat pipiku merona sepanjang hari, tak habis-habisnya kau ukir senyum di wajahku, tapi mungkin kau sudah bosan melihatnya sehingga kau merubah sedikit pemandangan diwajahku menjadi lebih berawan dan kelabu. Kau menyukainya?

Bagaimana kabarmu disana?

Bahagiakah engkau?

Kulihat banyak sekali teman wanita yang menemanimu disana, ya itu wajar karena setiap mata yang memandangmu pasti akan tertarik menatap mata indahmu, karya Tuhan yang tak pernah bosan kupandangi. Akhir-akhir ini kau pasti sangat sibuk, kulihat di media sosial kau berkelimpahan salam dan kalimat-kalimat mesra dari mereka yang kini bersamamu.Apalah dayaku,bahkan sekedar menatapmu aku tak mampu,apalagi menitipkan salam seperti yang mereka lakukan.Aku pengecut.Ya itu benar seperti itu lah aku,yang kulakukan hanya menatap sebatas punggung mu dan menghirup sekilas parfum yang kau kenakan.Akulah wanita yang selalu memujamu dalam setiap hembusan nafasmu. Aku lah dia yang ada dibelakangmu saat kau tak pernah melihat kebelakang.

i can't take my eyes of you

Advertisement

Aku adalah penguntit yang selalu memperhatikan setiap aktivitasmu. Sedang apa kau,baju apa yang kau kenakan, dengan siapa kau berbicara,aku tau.Tapi Kemarin aku tak melihat apapun.Dimana dirimu? Biasanya kau selalu aktif di sosial media, sekedar post foto dengan wanita-wanitamu atau membalas komentar-komentar dari orang terdekatmu.Akun mu tampak senyap tak berpenghuni.

Katakan sesuatu agar aku tak lagi merindumu.

Aku rindu menatapmu dari kejauhan, aku rindu mengamatimu,aku rindu wangi parfummu. Aku ingin kau disini. Bersamaku. Bukan wanita itu. Aku ingin kau tau aku memujamu,tapi aku terlalu takut untuk bicara.Memangnya siapa aku ini? Cerobong asap yang berharap akan ada seorang pangeran yang menjemputnya. Sayangnya ini bukan dongeng.

Ini kisah nyata tentangku yang sedang terpaku tak tau harus apa supaya kau kudapatkan.Ini kisah tentang aku yang selalu cemburu dengan mereka yang dengan lantangnya dapat berbicara. Ini aku yang benci pada takdir karena tak pernah memberi kesempatan untuk aku dan kau menjadi kita.