Perpisahan membuat kita sedikit berjarak, memiliki jeda yang seharusnya tak ada. Berpisah dengan siapapun pasti membuat hati menjadi terluka. Lantas tak perlu heran jika ada yang sampai menangis tersedu-sedu. Karena disetiap pisah, akan selalu ada hilang. Hilang yang berhasil membuat segalanya tak tenang. Mungkin aku masih betah bertualang, tunggulah hingga aku pulang.

Langit terasa begitu tinggi, jika aku hanya terbang dengan satu sayap. Tanpa mu, semua berjalan tak seimbang. Beberapa pekan terakhir aku semakin merindukan mu, ingin segera bertatap rupa tapi aku belum bisa. Bukan tidak bisa, hanya belum bisa. Semoga semua segera berlalu, diam-diam rindu ini tak pernah tahu waktu. Lalu aku coba menuliskannya, mengeja rasa. Agar engkau mampu memahaminya. Sebut saja ini surat terbuka, lekaslah dibaca.

Teruntuk,
Laki-laki panutan keluarga ..

Aku perhatikan akhir-akhir ini disekelilingku.
Ada mereka yang rambut hitamnya perlahan kini mulai memutih,
Kerut disekitar mata dan dahi pun, konturnya semakin nyata.
Mungkin sekarang ayah seperti mereka, sama.

Bagaimana perasaan ayah ?
Apakah ayah cemas karena menjadi tua ?
Apakah ayah takut tak lagi kami cinta ?

Advertisement

Ayah tak perlu cemas ataupun takut.
Seberubah apapun diri mu kelak,
Pada mu kami tetaplah sama.
Seperti senja pada langit, selalu setia.
Seperti pahit pada kopi, tak berubah rasa.

Ayah,
Entah esok atau lusa,
akan ada laki-laki yang baik dan yakin hatinya untuk datang mengetuk pintu rumah.
Menemui mu demi sebuah restu.

Laki-laki yang akan menerima dan melengkapi kurang ku.
yang hanya tahu harus membuat ku bahagia,
meski sebenarnya perihal sedih bagi ku bukan masalah.
yang akan menjaga ku lebih baik dari laki-laki yang pernah menjaga ku dengan baik.

Padahal dia tahu betul tentang laki-laki yang penjagaannya paling baik hanyalah ayah.
tapi laki-laki ini akan tetap mengusahakannya, untuk ku.

Dan yang terakhir,
Selamat bertambah usia ..
Banyak semoga dalam doa, untuk ayah tercinta.

Tertanda,
Anak sulung mu.

Rasanya tak pernah habis kata demi kata jika ini tentang mu. Kamu selalu berhasil mencuri perhatian, menjadi pusat pada semesta ku. Ayah adalah seseorang yang tak pernah bosan untuk ku beritakan kepada Yang Maha Kuasa dan dunia. Laki-laki yang paling tampan dengan cinta yang pasti nyaman dan aman, jauh dari luka. Dan tak perlu khawatir tentang ku, aku tahu bagaimana cara berjuang dengan sangat keras agar terus tumbuh kuat.

Terimakasih untuk segala macam hal yang telah diperjuangkan. Terimakasih untuk tidak pernah sekalipun memarahi ku, dan untuk majalah Bobo yang selalu ayah belikan dulu. Terimakasih juga untuk maaf yang selalu ayah beri tanpa perlu ku pinta. Terlalu banyak terimakasih yang ingin aku sampaikan, dan ingin ku yang paling sederhana: tolong tetap jaga diri ayah dengan baik, sebaik aku menjaga mu dalam tiap sujud dan doa.