Ah, entah tiba-tiba saja kenangan tentang dirimu, menghampiriku. sudah berapa lamakah kita tak saling memberi kabar. bahkan mungkin di masing-masing kita sudah melupakan bahwa kita ini masih hidup. aku berpikir mengapakah dulu kita harus menjalin kasih, jika persahabatan diantara kita sudah sedemikian nyamannya.

ragu-ragu ku jawab iya atas tawaranmu menjalin kasih bersama

Bagaimanakah mengubah ini persahabatan menjadi pacaran. tentu saja ada kecanggungan. tapi seiring berjalannya waktu kita terbiasa, saling mengucapkan kata sayang dan rindu. menikmati waktu berdua saja tanpa orang lain.

Dan benar saja sebuah hubungan yang dimulai dengan keraguan tak berjalan dengan baik. Ketika kita sudah sulit untuk bertemu karena jadwal kerja yang tidak sama, di satu sisi kamu lebih sibuk dengan teman-teman dan club motormu itu. Dan jujur aku amat tidak menyukainya. Dan seringnya aku marah tanpa sebab, tak kau pahami. Ya, memang inilah aku yang tak pernah bisa beterus-terang mengenai apa yang kurasa.

Sampai akhirnya aku pindah kerja dekat dengan rumah, maka semakin jauhlah kita. Intensitas bertemu yang semakin jarang, komunikasi yang semakin berkurang karena bentroknya jadwal kerja. hal itu semakin membuat hambar hubungan kita.

Advertisement

Aku tau kamu berjuang dengan kerasnya demi hubungan kita.

Menghampiriku ke rumah sedemikian jauhnya, menyempatkan waktu untuk sekedar bertemu. tapi apalah daya yang kurasa sudah hambar di hati. seringnya aku marah tanpa sebab kepadamu dan kau hanya menghadapiku dengan sabar. dan selalu saja kamu yang meminta maaf.

Kesabaranmu menghadapiku sempat menjadikan alasan untukku tetap bertahan

Tapi aku sadar, hal itu tak cukup menjadi pondasi sebuah hubungan. Sampai akhirnya pada suatu titik, baiklah aku tak ingin menyakitimu lebih dan lebih lag! Ini semua harus kuakhiri!

kamu sempat menolak tak mau mengakhiri ini. Aku tahu kamu merasakan sakit yang luar biasa. Tapi tahukah? ini tak baik bila dilanjutkan. dan pada akhirnya kamu menyerah.

Sempat kita berjanji, untuk tetap saling berhubungan dan menjalin hubungan persahabatan seperti dulu.

Tapi mengubah semua yang telah terjadi, menjadi sebuah persahabatan kembali adalah hal yang tak mudah.Pelan-pelan aku mulai mundur dari kehidupanmu.

Namun, tak lama bahkan hanya satu bulan semenjak perpisahan kita, ku dengar kamu telah menjalin hubungan dengannya. dengan dia yang kukenal cukup dekat.

Bagai ribuan pisau menghujam hati ini, teringat terakhir kali kamu merengek-rengek tak mau berpisah denganku. Kamu bilang kamu benar-benar masih cinta denganku. sakit hati yang luar biasa aku rasakan, ribuan pertanyaan berkecamuk di dalam hati, sampai akhirnya tubuh dan pikiranku tak mampu menanggung beban. Ya, akhirnya aku jatuh sakit!

Semuanya terasa impas. Kita sudah saling menyakitiki sedemikian hebatnya. Pelan-pelan aku bangkit, dengan dukungan sahaba-sahabat yang luar biasa serta doa yang kupanjatkan kepada yang Maha Kuasa, aku berhasil bangkit. Aku berbesar hati, berdamai dengan perasaanku sendiri, membuang semua luka dan melupakannya, dan aku mencoba ikhlas.

ku berdoa untukmu semoga dia yang bersamamu saat ini mampu membahagiakanmu. Kepadamu kusampaikan ribuan terima kasih telah memberikanku kisah manis. Kepadamu kusampaikan berjuta kata maaf atas semua kesalahan dan perlakuan burukku kepadamu.

Taukah? bahkan sampai saat ini hatiku belum mampu, untuk sekedar mencari kontakmu lagi untuk menyampaikan kata "maaf" secara langsung.