“Wahai Lelaki Pertama : Terimakasih Akan Kehidupan Yang Engkau Beri, Sesungguhnya Cintamu Amat Besar Sehingga Terkadang Sulit Tuk Terlihat”

Wahai lelaki terindah, Engkau adalah salah satu anugerah terbesar yang diberikan tuhan di hidupku. Awal mataku terbuka dan melihat ke dunia ini, Engkau adalah “LELAKI” PERTAMA yang wajahnya luar biasa menyilaukan. Ketika aku berada ke dalam pelukanmu untuk pertama kalinya, Engkau tak banyak bicara, dengan tangan yang kaku dan tubuh yang sedikit bergetar, Engkau menatapku dengan cinta, harapan dan kasih sayang yang luar biasa besar. Engkau memelukku, menimangku dengan erat, sembari menyenandung suara adzan dengan suaramu yang berat namun lembut ditelingaku…Yach, Engkau “AYAHKU” yang membuatku serasa bagai peri musim semi yang membawa keajaiban di dinginnya musim salju. Aku yang terlahir ke dunia ini, adalah bagian lain dari dirimu, pemberi hidupku, “AYAHKU” yang akan dan selalu kusyukuri karena kumiliki, “AYAHKU” yang wajahnya sangat mirip denganku, yang ”AKU” adalah versi lain dirimu, dalam bentuk yang cantik seperti “IBU” karena “AKU” adalah milikmu, “GADIS KECIL”mu.

Bersama aliran waktu aku tumbuh dan berkembang dengan begitu cepat, dari bayi, balita, anak-anak, remaja, hingga dewasa dengan pengajaran yang sangat luar biasa, sehingga aku mampu memahami cara “AYAH” dalam mengungkapkan kasih sayangnya. Dikala “IBU” sering mengucapkan cinta maupun nasehatnya lewat perkataan maupun tindakan, “AYAH” mengucapkan cintanya dengan cara berbeda,…. Yach, mungkin dikarenakan cintamu “AYAH” yang sangat besar namun tak banyak Engkau ungkapkan ke dalam kata sehingga terkadang sulit tuk terlihat…seperti ketika Engkau mengantarkanku ke sekolah dengan motor buntutmu dalam cuaca panas maupun hujan dengan alasan ketempat lain, dikala tugas kuliahku bertumpuk Engkau ikut tak tidur untuk menemani dengan alasan menonton berita, dikala aku makan sendiri engkau datang duduk dan ikut makan, walaupun kutahu engkau telah makan. Sebagian hal kecil yang hanya mampu dipahami lewat hati dan perasaan,….yang sulit untuk engkau ungkapkan itu, namun terlihat nyata dimataku wahai “LELAKI” PERTAMA…”AYAHKU”….lewat keringatmu, lewat semburat kelelahan di wajahmu, lewat senyumanmu, lewat semua usahamu akan “KEBUTUHAN dan KEINGINANKU”….yang hanya kubalas dengan “DOA” dan ucapan terimakasih “AYAH” akan kehidupan yang Engkau beri, dan atas semua usaha dan cintamu dihidupku.

“Wahai Lelaki Kedua : Engkau Adalah Kembang Api Terindah Diangkasa, Walaupun Sifat Usilmu Terkadang Membuat Bara Api Tersendiri Bagiku”

Ketika Engkau dilahirkan, betapa gembiranya aku, aku serasa mendapatkan hadiah terbaik dihidupku bagai melihat kembang api terindah diangkasa, yang sangat mengembirakan, Wahai saudara kecilku, saudara “LELAKIKU”. Kita tumbuh bersama berbagi rahasia dan kisah…yach kisah, apalagi ketika aku berkisah tentang sifat jahilmu dari semasa kecil yang sangat lucu ketika diceritakan, misalnya ketika engkau sibuk memilih-milih makanan dan meletakkannya ke makananku, bermain lumpur dihalaman hingga lumpur mengotori seluruh wajahmu dan engkau datang tuk memelukku, memanjat pohon dan melempariku dengan buah-buahan dihalaman rumah, atau berlarian hingga jatuh dan terluka karena kita saling berebutan mainan. Ataupun hal-hal yang menggembirakan dan membahagiakan orang tua ketika kita rukun, seperti ketika kita belajar bersama, ketika aku mulai bertanggung jawab mengantarmu ke sekolah, membuatkanmu bekal makanan, ataupun ketika kita mampu berprestasi, itulah kisah semasa kecil kita.

Advertisement

Ketika kita sudah sama-sama dewasa, engkau tumbuh lebih besar dan kuat dariku, dari si jahil kecil menyebalkan berubah menjadi sosok yang dapat diandalkan, siap siaga ketika aku membutuhkan bantuan,walaupun ketika dewasa nasehatmu jauh lebih panjang lebar dari nasehat ayah dan ibu bagiku, dan aku memakluminya…mungkin ini adalah bentuk kasih sayangmu lewat sifat usil yang suka ikut campur di dalam kehidupanku, karena engkau begitu menyanyangiku. Terimakasih untukmu si jahil yang mampu membuat bara api tersendiri bagiku, menyebut namamu di dalam doaku adalah sebuah kewajiban bagiku.

“Wahai Lelaki Ketiga : Engkau Adalah Seseorang Yang Kutunggu, Yang Kuharap Engkau Mampu Menyayangi Dan Mencintaiku Seperti Lelaki Pertama Dan Keduaku”

Aku akan menyebutmu “SUAMI”KU di masa depan, engkau adalah sosok yang kutunggu yang jiwamu selalu kurindukan tuk kujumpai, yang sosoknya selalu ku minta di setiap sujud dan doaku. Seseorang yang akan mampu kurasakan dengan hati yang takkan terikat oleh jarak, waktu, tempat, keadaan, atau penyesalan nantinya. Seseorang yang akan selalu kurindukan dikala ku melihat langit, hujan, maupun kabut dan walaupun tanpa melihatnya secara langsung aku telah mampu merasakan senyumannya, keinginannya, impiannya, DAN cintanya….sama seperti mereka “LELAKI” PERTAMA dan “KEDUAKU”ku.

Sosok yang mampu membuatku tuk percaya dan mengajarku tuk bersabar, karena aku merupakan bagian dari doa-doanya. Sosok yang akan sangat menyayangiku karena hati bukan karena harta dan fisik semata, yang akan setulus hati dan sepenuh jiwa setia menemani hidupku, dikala sehat dan sakitku, dikala senang dan sedihku, dikala muda dan tuaku, dikala mendung dan hujan, dikala panas dan teduh dan dikala gelap dan terangnya dunia,….Engkau akan selalu menggenggam dan memeluk diriku. Dan jika kita telah bersama aku akan selalu bersyukur memilikimu sekarang maupun nanti, karena doa dan usaha yang kupanjatkan untuk memperolehmu begitu panjang dan berliku.