9 tahun yang lalu pertama kali aku melihatmu di depan kelas dengan wajahmu nan ayu, namun juga sedikit sendu. Orang membicarakanmu sebagai bibit wanita idola dimasa depan. Kamu tinggi, berambut lurus, berhidung mancung, ah cinta monyet. Aku monyetnya kamu cintaku (dulu). Entah, aku dulu begitu mengidolakanmu, sampai akhirnya kamu jadi milikku ditanggal 9 dibulan 1. Keren ya?! Angka paling sempurna dan paling awal. Aku berharap cinta ku semasa itu itu jadi cinta pertama ku yang paling sempurna.

7 tahun sudah kita jalani hidup bersama, dari bapakmu tidak menyukaiku, lalu menyukaiku, kemudian menganggapku anak, hingga sekarang menerima laki—laki lain sebagai anaknya. Yaa kita berakhir dibulan yang sama setelah aku wisuda. Meski aku sekarang goyah dan tumbang karena angin yang kau tanam tiba-tiba besar menjadi badai, Bukan berarti dulu aku tidak mencintaimu dan berjuang untukmu. Kamu harus tahu kalau aku tidak menyimpan dendam kepadamu. Bagi ku mencintaimu saja aku bahagia, melihatmu bahagia saja aku teramat bahagia, apalagi memandangimu nanti dipelaminan bersama laki-laki konglomerat yang memanjakanmu dengan kemewahan. Tidak seperti aku yang mengajakmu hidup mandiri dan sederhana. Kemana mana naik supra tua yang kadang kamu mengeluh tak nyaman. Ah aku ini apa!

Kalau saja tulisan ini dibaca banyak orang, aku bukan bermaksud menjelek-jelakan mu dimata orang banyak. Aku selalu berkata kebaikan mu, bahkan didepan orang tuaku. Ketikan siang hari ini bersama efek rumah kaca dan dialog hari ini adalah rinduku yang teramat dalam kepadamu. Setelah tadi malam kita bertengkar sampai pagi, karena kau memintamu kembali ditengah cintamu kepada laki-laki lain yang kaya itu. Sebenarnya aku sudah bilang pacar barumu untuk tidak akan pernah mengganggu hubungan mu lagi. Tapi apa daya hatiku ini terus bertanya kenapa harus selama ini kamu bohong, bukannya aku mengajarimu menjadi wanita jujur? Yaa apa daya aku tak akan mampu lagi disisimu, semoga yang baru lebih membahagiakan, dan yang lama bisa disabarkan.

Teruntukmu wanita pengisi beranda hati, terimakasih karena berkat bantuan dan dukunganmu aku berhasil lulus kuliah dan punya foto kita ditembok rumah. Mungkin esok kau akan foto juga dengan laki-laki yang berbeda ditembok rumah berlapis marmer. Ah entahlah. Terimakasih atas semua cinta yang telah kau berikan, meski didepanku kau bilang sekarang telah mencintai laki-laki lain. Ah yasudah. Hari-hari ku begitu berbeda sekarang ini, entah. Mungkin aku masih belum terbiasa dengan lubang dirongga hati. Aku terus saja mengingat laki-laki mu sekarang yang memanjakan mu dengan kebersamaan, cinta dan harta. Yaaa mau gimana. Hehe. Aku memang lemah dalam semua hal tentang cinta, maaf. Tapi kamu harus tau kalau sekarang aku sedang bekerja keras mencari pekerjaan lain setelah aku keluar bekerja. Demi masa depan anak istri ku nanti agar hidupnya jauh lebih nyaman dari hidupmu. hehe

Tentang janji kita, lupakan saja! Mulailah dengan janji baru bersama yang baru, meski hatiku semakin biru. Masih ingat tentang janjiku yang mau kerja di airlines lalu menikahimu dan mengkreditan mu rumah sederhana, kecil tapi penuh cinta? Aku juga mulai melupakannya, aku keluar kerja dan tidak akan pernah kredit rumah dari pekerjaan airlines. Konyol memang, tapi bukannya hidup yang paling penting bahagia? Layaknya kamu meninggalkanku demi kebagahiaanmu. Lukaku belum sembuh betul tapi demi orang lain, sikapmu seakan aku tak lagi kamu butuhkan. Apakah kebaikan ku selama bertahun-tahun bisa begitu saja dihapuskan? Yaasudah tidak apa-apa. Aku kan laki! Hehe

Advertisement

Masih ingat janji menikah kita ditahun ke 10 pacaran? Gilaa, 10 tahun kalau dari dulu kredit mobil udah dapet merk eropa tuh, hehe. Yasudah lupakan juga janji menikah itu. Mungkin kita memang tidak berjodoh. Yang kamu selalu bilang, aku orang kasar, keras, galak dan segala negatifnya. Lalu sekarang kamu memuji laki-laki barumu sebagai laki-laki yang lembut, penuh kasih sayang dan kamu begitu mencintainya. Sayangnya kamu bilang itu didepan ku. Yasudah mau apa, memang kenyataanya begitu, lupakan saja. Aku hanya tidak ingin disamakan dengan lelakimu sekarang yang mencintai pacar orang dan akhirnya merebutnya dengan segala kelemahanku. Terimakasih kepada kalian berdua, karena aku belajar bagaimana harta memang juga penting dijaman ini. Maka nanti setelah aku kaya, anakku tidak akan mengalamani nasib yang sama seperti ayahnya. Maka istri ku akan aku jadikan wanita sebahagia bahagianya wanita didunia,

Mungkin aku tidak sekuat sepertimu yang mudah saja lupa terhadap apa yang telah kita jalani selama 7 tahun. Tapi aku berjanji akan melupakanmu seperti kamu melupakanku sekarang. Semoga cintamu bertahan 3 tahun kedepan dan menikah dengan laki-laki itu. Aku tidak membencimu, tapi juga tidak lagi menyayangimu seperti dulu. Aku percaya bahwasanya Allah pasti memberiku jodoh terbaik yang setia, jujur dan mencintai ku apa adanya. Karena cinta pada hakikatnya bukan saling mengerti, tapi menerima. Semoga ada wanita yang akan menerima kelemahan dan masa laluku. Semoga kita bertemu pada keadaan yang berbeda dimasa depan.

Teruntukmu mantan wanita pengisi beranda taman hati, pergilah.