Aku Lelah Tuan

Ya, aku lelah dengan segala kemisteriusanmu. Sikap dinginmu yang berubah sewaktu-waktu membuatku sering terjebak dalam dilema yang aku ciptakan sendiri. Tuan, mungkin aku salah dengan pendapatku tentangmu. Tapi, aku hanya mengatakan apa yang selama ini kurasakan selama aku bersamamu.

Berkilah saja jika pendapatku ini tidak kau suka. Keluarkan semua pendapatmu sendiri. Aku tahu kau dan aku sama-sama punya alasan untuk mempertahankan pendapat. Tapi Tuan, ingatkah kau saat kau mendekatiku, kau ujarkan semua janji itu dengan tatapmu yang sekejap menyihir kekosonganku menjadi sebuah senyuman merekah bebas. Tanpa kau sadari kau telah membuatku begitu bertanya-tanya dengan sejuta angan yang mulai aku rangkai sendiri. Namun, ternyata waktu tidak berpihak kepadaku untuk mewujudkan serangkaian angan yang sudah kau hembuskan saat senyumku dan senyumanmu beradu.

Kau berubah Tuan, Kau tidak seperti dulu. Aku akui aku memang marah waktu itu, aku terlena di depan matamu. Dan kau pun mengetahuinya.

Sampai sekarang pun aku masih bertanya pada diriku sendiri. Apakah semua yang kau katakan waktu itu hanya berpura-pura ataukah kau hanya ingin “bermain rasa” saja denganku?. Ketahuilah Tuan, dari awal aku mengenalmu, aku tak pernah ada niat untuk mempermainkan ataupun berpaling terhadap hati yang lain, karena kau telah menaruh segenggam rasamu padaku. Mungkin benar pepatah orang-orang bahwa “cinta itu buta”. Aku tertutupi rasa semu. Semakin hari, ada yang berubah denganmu, aku pun rela bertahan dengan keacuhanmu, kemarahanmu dan semua kata-kata maafmu. Ada kalanya, kau bersikap manis terhadapku, namun di lain waktu kau juga berhasil membuatku menitikan air mata karena kediamanmu yang tak bisa aku pecahkan kodenya.

Advertisement

Ya, aku hanya perempuan biasa dengan segala kekurangan yang aku miliki. Sedangkan kau, kau orang terkenal di kotamu, semua wanita mengelu-elukan namamu.

Kadang kala, aku merasa sedikit sombong karena pernah menjadi wanita paling beruntung, aku bisa bersenda gurau dan menikmati indahnya hari bersamamu. Karena mungkin tidak semua wanita bisa dekat denganmu. Tuan, tidakkah kau sadar, kau pernah membuatku sangat bahagia waktu itu. Kau membuatku merasa bahagia di setiap hari yang kita lewati yang terpayungi langit biru saat itu.

Tetapi, aku terlalu bodoh dibutakan oleh suasana. Kebahagiaan sesaat yang kau berikan untukku dulu kini berubah menjadi tanda tanya yang semakin besar. Entahlah Tuan, aku tidak ingin melanjutkan isi hatiku ini.

Di awal perkenalan kita, aku sudah mencoba menahan perasaan ini agar tidak tergesas gesa. Tapi apalah dayaku yang dulu terkalahkan oleh egoku sendiri. Aku terjerat oleh pesonamu yang tanpa permisi memporak porandakan akal rasionalku. Sejujurnya, aku telah merakit mimpi-mimpi yang indah yang ingin aku wujudkan denganmu. Tapi aku terlalu takut untuk mengakuinya. Jadi aku pendam saja sendiri. Sakit memang jika pada kenyataannya sekarang perasaanku tak pernah lagi terbaca olehmu. Akupun memilih diam dan terus berusaha menjadi yang terbaik untukmu. Namun, pada akhirnya, secara perlahan-lahan Tuan malah berusaha menjauhiku, mengacuhkan segala perhatianku dan kadang mengatakan sesuatu yang engkau sengaja agar aku membencimu. Tuan, kenapa kau memilih pergi dari kehidupanku tanpa sepatah kata pun walaupun hanya sekedar “maaf aku tak bisa melanjutkan hal ini denganmu”,

kenapa Tuan? Inikah balasan atas segala ketulusanku selama ini?

Tuan, Aku pun sadar siapa aku. Oleh karenanya aku tak ingin mengaharapkanmu terlalu jauh lagi. Karena mungkin jika aku lanjutkan, aku akan semakin sulit untuk melupakanmu. Tuan, Kau pun berhak bahagia jika memang bahagiamu tidak bersamaku. Aku berharap , meskipun nantinya kita dipertemukan lagi dalam keadaan yang berbeda, ku harap kau bisa lupa tentangku, begitu juga sebaliknya.

Biarlah perasaanku terhadapmu dibawa sang waktu menemui sang langit dan mengambang disana, yang mungkin hanya akan menjadi cerita untuk dikenang saja.