Assalamualaikum warorhmatullahi wabarokatuh,,,,

Kaifa haluk, Ukhti? Semoga kamu, aku, dan kita semua selalu berada dalam lindungan yang Maha Kuasa. Amin ya robbal aalamin.

Ukhti, aku masih ingat saat pertama kali kita bertemu. Yah, waktu itu kita hanya berpapasan dan aku sedikit menoleh ke arahmu. Subhanallah, kau begitu cantik dengan senyum yang tertukir di wajahmu. Wajahmu begitu teduh mendamaikan jiwa, sungguh. Aku tak dapat berkata apa-apa saat itu. Kau sungguh luar biasa dengan jilbab panjangmu. Bahkan waktu itu, aku sempat berpikir untuk mengikuti jejakmu. Aku benar-benar ingin. Sungguh.

Tapi sekarang, kenapa kau malah melepasnya? Apa kau tak ingin terlihat cantik lagi? Apa kau sudah bosan dengan jilbab panjang itu? Apa kau takut jika kau masih mengenakan jilbab panjangmu, tak ada laki-laki yang mau mendekatimu? Apa kau… Arrggghhh! Pertanyaanku sungguh banyak ya? Oh maaf. Aku tak bermaksud menyinggung perasaanmu. Sungguh.

Aku hanya ingin tau, kenapa kau melakukannya? Itu saja.

Advertisement

Atau jangan-jangan kau sudah muak? Panas? Atau apa?

Ah mungkin kau tidak sanggup mendengar cemooh orang-orang di luar sana. Yang mengatakan penampilanmu seperti orang tua, seperti nenek-nenek, seperti kue lapis, seperti karung beras atau apalah itu sebutannya. Tak usah dengarkan mereka. Ukhti, mereka hanyalah orang-orang yang tak paham dengan tindakan kita, mereka tak mengerti dengan usaha kita. Jadi untuk apa didengarkan. Hanya buang-buang waktu.

Ukhti, tahukah dirimu bahwa setiap jengkal lekuk tubuhmu adalah racun yang sangat sempurna. Yah, sempurna untuk membabat habis keimanan para adam. tak inginkah kau dihargai dan dihormati karena akhlak dan keimananmu? Dan tahukah kau, Allah sudah mengatakan bahwa derajatmu 3 kali lebih tinggi dibanding adam, bahkan Allah meletakkan surga yang Agung di telapak kakimu. Masih tak sadarkah kau wahai Ukhti?

Ukhti

Aku paham betul bagimana perasanmu kala itu. Kau pasti sedih. Bagaimana kalutnya perasaanmu kala kau mendapati mereka yang dengan seenak jidatnya sendiri mengatakanmu seperti itu.

Ukhti, berhijrah itu tidaklah mudah. Ibarat kita mengupas bawang merah untuk mendapatkan isinya, mustahil kita tidak menangis. Banyak rintangan yang akan kita lewati. Salah satunya adalah tentang penilaian orang lain terhadap kita. Tapi tak apa, niat kita baik. Kita mau memperbaiki diri, memantaskan diri di hadapan sang Ilahi, dan mengharap ridho dari-Nya. Jangan hentikan langkahmu ya, Ukhti. Kau sudah benar. Jangan ragu dan kau tak perlu takut.

Menangis dan bersedihlah secukupnya dan bersyukurlah sebanyak-banyaknya. Sebab, hanya orang-orang pilihan yang diberikan cobaan ini dan kau dalah salah satu dari orang pilihan itu. La Tahzan ukhti, karena sesungguhnya Allah selalu bersama kita. Maka, dalam tiap gerimis kesedihan, hanyutkan dirimu dalam zikir panjang malammu, dalam tiap kerikil panjang di jalanan, benamkan wajahmu dalam sujud kepasrahan, dalam tiap duka yang menyapa, hanyutkan air matamu dalam sungai kasih-Nya, dalam tiap nestapa, larutkan pahit air matamu dalam manis cinta-Nya, dan dalam tiap kelabu langitmu, panggillah nama-Nya.

Allah… Allah… Allah… Dan tunggulah. hingga Ia merubah mendungmu menjadi pelangi warna warni.
Sebut nama-Nya dalam keadaan apapun, ya ukhti.

Terakhir, titip salam untuk sabarmu ya..

Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh

Dari seseorang yang sangat mengagumimu 🙂