Untuk kamu yang pernah membuatku patah, apa kabar hatimu sekarang?

Masihkah ia kosong menanti seseorang yang tepat untuk kamu jadikan tempat pulang?

Atau, sudahkah ia berpenghuni, karena kamu pun sudah tak mau berlama-lama menunggu?

Kutulis aksara-aksara ini, berdempetan setiap hurufnya, bukan untuk menangisimu lagi. Kutulis narasi ini, bukan untuk memintamu kembali setelah dengan hebat kamu hancurkan hatiku sampai patah, sampai tak kelihatan lagi mana yang pecah dan mana yang utuh. Bukan untuk mengharapkan langkahmu kembali, tetapi untuk mengatakan bahwa sejauh ini aku baik-baik saja, meski tak lagi sama.

Aku baik-baik saja, sungguh. Aku memang pernah patah, tak kuelak lagi itu. Aku pernah merasakan sakit yang kupikir tidak ada duanya, yang kadang perihnya terasa sampai ke titik terdalam dari lubang yang pernah kamu buat di hatiku. Aku pernah dibuat sangat cinta, kemudian dihempas ke tanah dengan sangat nyata. Pernah kualami sakitnya menangis sendirian ketika merindukan, sedang olehmu, tak pernah sampai padaku satu kabar pun. Dan sekali lagi, pernah kualami perihnya mengharapkan, sedang denganmu, aku tidak pernah dipertemukan.

Advertisement

Untuk kamu yang pernah membuatku patah, tidak ada dendam yang ingin kutabur padamu. Tidak ada amarah yang ingin kuluapkan ketika bertemu. Tidak ada benci yang ingin kupupuk ketika saling jauh.

Aku berterima kasih untuk segala hal yang pernah kamu beri, karena dengan itu aku belajar banyak hal yang tak kumengerti. Tentang mencintai, kupikir itu hanya sebuah komedi. Namun denganmu, itu pernah menjadi bagian paling menyenangkan. Tentang merindukan, kupikir itu hanya sebuah omong kosong. Namun dengamu, itu pernah menjadi bagian paling menggetarkan.

Untuk kamu yang pernah membuatku patah, apa kabar hatimu sekarang?

Tidak banyak hal yang ingin kukatakan selain menyampaikan dengan sabar bahwa aku baik-baik saja sekarang. Kamu tak perlu takut bahwa aku masih mencintaimu, dan kupastikan aku tidak akan melakukan itu. Bohong, memang. Mana mungkin patah yang sedemikian parah membuatku begitu saja melupakan? Mustahil, memang. Tapi aku sedang berjalan sekarang, melangkahkan kaki dan menguatkan hati bahwa aku akan melakukan hal mustahil itu. Percayalah dengan apa yang sedang aku usahakan, dan tersenyumlah jika aku sudah berhasil membuktikan bahwa aku bukan lagi perempuan lemah yang pernah mencintaimu dengan sepenuh-penuhnya cinta.

Aku, dengan sepenuh harap, sedang memperbaiki diriku sendiri. Melihat ulang mimpi-mimpiku yang belum tersampaikan, mengecek berkali-kali apakah aku sudah membahagiakan banyak orang. Aku sedang melakukan itu sekarang. Aku terus berproses, menjadikan diriku lebih hidup untuk tidak lagi sekedar menangisi kerinduan. Aku berusaha kuat, karena mengharapkanmu menjadi yang terakhir tidak akan merubah apapun. Ada studi yang harus kuselesaikan, ada harapan dari sepasang tubuh dan mata renta dan lelah yang telah merawatku selama dua puluh tahun sedang aku usahakan, ada cita-cita yang belum berhasil kuwujudkan, dan ada banyak senyum yang sedang menungguku berhasil menyelesaikan segala bentuk kesusahan dan perjuanganku melewati masa perkuliahan.

Untuk kamu yang pernah membuatku patah, aku sempat membayangkan. Kita saling bercengkrama melepas kenangan masa-masa kebersamaan tanpa beban. Saling duduk berhadapan dengan secangkir kopi dan teh di atas meja. Membicarakan dengan lancar rencana-rencana kehidupan mendatang, tanpa memandang siapa kita di masa lalu.
Andai kita seperti itu, ya?

Andai kita seperti itu, ya? Rasanya berdamai denganmu, dengan masa lalu yang sempat kita jalani bersama, apakah tidak terdengar menyenangkan bagimu? Sehingga tak ada lagi patah yang belum sembuh, tak ada lagi alpa yang belum termaafkan, dan kita saling menguatkan meski sudah tak lagi sejalan.

Untuk kamu yang pernah membuatku patah, baik-baiklah disana. Kamu pun tak sepenuhnya bersalah, karena keputusan ini menjadikan kita lebih dewasa pada akhirnya. Jagalah hatimu dengan sebaik-baiknya penjagaan, karena setelahku, akan ada yang lebih pantas menghuninya. Jagalah hatimu dengan sebaik-baiknya penjagaan, karena setelahku, akan ada yang lebih mencintaimu dengan sepenuh-penuhnya kecintaan. Maka, jangan pernah patahkan hatinya seperti apa yang pernah kamu lakukan kepadaku dulu. Demi apapun, mematahkan hati seorang perempuan, bagian mananya yang menyenangkan?

Untuk kamu yang pernah membuatku patah, kupastikan aku akan menjadi lebih kuat. Dan pastikan kamu menjadi lebih hebat. Terima kasih pernah tinggal, sehingga aku tahu diri untuk beranjak dengan sopan. Jadi, kukatakan selamat tinggal, untuk patah yang pernah kamu torehkan. Jadi, kupastikan hatiku baik-baik saja sekarang, dan tidak lagi menjadi beban untukmu yang memilih untuk berbalik langkah.