Cerita kita dulu memang tidak sefenomenal kisah Rama Sinta apalagi drama Habibie Ainun. Komitmenku untuk menerimamu berawal dari rasa nyaman yang telah kudapatkan selama mengenalmu. Kamupun bukan sosok yang tenar ataupun trendcenter disekolah dulu, namun saat bersamamu aku masih merasa bahwa kamu memiliki cukup banyak penggemar maupun sahabat wanita yang terkadang membuatku cemburu.

Hebatnya, sikapmu yang penyayang membuat aku berhasil luluh dengan kata dan rayuan ajaibmu. Sikapmu yang tampak tidak berlebihan memberi warna baru pada hari-hariku. Kitapun sekejab menjadi sepasang kekasih yang seringkali membuat pasangan lain iri karena keceriaan yang menjadikan kita seolah-olah sepasang sahabat lama yang kini saling mencintai.

Hampir tak pernah ada tengkar, kata-kata kasar ataupun perlakuan yang membuat hati ini sakit. Semua berjalan baik-baik saja, dan kamupun menjadi salah satu alasanku untuk betah berada disekolah.

Sayangnya itu tidak bertahan lama, seperti kebanyakan kisah percintaan. Kisah kita memiliki ujung perpisahan dimana masih ada segenap rinduku yang terselip didalamnya. Aku sama sekali tidak menyalahkanmu ataupun jarak, maupun hal lain yang membuat terjadinya perpisahan ini.

Seiring berjalanya waktu. Entah kamu masih perduli atau tidak, disini, saat ini tanpa kamu aku juga tetap baik-baik saja dan akan selalu baik-baik saja. Bukan sebab aku masih menyimpan luka, setiap saat aku berusaha membenahi diriku dan tetap bahagia tanpa kamu.

Advertisement

Karena pantang bagiku untuk kamu tau bahwa terkadang akupun masih saja merindukan kamu yang memang bukan lagi menjadi hakku.

Tidak munafik perasaan itu kerap muncul, hanya beberapa saat saja. Setelah itu aku tidak lagi membiarkan perasaanku dibelenggu dengan nostalgia. Karena sepenggal kisah denganmu telah menjadikanku pribadi yang lebih tegar dan ikhlas. Dari itu kini aku lebih bahagia dan bersyukur akan hidupku walau tanpa kamu.