Hai, sobat…

Sepertinya sudah terlalu lama aku tak menyapamu. Bagaimana kabarmu? Bahagia? Bahagiakah engkau dengan lelaki yang ada di sampingmu sekarang? Kamu pasti sudah tahu bahwa lelakimu sekarang adalah lelakiku, dulu. Sebelum kau merebutnya, dulu ia adalah orang yang sangat dekat denganku, aku menyayanginya. Dan, itu dulu sebelum kau merebutnya dariku. Kau tahu kan?

Dan mungkin, tak bisa dipungkiri, aku sangat ingin bisa bercakap-cakap denganmu. Entah seperti apa kata-kata yang mungkin akan keluar dari mulutku. Yang pasti aku ingin berbicara denganmu. Yaa kamu, orang yang telah tega merebut kekasihku. Dalam tulisan ini, aku hanya ingin menyampaikan beberapa curahan hatiku.

Memang dulu aku sempat cemburu padamu, tapi kutepis semua perasaan itu karena aku percaya bahwa kalian hanya sekedar sahabat.

Memang dulu aku sempat mempercayaimu. Aku mempercayai bahwa hubungan kalian adalah hanya sekedar sahabat. Tidak lebih. Tidak terbersit sedikitpun di benakku bahwa ketika pria dan wanita bersahabat, ada kemungkinan terselip cinta didalamnya.

Advertisement

Akupun juga tidak menangkap sinyal adanya cinta diantara kalian. Tapi suatu ketika ada peristiwa dimana aku mengetahui isi percakapanmu dengannya di media sosial. Apakah jika bersahabat harus menggunakan kata sayang untuk memanggil sahabatnya? Dan sejak kejadian itu, aku mulai merasakan bahwa ada yang tidak beres dengan kalian. Tapi kutepis semua perasaan itu karena dia terus-terusan meyakinkanku bahwa kalian hanya sekedar 'sahabat'

Hingga akhirnya, tibalah suatu masa ketika aku tidak bisa lagi mentolerir rasa cemburuku.

Peristiwa demi peristiwa antara kalian mulai kuketahui. Mulai dari pesan-pesan mesra, sambungan telepon kalian yang tanpa sepengetahuanku, dan jalan berdua kalian yang juga tanpa sepengetahuanku. Dengan dihiasi oleh genggaman hangat tangan kalian. Apakah pernyataanku salah? Dan menurutmu apakah itu pantas kau lakukan bersama seorang pria yang sudah memiliki kekasih? Apakah menurutmu wajar jika seorang lelaki dan wanita yang bersahabat melakukan hal demikian? Bagaimana kamu bisa melakukannya. Kita sama-sama wanita. Apakah kau tidak memikirkan perasaanku ketika aku tau perbuatan kalian? Dan bagaimana kamu tidak memikirkan bagaimana perasaanmu ketika keadaan seperti itu terjadi padamu?

Dan ketika hubunganku di ujung tanduk, kau dengan teganya merebutnya dariku.

Ketika kerenggangan terjadi, dan hubunganku tak segera membaik, keanehan demi keanehan terjadi. Dia seperti gigih sekali berjuang supaya aku menjauh darinya. Tetapi saat itu aku masih bertahan. Dan akhirnya hatiku sudah tak kuat lagi bertahan untuknya, dan aku menuruti kemauannya untuk berpisah. Patah hati jelas. Nangis pasti. Hari-hari berikutnya aku menemukan keganjilan-keganjilan. Aku kumpulkan semua keanehan itu, dan hasilnya menyimpulkan bahwa kalian telah merajut kasih. Bahkan kurang dari satu minggu setelah aku berpisah dengannya.

Apakah pernyataanku salah? Dan apa kau tau bagaimana perasaanku? Belum kering luka karena perpisahan, hatiku tergores lagi karena berita mengejutkan ini. Bisa kamu bayangkan bagaimana rasanya? Berminggu-minggu aku hanya bisa menangis. Merasakan malam-malam yang hampa, dan seakan sudah tak ada lagi matahari yang akan bersinar. Aku sungguh terluka.

Bagaimanapun semua telah terjadi. Aku tidak mungkin memintamu mengembalikan dia kepadaku

Meskipun hatiku masih menginginkannya, aku tidak mungkin memintamu mengembalikannya. Aku tau pasti kau akan mempertahannya. Tapi perlu kamu ketahui bahwa ada hati yang terluka sangat dalam karenamu. Ingatlah bahwa dibalik kebahagiaanmu ada hati yang terluka. Bahkan kau tak berniat meminta maaf kepadaku.

Memang aku tidak tau apakah aku bisa memaafkanmu, tapi setidaknya kau harus minta maaf kan? Apalagi sekarang karena suatu urusan, kita harus berada di ruangan yang sama dan bertemu setiap hari. Apakah menurutmu aku senang? TIDAK! Sama sekali aku tidak merasa senang. Perasaan marah dan jengkel pasti selalu muncul ketika bertemu denganmu. Bisa kamu bayangkan kan bagaimana perasaanku? Kita sama-sama wanita, seharusnya kamu tau apa yang aku rasakan. Aku juga sudah memutuskan bahwa kau bukanlah temanku lagi. Aku tidak bisa berteman dengan orang yang tidak bisa menjaga perasaanku.

Rasa pedih karena kekasih yang paling kita sayangi direbut oleh orang yang kita percaya, seperti ditikam ribuan pisau yang menusuk punggung. Lukanya juga tidak bisa sembuh dalam hitungan hari atau minggu. Sampai hari ini pun aku masih sangat mengingat apa yang sudah kalian lakukan. Kalimat-kalimat penghibur, dan ribuan quotes telah kutelan dan tak ada hasilnya.

Tapi satu hal yang harus kau ketahui, bahwa Tuhan itu maha adil. Entah nanti aku mendapat pengganti teman dan kekasih yang lebih baik, atau kamu akan merasakan sakit yang aku rasakan. Aku tidak menakutimu, aku hanya mengingatkan bahwa Tuhan itu maha adil. Meskipun sampai hari ini pun aku belum bisa melepaskan perasaanku sepenuhnya padanya. Aku juga tidak bisa mendoakan kebahagiaan kalian. Hanya satu pesanku, jangan lagi menyakiti orang lain seperti kamu menyakiti aku demi kebahagiaanmu.

Dan untuk pembaca, aku tidak mengajari kalian untuk membenci orang yang telah merebut kekasih kalian. bukankah memaafkan itu lebih baik? tapi bagiku, aku masih belum sekuat itu untuk memaafkan orang itu. semoga kita mendapat pelajaran atas semua yang telah terjadi di hidup kita.