Bercakap mengenai cinta adalah hal paling rumit yang tak akan menemui ujung. Sebagian orang mengartikannyasebagai perasaan penuh kasih, sebagian lagi mengartikannya sebagai penyebab perih. Begitulah cinta, banyak makna, tak terlihat mata, hadir tiba- tiba, mampu dirasa dan meledak- ledak semaunya. Seperti yang aku rasakan sekarang. Aku keranjingan menikmati senyum terukur dan penuh kebaikan milikmu. Lebih dari itu, keceriaan terpancar spontanitas pada wajahku tiap kali aku menemukan punggungmu diantara keramaian yang ada, jantung terkadang juga berdetak dengan ritme yang kacau dari biasanya, parahnya aku sering membawamu pada imajinasi yang kuciptakan sendiri dimana aku dan kamu adalah lakon utama. Aku akui sebenarnya aku pun tak mengetahui secara pasti, telah sampai manakah perasaan ini, baru memasuki etape suka, atau sekadar kagum, atau jatuh cinta, atau sedang mencintai. Yang aku tahu aku menyukai saat- saat suaramu mengeja namaku, saat kau sekadar mengajak berbicara padaku walau sangat jarang sekali, saat kau mengirimi pesan singkat untukku walau hanya untuk menanyakan tugas dan menanyakan hal- hal penting saja, saat kau meminta bantuanku, meminjam barangku. Ah, sesederhana itukah cinta bisa tercipta?

Sejalan dengan itu, aku menyadari, bahwa kamu bukanlah orang biasa. Kamu penuh prestasi baik dibidang akademik maupun organisasi. Banyak yang mengagumimu dan tak sedikit pula yang menyimpan harap padamu. Betapa kenyataan itu kadang membuatku lemas dan ingin menyerah. Namun ternyata tak semudah itu. Aku tidak bisa membunuh paksa perasaanku. Hingga aku lebih memilih untuk bertahan dalam kemelut bungkam. Menikmati setiap detail perasaan penuh kesendirian serta menciptakan gelagat yang tak lebih hanya sebuah kamuflase agar aku bisa tetap profesional dihadapanmu, agar perasaan yang sesungguhnya tak nampak ke permukaan dengan cepat.

Sebab aku yakin, menjarak dari ketulusan hati yang aku genggam bukanlah sebuah kemunafikan melainkan bentuk dari menjaga privasi. Iya, aku memiliki rasa padamu dan kau tak harus buru- buru tahu. Biarkan semua ini tetap menjadi rahasiaku. Biarkan semua ini menjadi suguhan yang kenikmatannya bergetar padaku sendiri. Biarkan aku menitipkan namamu pada Tuhan hingga Ia mencukupkan hatiku nantinya. Apapun kelak yang terjadi, yang kutahu tugasku saat ini ialah tak lebih dari mensyukuri perasaan yang diberikan Tuhan, mengemasnya dalam doa, dan terus berupaya memantaskan diri sedemikian rupa…..