Entah sudah berapa lama kita tak bertatap muka. Terakhir kali masih kuingat jelas saat wajah angkuhmu merebut ruang bahagiaku. Bila sekarang kamu lihat aku bahagia, jangan salah! Wanita ini pernah menangis bersimbah maskara diwajah saat kamu memutus hubungan kita begitu saja. Karenamu aku pernah jadi gadis yang sangat menyedihkan dan seakan kehilangan harapan. Dan karenamu juga aku tahu bahwa bahagia sebetulnya aku yang harus membentuknya sendiri.

Dulu, aku berkali-kali mengetuk-ngetuk pelan dada kiriku untuk menguragi rasa nyeri saat aku mengingat kamu. Menggigit bibir menahan airmata saat ada yang bertanya kenapa kita tak lagi bersama. Menghindari pertemuan yang membawaku pada ingatan tentang kamu. Dengan susah payah kutanamkan dalam pikiran bahwa kelak aku dapat beranjak dari tempatku dulu.

Bila kini kita dipertemukan lagi aku sungguh bahagia. Kini aku bisa dengan lantang berteriak ditelingamu bahwa tentang semua yang dulu diantara kita pernah ada sudah benar-benar tak berarti apa-apa. Hanya tinggal sebuah kenangan yang tak perlu lagi aku perhitungkan. Tapi cukup selalu kujadikan pelajaran.

Aku, yang dulu selalu kamu anggap bodoh dan lugu. Aku, yang selalu kamu bohongi tentang ini itu. Aku yang selalu kamu jadikan bahan tertawaan didepan semua teman-temanmu karena bisa dengan mudahnya kamu tipu. Aku, yang selalu kamu jadikan tempat kesekian untuk kamu singgahi saat rasa jenuh menyelimuti ruang hati. Kini benar-benar sudah tak ada lagi. Bukankah kamu pada akhirnya pun mengiyakan bahwa wanita cantik dan menawan adalah mereka yang sudah jadi mantan?

Banyak sudah yang kuperbaiki setelah kamu sakiti. Penampilan, kelakuan, pola pikir, semua sudah benar-benar kubentuk menjadi lebih baik dari sebelumnya. Bukan, bukan karena ingin menarik perhatianmu lagi atau membuatmu memberi pengakuan bahwa sebetulnya aku layak kamu pertimbangkan. Tapi aku hanya sedang mempersiapkan diri untuk pria yang lebih baik darimu nanti.

Advertisement

Aku juga telah sadar bahwa cara lain menghargai diri sendiri adalah dengan tidak membiarkan hati selalu tenggelam dalam rasa sedih. Jadi menjauhlah. Karena sekarang kamu bukan seleraku lagi. Kalau dulu aku pernah bersusah payah berdiri sejajar denganmu. Mengikuti tiap langkahmu yang seakan selalu ingin jauh meninggalkan aku. Tapi kini, aku punya cara berbeda mengejar apa itu bahagia.

Dan kini kenyataan tak bisa memilikimu bukan lagi hal mengerikan yang harus aku hadapi. Perpisahan kita justru membuatku lega. Karena Sang Esa menyadarkanku tepat pada waktunya dengan cara yang tak diduga-duga. Tersenyumlah kamu hai masa laluku. Bila bukan denganku pasti Tuhan Sudah tahu siapa yang layak mendampingi kamu. Tertawalah, seperti aku yang kini bisa tertawa saat mengingat hal bodoh yang pernah kulakukan hanya demi memintamu tetap disisi.

Tak perlu menyesali apa yang pernah kamu perbuat padaku dulu. Bagimu kuucapkan banyak terimakasih. Karena sudah memberikanku kesempatan untuk bertemu dan memilih orang yang lebih baik dari dirimu. Karena dengan begitu, aku tak perlu tersesat seumur hidup dalam cinta yang salah. Karena kamu meninggalkanku, aku jadi mengerti bahwa terkadang yang paling tuluspun bisa ditampar Tuhan dengan kenyataan. Karena itu kumohon menjauhlah. Kamu pun berhak bahagia walau bukan aku lagi yang jadi alasannya.