Pertemuan tanpa sengaja kita yang membuatku jatuh sedalam ini ternyata berlanjut sampai saat ini.

Kita dua manusia dalam satu ruang dan waktu yang selalu bertukar apapun yang kita lalui tanpa jeda tanpa rasa malu dan tanpa rasa kaku. Awalnya semua hanya sebatas kata yang terucap tanpa makna yang berarti, namun lama-kelamaan menjelma menjadi sebuah misteri yang sulit dideskripsikan alurnya. Aku dengan antusiasku menyambutmu dan kamu dengan percaya dirinya datang kepadaku.

Kita menjelma menjadi sosok merpati yang akan selalu terbang bersama dengan begitu anggunnya di mana ada kamu di situlah aku juga pasti ada, kita bagai dua insan yang tak akan pernah terpisahkan sedetikpun, hebat bukan? Hari yang kita lalui begitu menarik, bahkan membuat iri setiap pasang mata yang melihat kita, bukan terlalu memamerkan kemesraan justru kita memperlihatkan kedekatan kita yang apa adanya dan begitu natural yang membuat mereka ingin seperti kita.

Banyak hal yang kita lewatkan bersama tapi yang membuatku heran kita tak pernah membicarakan apa posisi kita di sini. Semua hanya kita jalani seperti ombak yang akan selalu menerjang. Hingga suatu hari kau menghilang dari sisiku dan tak pernah menghubungiku lagi.

Aku seperti seseorang yang kehilangan sandaran, aku seperti manusia yang kehilangan arah, aku seperti orang yang tak mempunyai tujuan, aku sakit hati sedalam ini namun tak sedikitpun kau menengok dan memberiku kabar. Hingga suatu malam ku beranikan diri untuk menghubungimu.

Advertisement

Kau tau apa yang ku dapat? Menyakitkan sungguh ini sudah di luar batas manusiawi kau bersikap begitu dingin seolah aku dan kamu tak pernah mengenal sebelumnya. Oh Tuhan, saat itu seakan dunia serasa berhenti. Ku kuatkan diri untuk menghapus segala hal tentang hidupmu dan ku simpulkan sendiri bahwa kau adalah sosok jahat yang tak akan pernah lagi kutemui walaupun di kehidupan kedua.

Ku simpulkan sendiri bahwa kau sudah memiliki seorang kekasih di luar sana yang jauh lebih baik dari aku. Ku lapangkan hatiku menerima itu semua, ku kuatkan hatiku dengan keputusan terberat ini. Toh semua juga sudah terjadi. Kuyakinkan hati ini untuk terus melangkah mencari pengganti dirimu yang tidak akan sejahat sikapmu.