Hei kau, tahukah kau, kau seperti layangan yang benangnya sedang ku genggam, tapi setelah itu ada angin kencang yang berhembus. Sehingga membuat ku ingin melepaskanmu. Sebelumnya ku coba bertahan, aku coba menggenggammu lebih erat dari sebelumnya, aku takkan membiarkan angin kencang itu merebutmu dariku begitu saja.

Genggam, genggam, dan terus ku genggam, entah beberapa kali ku berusaha. Tapi tiba-tiba ku lihat ke atas ada sesuatu yang berusaha melepaskan diri, iya itu kau. Karena angin kencang yang berhembus itu , kau malah melepaskan diri , kau masih ku kenggam , tapi tidak seluruhnya, setengahpun tak sampai.

Hei kau, tahukah kau bagaimana susahnya agar kau tetap ku genggam ? selama ini kenyataan terus menyadarkan ku akan semua itu , tapi ku pikir “ah apalah artinya , bisa jadi itu hanya sebuah fatamorgana yang datang mericuh” tapi aku salah. Aku salah. Tak peduli apa yang kulakukan , kau tetap berniat untuk menjadi terlepas dan bebas. Itukah yang kau inginkan selama ini? apakah genggaman ku terlalu kuat hingga membuat mu tak nyaman? maafkan aku atas ketidaknyamanan mu itu.

Beberapa saat terakhir ini aku berjuang sendirian, di hempaskan oleh angin kencang pun aku tetap berjuang sendirian. Harusnya aku sadar bahwa hanya aku lah yang berjuang. Dan bagaimana dengan mu? ketika ku lengah dan lelah sedikit saja , kau malah mengambil kesempatan itu untuk segera lepas. Mengapa tak kau katakan dari awal, bahwa kau tak ingin ku genggam? mengapa saat aku sudah merasa bahagia melihatmu di atas sana, malah kau ingin ku lepas genggaman ini?

Layangan itu pergi semakin jauh , meninggalkan sebagian benang yang masih ku genggam erat. Dia semakin jauh, semakin tinggi, dan semakin tak terjangkau. Haruskah ku kejar? haruskah ku berlari menembus angin kencang dan merebut mu kembali? mungkin tak perlu. Aku terlalu lelah. Terlalu lelah berjuang, terlalu lelah menggenggam dan terlalu lelah di hempas.

Advertisement

Inilah saat yang kau tunggu. Inilah saat dimana aku tak punya harapan lagi, dan kau bisa pergi, kau bisa melihat yang lain. Sekarang aku siap melepaskan sebagian benang itu. Tak ada gunanya menggenggam benang tanpa layangan. Sungguh, aku telah lelah dalam permainan layanganmu ini.

Pergilah, aku siap melepaskan mu!