Mengerti kapan harus berhenti. Frasa ini membuatku harus kembali masuk dalam dunia nyata. Ketika mimpi tak lagi sesuai dengan ekspektasi. Ada beberapa kenangan yang mengubah segalanya menjadi genangan. Aku pun mengerti tak mungkin ku menunggu selamanya. Aku harus berbalik arah dan sadarku pun membawaku masuk dalam dunia baru.

Dia yang sudah lama kukenal. Bukan. Bukan dia yang mencoba memasuki dunia yang baru saja kucipta. Tapi, aku yang memperkenalkan diriku. Sebagai pemuja rahasianya dulu. Kini masih dengan diam. Tapi, sangat munafik kukatakan itu padanya disaat hatiku perih. Itu sama saja dengan menjadikannya orang lain untuk menjadi taman bermainku.

Kutanamkan kepercayaan membuka gerbang. Kutanamkan kehidupanku untuk lanjut bersama hati yang baru. Ya, aku tahu aku baru saja berlumuran perih saat ini. Keyakinanku yang mengiringnya masuk dan mulai menari-nari asmara. Hidup harus berlanjut. Satu maupun dua hari saja tidak bisa kita sangsikan keajaibannya.

Aku percaya Semesta selalu mempunyai cara yang unik dalam menuliskan kisah. Kini satelitlah cara kita berbagi cerita dan saling mengumbar kata kasih. Andai kedatanganmu sesegera mungkin dapat kurasakan. Ya, kehadiranmu mungkin akan aku tunggu setelah dengan rendah hati kau masuk dan menjamah pagar yang sudah menua itu.

Hai, lelaki yang selalu kusambut dengan satelit. Selamat datang!