“Selamat pagi, kamu.”


Ya, adalah ucapan yang sering kau buat-buat untuk menarik perhatianku. Aku selalu mengingat awal kedekatan kita yang lucu itu, bagaimana denganmu? Meski itu tak sejelas dulu, kenangan itu masih saja tersimpan di ujung benakku. Masih ada sedikit dari pengharapanku untukmu mau menyisakan sedikit ruang hatimu untuk mengenangku.

Untukmu yang dulu memberi tenang dan kini hanya sebatas kenang. Aku selalu bertanya-tanya perihal kabarmu. Namun, kini aku berusaha untuk tidak mengacau hidupmu. Kau nampak bahagia tanpaku. Bahkan, hidupmu terlihat lebih sempurna dengan wanita pilihanmu setelah aku. Tak mengapa, aku turut berbahagia. Di belahan bumi di mana aku berpijak, aku selalu berharap kau selalu baik-baik saja.

Aku hanya ingin sedikit mengetahui tentang dirimu. Perihal rinduku yang menggebu, dan kau memilih acuh padaku. Perihal lara dalam dada dan kau memilih untuk tidak menjelaskannya. Mengenai hadirmu kemudian pergi semaumu. Tentang jawaban-jawaban mengapa kau memilih berlalu meninggalkanku. Mengenai penjelasan mengapa dengan mudah kau melepaskanku, tanpa menahanku terlebih dahulu. Bolehkah? Jujur, aku lelah menerka mengenai hal yang masih saja mengganjal dada. Dalam rentang waktu yang lama, aku belum juga mendapat jawabannya.

Hai, kamu. Apakah masih mengingatku? Seorang wanita yang pernah berusaha sepenuh hati untuk membuatmu bahagia. Mengenai wanita yang penuh dengan ego untuk mempertahankanmu. Tiada peduli dengan dirinya sendiri. Bagaimana dengan dia, wanita pilihanmu? Apakah dia memperlakukan dirimu seperti aku, yang selalu berusaha mampu untuk memahamimu? Maafkan aku yang selalu gagal dalam hal mengerti tentangmu. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk menyerah dengan sikapmu.

Advertisement

Hai, masa lalu. Apakah kau masih mengingat kapan terakhir kita bertemu? Sampai saat ini, aku masih saja mengenangnya. Terbilang tiga tahun yang lalu. Dengan tatap sayu darimu, kau memintaku untuk kembali kepadamu. Mataku dipenuhi air mata kala itu. Aku memberimu percaya bahwa kesempatan kedua itu sebenarnya ada. Namun, kau memilih untuk tidak memedulikannya.

Lagi, pertanyaan mengenai dirimu saat ini. Apakah kau masih sama seperti dulu saat aku mengenalmu? Masihkah kau menjadi sosok romantis saat kau bersamaku? Yang tiba-tiba memberiku bunga, yang tiba-tiba membuatkanku puisi cinta. Apakah masalah tentang pernapasanmu itu masih mengganggumu? Bagaimana dengan berat badanmu? Ah ya, aku yang dulu terlampau sering meyakinkanmu jika kau masih nampak tampan apa adanya, dan kau bersikekeuh tak percaya.

Karena hujan dan senja masih saja menyimpan kenang perihal dirimu. Entahlah, mengapa dua waktu itu kini membuat kesedihan datang menemuiku. Seakan-akan semua hal yang ku lalui bersamamu muncul tanpa permisi, mengiris hati. Lagu yang pernah kau nyanyikan, lagu yang menjelaskan tentang kita, kemudian lagu tentang patah hati mengiringi waktuku mengenangmu. Seakan bayang senyummu memenuhi penjuru otakku. Menyenangkan sekaligus menyesakkan. Pedih karena hatiku terlampau sedih.

Tanpa ucapan selamat tinggal kau pergi melenggang, pergi dengan tega. Merasa menang atas perasaanmu tanpa peduli mengenai diriku. Terima kasih pernah hadir dalam hidupku, menjadi bagian dari cerita cintaku. Terima kasih telah membuatku jatuh dan cinta. Hingga akhirnya kau memutuskan untuk menancapkan luka dengan tega. Jauh dari lubuk hatiku, aku merindumu. Jika diberi kesempatan untuk bertemu denganmu, sebatas satu menit dalam hidupku. Ingin sekali ku katakan bahwa aku telah menemukan penggantimu. Yang dengan sabar menuntunku dari jatuhku. Aku ingin kamu memahami bahwa aku sangat baik-baik saja. Setelah itu, berkata di depanmu perihal,


“Aku telah melupa pernah terluka.”