Aku tahu ini berat, tapi memilih pergi adalah pilihan yang sudah aku fikirkan matang-matang. Dulu aku selalu percaya, bahwa kau akan berubah. Tapi entahlah, sekarang kepercayaan itu hilang tak meninggalkan jejaknya. Sedari awal perjalananku untuk mencintaimu memang penuh liku. Mulai dari dia, perempuan masa lalumu yang sampai sekarang terus menjadi bayang-bayang gelap kita. Aku ingat betul bagaimana hebatnya rasa sakitku saat mengetahuimu sedang mengantarnya ke Jogja, bagaimana besarnya rasa kecewaku saat kau menemuinya tengah malam di Solo, dan bodohnya saat itu aku mengabaikan rasa sakit dan kecewaku.

Mulai dari dia, perempuan masa lalumu yang sampai sekarang terus menjadi bayang-bayang gelap kita

Awalnya aku mencoba memaafkan. Ah sudahlah, toh dia sudah bersuami, fikirku. Sekian waktu aku kembali berjalan, seperti tidak ada sakit hati yang pernah ku alami. Aku percaya aku bisa. Tapi ternyata tidak. Sakit itu justru semakin membayangi langkahku untuk terus bertahan denganmu. Aku sering uring-urigan tak jelas saat mengingatnya, lalu memperlakukanmu seenakku. Aku mengerti, perjuanganmu untuk menghapus semua kesalahanmu pantas aku hargai. Sering sekali, tengah malam engkau menempuh perjalanan Solo – Semarang untuk sekedar minta maaf, banya hal pula yang sudah engkau korbankan untuk mempetahankanku, mungkin perkerjaan hanya salah satunya. Tapi toh semua itu tak bisa membuat rasaku kembali, kembali utuh seperti semula. Semakin hari rasa itu justru semakin hilang.

Tapi toh semua itu tak bisa membuat rasaku kembali, kembali utuh seperti semula.

Semakin kesini semakin tak tersisa. Hanya gundukan rasa kecewa yang justru tak mau pergi. Setiap hati punya batas kemampuannya masing-masing. Dia akan mundur tanpa diatur, akan menyerah tanpa diperintah. Aku berfikir berkali-kali saat memutuskan untuk pergi. Aku mengingat kembali semua perjalanan yang sudah membawa kita sejauh ini. Aku juga tidak tahu harus mengatakan apa pada ibu yang selama ini sudah sangat percaya padamu. Tapi ini soal hati, aku tidak bisa memaksanya bertahan dalam kesakitan.

Advertisement

ini soal hati, aku tidak bisa memaksanya bertahan dalam kesakitan.

Aku mempersiapkannya matang-matang agar kerpergianku tak meninggalkan luka di hatimu. Pelan-pelan aku mulai membatasi komunikasi, melangkah mundur tanpa kau sadari. Dan kini aku melihat engkaupun sudah siap. Engkau tak lagi menghubungiku jika aku tak lebih dulu menghubungimu, tak ada lagi rasa rindu yang dulu sering kau ucap, tak ada lagi permintaan bertemu untuk sekedar saling menatap. Ya, sekarang adalah waktunya aku mengucapkan selamat tinggal. Jika esok kau temukan penggantiku, aku akan berdoa untuk kebahagiaan kalian. Terima kasih telah menguji hatiku berkali-kali, sudah menghancurkannya lalu manyatukannya kembali. Sekarang hati itu sudah rapuh, dan aku butuh waktu yang tak sebentar untuk membuatnya kembali utuh. Selamat tinggal.

Sekarang hati itu sudah rapuh, dan aku butuh waktu yang tak sebentar untuk membuatnya kembali utuh