Kesekian waktu yang datang terus membawaku dalam dalamnya lamunan. Seketika terkadang terhenyak, saat aku sadari bayangmu semakin hilang dalam lamunan. Tak terasa waktu ini terkesan sangat singkat. Hingga bayang bayang itu kini tak mampu lagi berlabuh dalam ingatan.

Sudah sekian lama sejak langkahmu berayun jauh. Ketika parasmu datang untuk mengucap janji terakhir kali. Kesepian ini semakin merenggut hari hariku yang awalnya telah ku tata rapi. Sekilas terkadang melihatmu dalam kejauhan, tapi bukan. Itu bukan lagi kamu, disana. Bukan.

Kekosongan ini sudah ku prediksi, namun aku akhirnya mengerti.

Langkahmu semakin dapat ku baca dengan jelas. Ketika jarak dan pertemuan tak kunjung engkau tentukan dengan tegas. Jelas itu mengundang tanda tanya keras di kepala.

Dulu masih sering kau otak atik jadwal padatmu, di sela waktumu sebisa mungkin kau hubungi aku. Namun entah, apa mungkin sudah tak tersisa jeda sejenak untuk mengusir rinduku atas dirimu, sampai ponselmu betah kau diamkan seharian.

Advertisement

Aku tak ingin berburuk sangka tentang apapun yang ada. Hanya saja dulu engkau telah memilih aku sebagai ‘My Love’ di kontak telfonmu. Aku tak tahu apa sekarang masih sama seperti sediakala. Apakah mungkin itu masih tertulis jelas dalam hatimu yang kini malas, atau sudah kau hilangkan hingga tak berbekas. Aku tak pernah tahu sekarang. Namun aku cukup ragu, maaf.

Alih alih aku berusaha percaya, namun berita miring hinggap di dasar telinga.

Setelah pertemuan singkat malam minggu itu. Seketika aku berpikir salah, bahwa sekarang yang ada dihadap mata, engkau berjuang menuntut harimu bergelut separuh waktu demi masa depanmu. Aku salah besar, pemikiran kekosongan waktu akan hadirmu itu ternyata hanya egoku semata. Aku mengaku salah. Aku tahu ponselmu akan bergerak sangat malas saat kau bergerak mengejar cita cita yang dari dulu ingin kau raih.

Kepercayaan itu membuatku nyaman. Tapi akhir akhir ini ku dengar kabar miring tentang keberadaanmu disana. Lewat sepasang fotomu dengan rekan kerja yang kau bilang itu hanya ‘rekan biasa’. Aku mengetahuinya via sahabat.

Sahabat tak akan pernah rela, jika sahabatnya disakiti. Entah kesakitan itu tak terlihat olehmu yang kini asyik bercanda ria dengan rekan kerja biasamu itu. Aku masih saja ragu akan opini sahabatku sendiri. Sudah berulang kali ku mengelak batinku namun apa mau dikata. Beberapa fotomu diruang kerja, itu amat jelas bahwa kau dengannya tidak lagi biasa seperti yang engkau janjikan.

Aku masih malas mendengarnya. Namun setelah berhari hari ku hela nafas panjang. Mungkin itu sebabmu melupakan diriku yang rindu akan kabarmu. Cukup.

Akan mulai aku tata lagi memori kecil yang hilang, setelah menyadari alasan akurat yang mampu mematahkan opiniku sendiri. Memori kecil dan ingatan lama yang menyadarkan mata hatiku. Memori akan sahabat yang hilang termakan asmara, hingga hati ini nyatanya juga bersandar lagi kepadanya. Katanya aku terlalu baik untuk kau sakiti. Dalam batin ku yang sekarang ada, hanya perasaan yang makin membabi buta. Aku lelah mendengarnya.

Akan ada hari lain ke depan, semoga sudah tak begitu menyakitkan.

Keputusan memang amat berat ku terima. Namun ini bukanlah akhir segalanya. Masih akan ada cerita di lain hari tentang kita. Mungkin masih terasa janggal dirasa. Tapi nantinya kau juga akan terbiasa.

Separuh waktu yang dulu aku gunakan hanya untuk menunggu, kini itu menjadi saksi ketegaranku. Memposting gambar dengan serantai sahabat riang adalah kebiasaan lama yang ku anggap baru. Ber-selfie dan sampai tak tahu waktu, kini mungkin jadi rutinitas awal setelah kepergianmu untuk membuka memori kecil yang dulu hilang.

Jika kau tanya aku masih rindu, maka jawabnya adalah YA. Yap benar saja aku masih merindukan senyum kecilmu. Bukan tanpa alasan aku masih seperti ini, ibarat aku yang terbiasa melihat waktu pada jam tangan di pergelangan kiri namun sekarang jam itu telah berganti tangan.

Memang sudah ku putuskan untuk membuka lembaran baru, menutup lembaran lama dengan halaman yang kini sudah berganti nama. Tapi apalah daya jika hati ini masih tertinggal disana, terpaku di jeda halaman dan lembaran lama.

Untukmu yang kini melepas seikat hari dan menjauh.

Cukup dalam batin ku berkata. Sekilas memori usang itu akan segera pergi. Walau aku sendiri tak tahu kepergian itu seberapa lama. Seberapa jauh. Namun menjauhlah selagi engkau bisa, hingga tak ada lagi makna yang tertinggal dan terselip di dalam raga.

Mungkin benar katamu, takkan ada yang sia-sia pada perjumpaan kita. Aku juga tak menyesalinya. Jika memang cerita kita hanya sampai pada separuh makna maka inilah akhir dan takdir milik kita.

Selalu akan ada hal baik dari sebuah perpisahan. Percayalah, nantinya kau akan berhenti untuk mencari dan memilih bertahan.