Apa kabar wanita-wanita tangguh yang cintanya masih separuh?

Masih kuat bertahan dengan kebahagiaan semu?

Tahukah setiap orang berhak punya kebahagiaan utuh? Termasuk kamu.

Hidup. Jalannya memang tidak selalu mulus seperti sirkuit balap, yang sudah diatur sedemikian rupa agar turnamen berjalan lancar tanpa kerikil tajam. Pun kadang dalam jalan ceritanya tidak semua terjadi seperti apa yang kita inginkan. Dan hidup, kadang tidak melulu soal pilihan. Tetapi lebih kepada bagaimana cara kita menyikapi keadaan yang sudah digariskan oleh Sang Pemilik Kehidupan.

Aku akan menceritakan ini dengan bahagia. Bukan karena aku membanggakannya, hanya saja karena aku berhasil keluar dari ruangan sempit yang menyesakkan hati itu dengan lega. Juga baik–baik saja. Tidak seburuk apa yang pernah dibayangkan sebelumnya. Tidak, sungguh tidak seburuk itu.

Biarkan aku bertanya , pernahkah kamu terjebak dengan kebodohanmu dalam sebuah hubungan yang sebenarnya tidak pernah terlintas di pikiranmu?

Pernahkah kamu (tidak sengaja) mengusik –bahkan masuk- dalam hubungan orang lain?

Kamu tidak tahu kapan persisnya kamu mencoba untuk masuk, tahu-tahu kamu sudah di dalam dengan pintu yang terkunci dari luar. Dan ketika kamu terus berusaha mencari kuncinya yang hilang, setengah hatimu yang lain menginginkanmu untuk tetap tinggal.

Advertisement

Cinta, bagaimanapun filosofinya ia tak pernah salah. Semua terjadi tidak seperti apa yang kamu bayangkan di awal. Jangankan untuk serius, bahkan sedikitpun kamu tidak berniat masuk ke dalam hubungan mereka. Hanya saja seringnya 'tertawa bersama dan sekedar jalan' adalah kesalahan yang terlambat disadari. Dan konsekuensinya adalah rasa nyaman yang datang menyerobot tanpa permisi.

“Nyaman”

Lagi-lagi kata magis itu berhasil menggeser banyak hal dan menjungkir balik akal. Yang tampan, mapan, dermawan, bahkan kenyataan jika itu kekasih orang juga bisa diabaikan karna rasa nyaman.

Dan kebodohan terbesar adalah, merasa nyaman dengan kekasih orang.

Aku yakin saat itu kamu pasti merutuk waktu. Sesekali mulai menyalahkan kebodohanmu sendiri yang terlambat untuk menyadari dari awal bahwa ini semua salah dan tidak untuk diteruskan –apalagi diharapkan-. Sedangkan waktu, dia seolah sedang mengolokmu dengan menempatkanmu di belakang. Iya, mengapa bukan kamu yang lebih dulu dipertemukan dengan dia? Ah sudahlah, jangan menyalahkan banyak hal.

Aku tidak akan menghakimi siapapun atas apapun. Ku harap kalian juga jangan. Aku tidak pernah membenarkan perihal orang ketiga, tapi aku juga tidak berniat menghakiminya. Kalian tidak tahu bukan seperti apa rasanya, bagaimana orang ketiga sekuat tenaga menjaga hati kekasih lelakinya agar tidak tersakiti dan semua tetap baik-baik saja. Aku tidak memaksa kalian untuk berada di pihakku. Karna bagaimanapun filosofinya, orang ketiga tetap yang paling disalahkan dalam sebuah hubungan. Aku hanya pernah menjadi bagian di dalamnya, dan aku sangat paham seperti apa rasanya.

Saat perasaan nyaman itu sudah bermetamorfosa menjadi apa yang disebut ‘cinta’, saat itulah kamu juga mulai menghitung berapa banyak luka yang akan terus bertambah. Kemudian ada satu pertanyaan besar yang datang,

“Apakah aku tidak pantas mendapatkan kebahagiaan utuh dari cinta yang utuh?”

Bagaimana tidak, apa kamu yakin cinta semu yang kamu gadang-gadang memberikan kenyamanan itu akan menjadi utuh? Apa kamu akan tetap mempertahankan kenyamanan di atas egomu sendiri? Atau apa kamu sudah siap dengan konsep berbagi hati?

Aku yakin kenyamanan yang pada awalnya kamu elu-elukan, lambat laun akan berubah dengan banyak ketidak nyamanan yang kamu dapatkan. Bagaimana kamu bisa nyaman saat bayangan kekasih lelakimu menyembul di antara kedua matanya saat sedang menatapmu?

Apa kamu masih merasa nyaman dengan telepon yang terus berdering saat tanganmu menggelayut manja di lengannya dan kepalamu sedang bersandar mesra di pundaknya? Bisakah?

Aku bertaruh rasanya pasti tidak nyaman. Belum lagi bagaimana naluri alamiahmu sebagai seorang wanita yang sering muncul “Bagaimana jika aku diposisi kekasihnya?”.

Lalu, apa yang harus dilakukan? Apa sudah terlambat untuk pergi meninggalkan?

Kamu percaya jodoh? Ya, jodoh, takdir, semua sudah diatur oleh Sang Maha Sutradara. Tidak perlu risau. Jika memang dia orang yang tepat untukmu dan Allah merestuinya menjadi jodohmu, kelak kamu dan dia pasti dipertemukan lagi dengan cara yang baik dan di waktu yang tepat. Dan jika dia memang benar-benar bukan untukmu, percayalah bahwa Allah tidak akan mengganti yang baik kecuali dengan yang lebih baik.

Kebahagiaan kita itu ada ditangan kita, kita sendiri yang bisa menciptakannya.

Apa kamu akan tetap memilih bertahan dengan kebahagiaan semu, atau pergi –dan mulai menata diri- agar mendapatkan kebahagiaan hakiki dan utuh?

Dan aku, memilih untuk pergi.

Aku ingin menyudahi keadaan salah kaprah ini pada akhirnya. Lagi pula untuk apa mempertahankan cinta semu yang hanya menimbulkan polemik dan drama. Sampai kapan kita akan terus bertahan sebagai siluet menyedihkan di balik punggung kekasihnya? Lebih baik pergi, mulai menata hati lalu membenahi diri.

Jangan menganggapku naïf. Kamu pikir mudah untuk pergi begitu saja? Sejujurnya, awalnya memang sulit. Bagaimana bisa kamu harus tiba-tiba meninggalkan orang yang kamu cintai di saat dia juga mencintamu? Seperti kamu harus melawan perasaanmu sendiri dan itu tidak mudah. Kenyataan karena sudah terbiasa bersama, tidak ada yang sangat mengertiku seperti dia, juga bagaimana tertawa lepas dan benar-benar menjadi diri sendiri tampak nyata saat bersamanya, hanya semakin memperparah luka. Tapi percayalah, pada akhirnya semua akan terasa lebih mudah.

"Apa tidak ada jalan lain selain pergi?"

“TIDAK ADA".

Tolong jangan memutuskan untuk merusak hubungan mereka. Jangan pula memaksa dia untuk meninggalkan kekasihnya sekarang demi memilihmu. Apalagi merasa bangga saat ternyata hubungan mereka berakhir karena kehadiranmu. Hanya karna belum ada janur kuning melengkung, kamu anggap semua ini wajar-wajar saja. Berhentilah menjunjung egomu setinggi itu!

"Lalu bagaimana jalan untuk keluar? Dengan berusaha melupakannya?"

"BUKAN!"

Pada dasarnya otak manusia adalah processor yang maha dahsyat. Jadi mustahil untuk menghilangkan data-data berharga yang tersimpan di dalamnya. Lebih baik yang perlu dilakukan adalah menerima, kemudian mengikhlaskan.

Bagaimana usaha kita untuk menerima keadaan? Coba buka mata lebih lebar, ada wanita lain dengan perasaan tulus –sama seperti kita- sudah lebih dulu mencintainya. Kamu hanya perlu mengikhlaskannya, bukankah memang wanita itu yang lebih dulu bersamanya?

Jangan terburu-buru mencari lelaki lain (yang tepat) untuk bisa menyembuhkan lukamu, lebih baik mulai belajar menjadi pribadi yang tepat untuk ditemukan lelaki yang tepat. Perbanyaklah bermunajat kepada yang Maha Membolak-balikkan Hati. Percayakan semua kepada-Nya. Istikharahkan pada sepertiga malammu dan mintalah, semoga dimudahkan atasmu dalam memilih sebuah pilihan yang terbaik.

Tidak ada yang perlu disesalkan atau disalahkan. Justru bersyukurlah, karena sekali lagi perjalanan hidup memberikanmu bingkisan sebuah pembelajaran berharga untuk proses memantaskan diri.

Berterimakasihlah dengan patah hati, karena lagi-lagi dia membuatmu bangkit dan mengajarkanmu untuk menjadi lebih baik.

Tidak ada kata terlambat untuk menata diri.

Sekarang, mulailah menyibukkan diri dengan kegiatan-kegiatan positif juga mengasah potensi yang kamu miliki. Tunjukkan bahwa kamu pantas dicintai utuh bahkan untuk lelaki terbaik sekalipun. Jangan lupa membenahi akhlakmu untuk menjadi lebih sholehah sehingga Allah pun akan menjodohkanmu dengan lelaki yang sholeh. Karna sebaik-baiknya akhlak wanita untuk lelaki yang baik dan begitu pula sebaliknya. Dekatkan diri kepada Rabbmu, rangkullah segala yang diperintahkannya.

Dan yang tak kalah penting, cobalah untuk membuka hati. Menunggu bukan berarti berhenti mencari. Tidak ada yang terlalu cepat atau terlalu lambat, karena Allah selalu memberi kebahagiaan di waktu yang tepat. dan ketika kamu nanti sudah berada di tahap ini, kamu akan mensyukuri keputusanmu untuk pergi. Bahkan akan ada perasaan lega luar biasa yang menghampiri.

Kini semua ada di tanganmu. Jika kamu menganggap semua yang kukatakan ini hanya sebuah teori dan nihil untuk dilakukan, itu tidak masalah. Aku tidak memintamu untuk mempercayainya, pun tidak memaksamu untuk mengikuti semua saranku. Aku sangat menghargai apapun pilihan orang atas hidupnya. Hanya saja, coba renungkan. Bukankah tidak ada yang percuma dengan mencoba memantaskan diri agar mendapatkankan yang lebih pantas?

Jadi, bagaimana sekarang? Apa kamu masih tetap bersikukuh bahwa dia memang yang terbaik untukmu dan memilih tetap tinggal? Tidakkah itu berarti sama saja kamu tidak percaya pada rencana Tuhan? Sekali lagi ku katakan, jika memang dia ditakdirkan untukmu, nanti kalian pasti dipertemukan kembali, kemudian disatukan dengan cinta utuh dan cara yang indah.

Dan d isinilah aku sekarang. Sudah merasa jauh lebih baik dengan dicintai utuh oleh lelaki yang semoga memang ditakdirkan Tuhan untuk menjadi sebaik-baiknya imamku. Lelaki yang mampu membuatku jatuh cinta berkali-kali, yang (masih) satu-satunya paling mengerti kurang dan lebihku dan mencintaiku tanpa tapi.

Dan bahkan sekarangpun aku masih terus belajar untuk memantaskan diri. Tetap memperbaiki akhlak dengan semakin mendekatkan diri pada-Nya. Aku dan dia juga terus belajar untuk sama-sama mendewasakan diri agar hubungan ini bisa menuju kebahagiaan yang hakiki.

Lalu kamu sendiri, apa kabar ?