Hei kau, yang kini memilih pergi dariku sebelum aku mengucapkan sepatah kata apapun.

Hei kau, yang dengan tenang dan tanpa rasa bersalah pergi dan meninggalkan semua kenanganmu.

Hei kau, yang kini sudah mendapatkannya sebagai penggantiku, apakah dia lebih baik dariku ? apakah dia lebih peduli terhadapmu ? apakah kau juga lebih bahagia dengannya ?

Sejujurnya aku tak ingin kau temukan seseorang yang lebih baik dariku untuk kau jadikan sebagai penggantiku, ku harap seperti itu. Apa aku egois ? ku rasa memang benar, tapi siapa peduli toh kamu juga sudah benar2 pergi.

Saat ini aku hanya bisa menikmati kenangan yang kau tinggalkan sendiri, kenangan yang dulu sempat ku harapkan untuk kita ingat bersama, kenangan yang akhir-akhir ini sempat membuatku menjatuhkan air mata.

Advertisement

Apakah aku yang membuatmu pergi? aku sempat menyesal tentang itu, tapi aku bisa apa jika kau juga sudah tak memiliki alasan untuk tetap tinggal.

Sejatinya aku menyesali perbuatanku yang sempat mengabaikanmu beberapa kali, membiarkanmu menghapus air matamamu sendiri, membuatmu merasa bahwa kehadiranmu tidaklah begitu penting dalam hidupku. Sepertinya aku sadar pernah melakukan semua hal itu tapi entahlah apa karna aku yang terlalu keras untuk memahami semuanya pada waktu itu jika saat itu kau pernah berfikir aku adalah wanita yang berhati sekeras batu aku akan membenarkanmu.

Hei kau.. lalu mengapa aku membiarkanmu masuk begitu saja pada hidupku lewat pertemuan tak sengaja di siang itu, entahlahh. Jika aku juga tahu kalau kau akan pergi secepat ini, mungkin aku akan menutup pintu bahkan sangat rapat tak akan membiarkanmu bisa memasukinya. Karena itulah hidup tidak ada satupun manusia yang tahu apa yang akan terjadi setelah ini,

Kau yang mendatangiku lebih dulu dan mengapa pula kau yang meninggalkanku lebih dulu juga ? kau tak perlu menjawabnya sebab kini sudah ku temukan sedikit jawaban dari pertanyaanku sendiri.

Meskipun bagimu aku tidak cukup baik untuk kau pertahankan, namun perlu kau tahu kaulah orang pertama yang membuatku merasa ingin bersama sedikit lebih lama.

Seharusnya juga kau tau kalau kau adalah orang pertama juga yang membuatku tahu seperti apa rasanya menyayangi seseorang tanpa ingin seseorang itu pergi dari sisinya bahkan untuk waktu yang singkat.

Darimu juga aku sepertinya mendapat pelajaran bagaimana kita harus memperlakukan seseorang yang saat ini berada di sisi kita dengan baik, dan tidak membuatnya sering kecewa hingga akhirnya membuat seseorang itu benar-benar pergi.

Sayangnya aku baru benar-benar sadar akan semua itu setelah kau perlahan menjauh lalu pergi begitu saja.

Apakah aku perlu berterima kasih padamu untuk hal menyedihkan yang kemudian membuatku mendapatkan sebuah pelajaran? akan ku tanyakan pada diriku sendiri.

Sekarang mungkin kau sudah menghapus semua memori tentang diriku, membiarkannya hilang bersama memori yang kini sedang kau buat bersamanya, atau bahkan menganggap tak pernah ada ? terserahlah, saat ini pun aku tidak berharap apapun lagi ketika ku tau kau telah menemukannya.

Aku masih bisa mengingatnya sendiri tanpa sedikitpun bantuan darimu. Walaupun ku tahu itu sedikit menyakitkan.

Untuknya yang saat ini di sisimu, ku ucapkan selamat padanya.

Terimakasih sudah sempat memberi sedikit warna pada kanvas putihku.

Dariku yang pernah kau buat tersenyum.