Menikmati awal perkenalan denganmu, semua terasa renyah. Perkenalan yang kita lakukan tak lebih dari sekedar keyakinan hanya untuk berteman. Apapun yang kita bincangkan seolah membuat kita mampu terbahak. kita saling memperlihatkan kebahagian. Tidak ada kata sibuk dalam perkenalan kita. Kamu mampu meluangkan waktu meski aku tahu pekerjaanmu menumpuk.

Lambat laun kita semakin dekat, seolah kita selalu menyediakan ruang untuk rindu menyelinap padahal kita tak pernah putus kontak. Kedekatan kita seolah menjadi candu, tak ada notifikasi dari kamu dipagi hari sudah membuatku kalut.

Kita terlalu asik dengan hubungan yang kita buat sangat nyaman. Nyaman ini membuat kita lupa jika hanya sekedar teman. Semua yang kulakukan seolah wajib untuk kulaporkan dan menjadi bahan pembicaraan, meski jelas kita telah melabeli hubungan ini hanya "Pertemanan".

Hingga akhirnya aku merasa "Kita" mulai beda. Seperti ada getar tak bersuara. Ada yang tak beres dengan hati ini. Semua seakan mulai berwarna. Ada rindu yang seakan harus tersampaikan dengan mendengar suaramu. Aku anggap kamu pun begitu.

Namun, sejak nyaman itu kita rasakan. Entah di hari ke berapa, mengapa aku tak merasa kita dekat. Perlahan semua pudar, warna yang kau toreh berubah menjadi hitam pekat tak paham apa yang telah aku perbuat kamu seolah membuat jarak. Seperti ada sekat yang membuat kita tak saling terpikat.

Advertisement

Mungkin ada alasan yang tak terbaca, yang membuat kamu ingin angkat kaki dengan segera. Bisakah kamu jelaskan mengapa secepat itu kau memilih beranjak. Jika kamu memang butuh spasi, ku mohon jangan terlalu jauh, karna itu akan merusak kalimat dan cerita tak lagi terbaca jelas.

Tapi kini, aku izinkan kamu pergi. Agar kamu temukan nyaman kembali mungkin bukan denganku, namun dengan orang baru yang lebih pasti. Aku tak kan menahan, semoga kamu berbahagia. "Punggung"

Karena kita seolah sedang melepaskan perlahan-lahan yang tak pernah tergenggam.