Hari ini aku menyandarkan perasaanku di palung hati yang terluka. Kubiarkan perasaan ini bersandar bimbang di atas luka yang tengah menganga. Meskipun angin kekecewaan terus berhembus dan mengombangambingkan perasaanku, aku tetap menyandarkan perasaanku di sana.

Kadang hanya perih yang terasa ketika perasaan ini bergesekan dengan waktu yang terus berputar. Tapi aku harus tetap menikmatinya sendiri dan aku biarkan saja jiwaku menikmati kepahitan ini. Kenyataan memang tak semanis yang aku inginkan dan mungkin tak sepahit yang aku bayangkan. Mungkin dunia sedang menertawakan aku, menertawakan perasaanku dan menertawakan CINTA terhebat yang kupunya, CINTA yang begitu kubanggakan pada dunia, CINTA yang meluluhlantakkan Hatiku, CINTA yang membuatku lebih memilih untuk meleburkan semua rasa yang pernah bersemayam di hati mengalir bersama waktu yang terus saja berjalan dengan atau tanpa persetujuanku.

Aku tersenyum tapi hatiku menangis, Aku tertawa tapi hatiku sepertinya teriris-iris, Aku ingin berlari tapi kenyataan menyadarkanku kehidupan ini untuk dijalani bukan untuk dihindari. Perasaan ini memang masih perasaanku dan memang masih milikku, tapi aneh sekali jika aku masih menyandarkannya di sini, di tempat yang sebenarnya sudah tak dapat lagi kusandarkan. Mungkinkah aku masih menggantungkan sepotong Asa pada DUNIAKU????? kadang aku bertanya pada diriku sendiri, mengapa waktu tak dapat berputar ke belakang dan harus terus berputar searah jarum jam? seandainya saja waktu mampu berputar ke belakang, mungkin aku bisa hati-hati menjaga hatiku.

Aku terlalu lama bersandar di sini, tenggelam bersama kekcewaan dalam samudera luka yang membuatku merasa duniaku telah redup. Sementara itu waktu terus berputar dan aku harus tetap bergerak maju bersama jarum jam kehidupan yang terus berdetak. Aku harus tetap maju, bergerak menatap dunia dari lensa yang berselimutkan luka. Biar saja sungai waktu ini membawa semua luka di dada berlayar hingga tiba waktunya ia hanyut bersama keadaan yang sedang menggerogoti dunia.