Hari itu hari yang sangat bersejarah untuk kita, karena engkau berjanji mencintaiku apapun yang terjadi. Kau tak ragu menemui kedua orang tuaku dan menyatakan keseriusanmu. Walaupun saat itu kau masih datang seorang diri, namun kau berjanji akan datang bersama keluarga besar secepatnya ketika waktu mengizinkan, meskipun aku tak tahu kapan waktunya itu.

Yang aku ingat setelah kau menyeselaikan kuliahmu dan memiliki pekerjaan agar kehidupan kita nantinya tidak menyusahkan kedua orang tua kita masing-masing.

Seiring dengan berjalannya waktu, hubungan kita semakin erat dan saling memahami satu sama lain. Engkau selalu berusaha membuatku bahagia, selalu ada untukku, mendengarkan semua ceritaku. Lambat laun aku semakin mengagumimu dalam diam serta senyumku. Dengan adanya dirimu hidupku semakin berwarna, kita tertawa bersama, melakukan hal yang gila yaitu membuat semua orang menatap kita aneh karena kita tertawa saling lempar candaan.

Kamu memang seseorang yang humoris, itu salah satu hal yang membuat aku nyaman bersamamu.

Ternyata dalam menjalin hubungan itu tidak semuanya indah penuh canda tawa, terkadang kita juga sering selisih paham atau pendapat. Aku maunya kamu kabarin aku, pokoknya kita jangan putus komunikasi, itu pintaku. Dan itu juga kesepakatan kami. Semakin lama kita bersama, kita semakin melupakan janji-janji yang kita buat bersama. kamu mulai sibuk dengan teman-temanmu dan sering keluar malam tanpa kabar. Aku tidak melarang engkau untuk berkumpul menghabiskan waktu bersama teman-temanmu tapi kau melupakan waktumu untuk aku. Hal itu yang membuat aku marah dan berkali-kali menjelaskannya kepadamu bahwa aku tidak menyukai itu.

Advertisement

kau bilang itu bukanlah menjadi masalah, kita tidak perlu lagi memberi kabar terlalu sering, karena kita sudah lama menjalin kasih bukan seperti pertama kali saling mengenal.

Mengapa bisa seperti itu, mengapa kita tidak seperti dulu lagi, mengapa kau berubah tidak sehangat dulu? semua pertanyaanku hanya dianggapnya angin lalu, aku merasa dia sudah tidak mencintai aku lagi. Dia hanya berkata bahwa sudah habis masa untuk bersenang-senang, sekarang masanya untuk maju kedepan yang penting kan kita akan menikah aku sedang berusaha agar kita bisa menikah. Aku hanya terdiam, mencoba percaya dengan kata-katanya. Sejak dari itu, komunikasi kami semakin berkurang. Sudah sebulan dia tidak memberi kabar, aku selalu terhalang untuk memberi kabar duluan karena aku berpikir dia sedang sibuk dengan kuliahnya. Namun malam itu, tepatnya malam minggu hatiku ini sangat tidak tenang dan akhirnya timbul keberanian untuk menghubunginya. sudah tiga kali aku menghubunginya, tapi belum ada jawaban. Aku merasa kesal sekali, baiklah ini telponku yang terakhir, ucapku dalam hati. Seperti dia mengetahuinya, akhirnya dia menjawab telponku.

"Hallo, kamu lagi dimana?", tanyaku lembut.

"Aku lagi bersama teman-temanku, ada apa kamu baru telpon aku, aku kira kita sudah putus?" ucapnya santai. hatiku bergemuruh mendengar pernyataanya. Bagaimana bisa dia mengatakan itu padaku.

"Putus?? iya memang kita bertengkar hebat waktu itu, tapi apakah kamu langsung semudah itu menyangka kita putus, ucapku lirih menahan tangis.

"Aku pikir kita putus, kamu juga tidak mengabari aku selama ini. Jujur saja aku merasa hancur, temanku mencoba menghiburku dia mengajakku pergi keluar, dan tahu kah kamu, sekarang aku bukanlah laki-laki yang kamu kenal dulu. Aku masih mencintaimu tapi sekarang aku sudah menjadi laki-laki……."

"laki-laki apa? apa yang kau lakukan??." Sekarang aku sudah tidak bisa menahan air mataku lagi.

"Maafkan aku, aku pikir kita tidak akan kembali bersama lagi. Jadi untuk melupakanmu aku pergi bersama teman-temanku dan berpesta. Aku benar-benar khilaf aku sudah tidur bersama wanita lain, tapi percayalah aku sedang dalam keadaan tidak sadarkan diri. Aku hanya mengingat wajahmu ketika aku bersama wanita lain. Aku mengatakan ini karena tidak ingin membohongimu, aku tidak ingin kau mendengarnya dari orang lain. Sekarang aku kembalikan semuanya kepadamu, apakah kau masih ingin bersamaku dengan kondisiku seperti ini atau kau ingin meninggalkanku, aku sangat mengerti sekarang aku sudah tidak layak untuk mu lagi."

"Ka..mu.. pasti bohongkan, bohongkan?" tangisku semakin menjadi-jadi. Sungguh aku tak percaya dengan pengakuannya. Hatiku hancur. dadaku sesak.

"Demi Tuhanku, aku tidak bohong! tapi perlu kamu tahu aku melakukan ini karena kamu, aku ingin melupakanmu, aku sepanjang hari itu sangat sedih, temanku menghiburku kemudian mengajakku pergi." ucapnya membuat hatiku semakin hancur.

"Kesalahan yang kau perbuat mengatas namakan orang lain, seperti kau tidak punya cara untuk memperbaiki keadaan, mengapa kau tidak menghubungiku duluan, kau tahu tidak semudah itu kita berpisah. Dan sekarang kau menyalahkan aku atas kesalahanmu?" seketika hatiku menjadi kuat untuk berbicara.

"Aku sudah tidak mau berdebat, pikirkanlah jika kau masih ingin bersamaku! aku tidak ingin menjadi sebuah penyesalan untukmu dikemudian hari. Sudah ya aku mau kumpul-kumpul lagi bersama teman-temanku," Seketika ia mematikan telponnya.

Aku masih tertegun, pipiku basah air mata. Bagaimana bisa seseorang yang mengatakan mencintaiku tetapi menghabiskan malamnya bersama orang lain dengan alasan yang sangat konyol. aku tidak tahu berapa kali ia menghabiskan malamnya selama tidak memberikan kabar kepadaku. Banyak sekali pertanyaan di dalam hatiku, mengapa ia begitu tega menyalahkan aku atas kesalahannya sendiri, apakah aku harus menemuinya mendengarkan semua penjelasannya? apakah hatiku akan kuat melihat dirinya yang sekarang ini.

aku benar-benar tak menyangka pergaulan membawaknya melupakan semuanya padahal teman-temannya hanya ingin menjerumuskannya saja.

Jika teman-temannya adalah orang baik-baik tidak mungkin memberikan solusi atau mengajak dia ketempat hiburan malam untuk bersenang-senang tanpa beban dan dosa. Tidak!! aku tidak bisa seperti ini menghabiskan sisa hidupku bersama ia yang mengatakan cintanya kepadaku tapi menghabiskan malamnya bersama wanita lain.

Sekarang aku mengerti, engkau hanya ingin bersenang-senang bersama teman-temanmu dan belum memikirkan masa depan kita.

Aku hanya bisa mendoakan semoga engkau di berikan hidayah dan mendapatkan teman yang bener-benar baik sekaligus memberikan dampak positif.